
Antonio mengembangkan senyumnya, setelah menerima informasi dari orang yang ia percaya. Antonio merasa bahwa dewi fortuna kini sedang berada dipihaknya.
Di sebuah ruangan bergaya clasic, tampak sebuah kaca lebar yang memperlihatkan lalu lalang kesibukan di ibukota negeri singa tersebut. Antonio berdiri, memandang jauh menelisik hiruk pikuk kota tersebut.
"Selangkah demi selangkah. Lets play the game, bro." kata Antonio menunjukkan senyum smirknya.
Pasti tak ada yang menyangka, Antonio yang dulunya terkenal humble dan humoris di kalangan teman-temannya kini berubah menjadi pria yang bengis hanya karena kehilangan cinta dan merasa dikhianati sahabat sendiri.
tok
tok
tok
"Permisi, pak. Ada undangan jamuan makan malam dari perusahaan ACT Group. Acaranya besok malam di hall Marina Bay Sands. Apakah bapak akan menghadirinya?" tanya seorang wanita yang merupakan sekretaris Antonio.
Antinio menoleh sebentar ke arah sumber suara kemudian kembali menghadap kaca.
"Dia pasti datang juga. Aku harus datang untuk melihat suasana hatinya yang buruk bukan?" gumam Antonio.
"Bagaimana, pak?"
"Ya, aku akan menghadirinya. Siapkan stelan yang bagus untukku. Ini adalah acara yang sangat penting."
"Baik, pak. Saya permisi."
***
"Maaf sudah sering merepotkanmu, sayang."
Albert menerima map yang baru saja dibawakan oleh Sena. Saat ini Sena dan Alnorld tengah berada di ruang direktur karena siang tadi tiba-tiba Albert memintanya untuk membawakan map berisi berkas penting milik perusahaan yang tertinggal.
"Aku lapar," rengek Alnorld.
__ADS_1
"Sayang, ayo keluar makan siang. Alnorld sudah lapar."
Sena mengajak Albert keluar untuk makan siang bersama. Albert yang tampak masih sangat sibuk pun menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Emm, bagaimana kalau makan bersama disini? Aku akan meminta sekretarisku untuk memesankan makanan." Albert merasa tidak enak dengan tawaran yang disampaikannya. Setelah membuat istri dan putranya datang, ia malah tidak bisa menyenangkan mereka walau sekedar untuk makan siang di luar.
"Emm, baiklah. Tidak apa-apa, itu lebih baik karena kita tetap bisa makan bersama. Ya kan?" Sena merangkul Alnorld meminta persetujuan dengan ucapannya.
"Kau ingin makan apa, son?" tanya Albert mulai memperhatikan sang putra.
"Apa saja, daddy. Tapi tolong beri aku ice cream dengan kotak yang besar." Alnorld berkata sembari menggerakkan kedua tangannya membentuk kotak besar.
"Baiklah,"
Albert tersenyum kemudian mengambil gagang telepon dan mulai memencet beberapa nomor.
Kemudian mulai berbicara, "Pesankan aku tiga porsi paket spesial dengan tambahan beberapa sayuran di restoran biasa. Dan juga sekotak ice cream coklat."
Albert kembali pada kesibukannya, sementara Sena memutar otak untuk membuat Alnorld betah untuk tetap duduk di sofa dalam ruangan Albert.
Alnorld mengambil handphonenya di atas meja kemudian ikut mendownload game yang Sena maksud.
"Mommy sudah membuat karakternya?"
"Sudah, ini." Sena menunjukkan karakter game yang ia pilih dan sudah ia namai.
"Sena cantik? Ya Tuhan, sangat kekanak-kanakan." Alnorld menggelengkan-gelengkan kepalanya begitu membaca nama karakter game milik Sena.
"Hei, mommy hanya berusaha jujur. Karena mommy cantik." Sena meletakkan kedua tangannya di pipi dengan bangga menunjukkan wajah cantiknya.
"Baiklah, ayo mulai." ajak Alnorld.
Mereka berdua pun asyik bermain game bersama, Sena berkali-kali kalah dan mendapat ejekan dari sang putra. Sedangkan Albert masih berkutat dengan banyak dokumen di depannya dan sesekali melirik Sena dan Alnorld yang tampak asyik bermain.
__ADS_1
Di tengah kesibukan, suara ketokan pintu pun mengalihkan perhatian tiga orang yang ada di dalam satu ruangan tersebut.
tok
tok
tok
"Permisi Bos, Nyonya muda dan Tuan kecil. Makanannya sudah siap." Evan menyapa seluruh personel keluarga itu kemudian mempersilakan beberapa office boy dan office girl untuk menyiapkan makanannya di meja.
"Om Evan, ayo main ini denganku. Aku tidak mau main lagi dengan mommy. Sangat tidak seru karena mommy kalah terus." Alnorld menghampiri Evan dan menyatakan keluhannya terhadap Sena.
"Anu, Tuan kecil kenapa tidak dengan daddy saja?" Evan bertanya dengan sedikit kikuk sembari melirik ke arah bosnya.
"Daddy sangat sibuk, aku tidak ingin mengganggunya." Alnorld berbisik menunjuk ke arah Albert.
"Haa, ntah apa yang dipikirkan tuan kecil. Jika bos sibuk tentu aku juga sibuk." Evan berkata dalam hati. Ia hanya memandang Alnorld dengan tersenyum canggung.
"Sayang, hentikan pekerjaanmu, ayo makan." Sena memecahkan keheningan yang berlangsung singkat tersebut.
"Evan, ayo ikut makan bersama kami." Sena pun mengajak Evan ikut serta.
Albert berdiri dari kursi kebesarannya, kemudian menghampiri Sena yang sudah siap dengan tatapan mautnya bila Albert masih berkutat dengab dokumen-dokumennya.
"Tidak perlu, nyonya. Masih ada beberapa hal yang perlu saya lakukan. Tuan kecil, kita akan main bersama lain kali. Kalau begitu, saya permisi." Evan menolak ajakan makan siang istri bosnya dengan sopan kemudian pergi meninggalkan keluarga kecil itu untuk menikmati makan siangnya.
###########
Yarobun,
Jangan lupa mampir ke Novelku yang berjudul MY UGLY HUSBAND, ya.
Baca dan tinggalkan Likenya disana. Agar author bisa lebih semangat untuk melanjutkan kisah Alea dan Bayu.
__ADS_1
See you di chapter selanjutnya.
Happy reading, All.