
"Huh, sebal sekali," kata Alnorld menggerutu.
"Kenapa? Apakah kau sebal karena hanya jalan-jalan dengan mommy?" tanya Sena memasang wajah sedih.
"Tidak, mommy. Aku hanya sebal karena daddy tidak menemani kita jalan-jalan padahal kita sudah jauh-jauh datang kemari," jawab Alnorld cemberut.
Sena pun berjongkok di depan putra semata wayangnya dan menangkup wajah kecil Alnorld dengan kedua tangannya sembari berkata, "Oh, sayang. Mommy yakin sebenarnya daddy ingin ikut. Tapi karena ada pekerjaan penting, ia terpaksa tidak ikut kali ini. Tapi kau tenang saja, semalam daddy berjanji akan mengajak kita berlibur setelah pekerjaannya disini selesai."
"Benarkah?" tanya Alnorld.
"Ya. Tentu saja, daddy tidak mungkin berbohong pada kita." jawab Sena penuh keyakinan.
Saat ini Sena tengah membawa Alnorld untuk berjalan-jalan di mall seperti biasa sekaligus untuk mencari makan siang. Karena Alnorld berkata ingin makan makanan Jepang. Maka jadilah Sena memilih untuk membawa putranya ke tempat dimana kemungkinan besar memiliki satu atau dua restoran Jepang di dalamnya.
Setelah menemukan restoran Jepang yang diincarnya, Sena bergegas membawa Alnorld masuk dan membiarkan sang putra memesan apapun yang ingin ia makan.
"Aku mau ini, ini, ini, ini juga. Emm, dan minumannya yang ini saja." kata Alnorld menunjuk setiap menu yang ia inginkan pada pelayan.
Sena melototkan matanya, tak percaya bila putra kecilnya memesan begitu banyak menu. Bagaimana mungkin badan kecil putranya akan mampu menghabiskan makanan sebanyak itu?
"Mommy, tidak pesan?" tanya Alnorld karena Sena hanya diam memandanginya.
"Emm, sayang. Apakah kau akan menghabiskan semua makanan yang kau pesan?" tanya Sena tersenyum.
__ADS_1
"Ntahlah," jawab Alnorld asal.
Sena menghela nafas pelan dan mulai memesan.
"Berikan aku lyche oca dingin,"
"Itu saja, nyonya?"
"Iya,"
"Baik, silakan di tunggu pesanannya." kata si pelayan kemudian meninggalkan meja Sena dan Alnorld.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang. Sena dibuat kaget dengan beberapa menu besar di atas meja yang semuanya adalah pesanan Alnorld. Sena sangat yakin bahwa putranya tidak mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini.
"Ayo kita foto, lalu kirim ke daddy." ajak Sena.
cekrek
cekrek
cekrek
Sena mengambil beberapa foto selfie bersama sang putra dan mengirimkannya ke Albert.
__ADS_1
"Mommy," panggil Alnorld sembari menyodorkan sepasang sumpit pada Sena.
Sena menerimanya dengan bingung masih tak tahu maksud dari Alnorld memberinya sepasang sumpit.
"Mari makan. Mommy juga, selamat makan." kata Alnorld.
"Selamat makan,"
Alnorld memakan hidangan di depannya dengan sangat lahap. Seolah dirinya belum makan apapun selama seminggu.
Sena hanya ikut mencicipi beberapa hidangan, kemudian beranjak meninggalkan Alnorld ke toilet.
"Teruskanlah makanmu. Mommy akan ke toilet sebentar." kata Sena yang dibalas anggukan oleh Alnorld.
Setelah selesai dengan hajatnya Sena berdiri di depan cermin dan membenarkan sedikit dandanannya. Saat keluar dari toilet Sena dikagetkan dengan seorang pria yang nampak kesakitan di depannya. Pria itu terduduk bersandar pada tembok sembari memegangi dadanya dan nafasnya tampak sangat tersengal-sengal.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Sena panik.
"T tolong, inhalerku. Di meja nomer lima." kata pria tersebut terbata-bata.
Tanpa bertanya lagi Sena segera menuju meja yang dimaksud kemudian mencari inhaler milik si pria. Namun tidak ia temukan. Hingga akhirnya secara tidak sengaja mata Sena tertuju pada tas di atas kursi. Dengan mengabaikan sopan santun Sena segera membuka tas itu dan mencari inhaler di dalamnya.
"Ini dia." kata Sena pada dirinya sendiri setelah menemukan apa yang ia cari.
__ADS_1
Sena pun bergegas kembali ke tempat dimana pria itu berada dan tak lupa ia meminta bantuan pada beberapa pelayan pria untuk memanggil ambulance dan membantu memindahkan pria tersebut.