
Pagi ini Aurelie berangkat lebih pagi dan tidak langsung menuju kantor karena semalam Antonio memberitahunya agar datang ke apartemen milik bosnya itu. Aurelie tidak tahu apa yang Antonio inginkan dengan memintanya datang ke apartemennya pagi-pagi sekali.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
ceklek,
Bola mata Aurelie membesar seketika, manakala Antonio membuka pintu dan berdiri di depannya dengan bertelanjang dada. Masih ada handuk yang bertengger di pundaknya. Rambut basahnya seolah memberi tahu, jika ia baru saja selesai mandi.
Aurelie meneliti pahatan perut Antonio yang terdapat enam kotak dan terlihat sangat keras. Tanpa sadar Aurelie pun sampai menelan ludah.
"Kau masih tidak mau masuk?"
"Hah, iya. Apa?"
("Siapa aku? Dimana aku?" mungkin itu yang ada di fikiran Aurelie karena masih mupeng 😜)
"MASUK!"
"Oh, iya. Baik."
Setelah benar-benar sadar, Aurelie mengikuti Antonio masuk ke dalam apartemen. Antonio memintanya duduk di sofa sembari menunggu bosnya itu berganti pakaian.
"Waaaah, aku tidak pernah membayangkan bisa melihat perut kotak-kotak secara langsung bahkan tepat di depan mataku. Daebak. Luar biasa sekali."
Aurelie bergumam tanpa henti, matanya masih tak berkedip membayangkan betapa seksinya perut sixpack Antonio. Hingga akhirnya Antonio kembali dengan pakaian rapi dan rambut klimisnya. Membuyarkan bayangan liar Aurelie.
"Ini," Antonio meminta Aurelie menerima Amplop besar berisi dokumen yang ia pegang.
__ADS_1
"Apa ini, pak?"
"Bawa ini ke perusahaan GC. Berikan pada direkturnya dan pastikan jika kau sendiri yang memberikannya."
"Dimana itu perusahaan GC? Sebentar, biar saya lihat di google maps."
"Pak, ini jauh sekali. Bisa memakan waktu dua jam lebih untuk sampai disana."
"Maka dari itu, segeralah berangkat. Gunakan taksi, ini ongkosnya."
"Saya sendiri?"
"Ya, kau sendiri. Ingat, pastikan kau yang memberikannya langsung pada direktur GC. Setelah itu segera kembali ke kantor." perintah Antonio dengan tegas.
Aurelie beringsut takut,
"Tapi......."
Aurelie mendesah kecewa, kemudian berdiri dari tempat ia duduk.
"Baik, pak. Saya akan berangkat sekarang. PERMISI!"
***
Di dalam taksi, Aurelie diam seribu bahasa. Ia masih tampak kesal dengan Antonio yang membuatnya bepergian jauh di pagi hari, bahkan memberinya tugas yang cukup sulit baginya seperti sekarang ini.
"Menyuruhku menyerahkannya langsung dengan direktur? Apa dia lupa aku siapa? Aku hanya kacung, mana mungkin bisa dengan mudah bertemu seorang direktur?" gerutu Aurelie dalam hati.
Aurelie mengacak-acak rambutnya frustasi,
"Aaaaarrrg, dasar pria menyebalkan. Kalau tidak ingat kebaikannya padaku dan ibu. Aku pasti sudah berfikir jika dia itu pria jahat."
__ADS_1
Supir melirik kaca, melihat Aurelie yang tiba-tiba ribut di kursi penumpang.
Bagai jatuh, tertimpa tangga. Seperti yang sudah di bayangkan oleh Aurelie. Keinginannya untuk bertemu langsung dengan direktur GC membuatnya di usir oleh resepsionis. Ia sudah memohon, namun si resepsionis justru mengancam akan memanggilkan security untuk mengusirnya.
Di tengah kegalauannya, handphonenya mendapatkan pesan singkat. Yang ternyata dari bos menyebalkannya itu.
From : BOS DINGIN
Katakan bahwa Antonio dari Slavethon Group mengirimkan sesuatu untuk direktur GC dan harus kau sendiri yang menyerahkannya.
Aurelie memutar bola matanya jengah. Sekali lagi, ia bertekad akan mencoba sekali lagi dengan membawa nama bosnya itu. Jika kali ini resepsionis masih menyuruhnya pergi, ia akan kembali ke kantor meskipun misinya gagal.
Dan benar saja, setelah membawa nama wakil direktur Antonio dari Slavethon Group, resepsionis segera membuat panggilan ke kantor direktur dan pada akhirnya resepsionis benar-benar mengijinkannya menemui direktur secara langsung.
.
.
.
.
.
.
.
.
LANJUT LAGI
__ADS_1