
Hari pernikahan,
Setelah acara pengambilan ikrar pernikahan di gereja berlangsung dengan penuh khidmat pada pagi hari. Malam ini di salah satu ballroom terbesar dan termewah di pusat kota telah ramai dengan tamu undangan dari berbagai kalangan, dari para pejabat penting, relasi bisnis, kerabat dan tak lupa pula para rekan dari pasangan pengantin sendiri. Ballroom dihias begitu indah dan megahnya dengan bunga yang didominasi warna putih. Suara biola mengalun dengan merdu mengiringi langkah kaki sepasang pengantin menuju pelaminan. William begitu tampan dengan setelan jas bewarna biru dongker, sedangkan si pengantin wanita nampak sangat cantik dan anggun dengan dress duyung model backless dengan warna senada.
William dan Keyla terlihat bahagia di atas singgasananya. Senyum tak pernah lepas dari bibir mereka saat menerima ucapan selamat dan do'a dari para tamu undangan dengan penuh kebahagiaan dan terima kasih.
"Sena, biarkan Alnorld bersama mom dan dad saja. Kami masih sangat merindukannya."
"Baiklah, mom."
"Sayang, kau jangan merepotkan opa dan Oma ya." pesan Sena yang hanya di balas thumbs up oleh Alnorld.
Jeremy dan Jesica telah kembali ke Negara X tepat sehari sebelum acara pernikahan William dan Keyla. Karena William adalah putra dari adik kandung Jesica, maka sudah pasti kedua orangtua itu turut hadir dalam kebahagiaan mereka.
Di acara resepsi ini, tokoh utama tentulah pasangan pengantin yang tengah sibuk menerima ucapan selamat dari para tamunya undangan. Tapi tak memungkiri jika kehadiran CEO muda QL Group Albert Robert Nero dan istrinya Sena Laurencia cukup menyita perhatian banyak pasang mata disana. Albert dengan pesonanya yang tak terelakkan serta kecantikan dan keanggunan seorang Nyonya muda Nero yang pasti membius mata para pria yang hadir.
"Sayang, mungkin lain kali kau tidak perlu berdandan saat menghadiri acara seperti ini."
"Apa maksudmu aku tidak perlu berdandan? Kau ingin aku terlihat jelek?"
"Bukan begitu. Hanya saja aku sangat tidak nyaman istriku yang cantik ini menarik perhatian pria lain." Mendengar kata-kata Albert, dengan reflek Sena memperhatikan sekitarnya. Dan benar saja, beberapa pasang mata yang tidak sengaja bertemu dengan matanya langsung menunduk atau bahkan berbalik malu.
__ADS_1
"Kau cemburu?" tanya Sena dengan senyum menggoda.
"Iya, aku cemburu. Aku tidak tahu kalau resiko memiliki istri yang cantik itu seberat ini."
"Dasar, kau ini." Sena dan Albert tertawa bersama. Tangan Sena bergelayut manja di dada bidang Albert. Sedangkan tangan Albert melingkar posesif di pinggang sang istri.
"Ehem, tolong perhatikan sikap romantis kalian. Karena masih ada seseorang yang lajang disini." tegur seseorang membuat Sena dan Albert saling melepaskan diri.
"Dave?" Sapa Sena tak percaya dengan seseorang yang baru saja menegur kemesraannya dan Albert.
Dave tersenyum menyapa Sena dengan isyarat tangan. Kemudian berjalan mendekati Albert.
"Hai, bro. Apa kabar? Setelah menikah, kau semakin tampan saja."
"Aku kembali untuk memberi selamat pada bongkahan es yang satu itu. Aku heran sekali, kenapa bongkahan es seperti kalian justru menikah lebih dulu dari pada aku. Sena, bisa kau beri tahu aku. Apa bagusnya bongkahan es ini?"
"Hahaha, apa ya. Mungkin aku terpesona karena......."
"Hhhhuueekkk," kalimat Sena terpotong karena Albert yang tiba-tiba kembali mual.
"Kau sakit?" tanya Dave.
__ADS_1
"Sial, parfum apa yang kau pakai? Baumu membuatku mual." kata Albert dengan wajah masam kemudian menjauh dan menyapa seseorang yang dikenalnya.
"What?"
"Haaah. Dave, aku sungguh tidak mengerti. Akhir-akhir ini Albert sering sekali mual bahkan beberapa kali sampai muntah. Aku sudah membawanya ke dokter untuk diperiksa. Namun kata dokter Albert baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan hasil tes darah maupun rontgentnya."
"Sudah berapa lama dia seperti itu?"
"Sepertinya kurang lebih dua minggu terakhir dia seperti itu. Kau tahu, bahkan sebelum berangkat dia pun melarangku memakai parfume tadi."
"Emm, Sena boleh aku tahu kapan terakhir kau datang bulan?" tanya Dave serius.
"Datang bulan? Maksudmu menstruasi?"
"Ya."
"Tunggu, jangan bilang kau curiga kalau aku hamil dan Albert yang mengalami morning sick?"
"Tepat sekali. Kenapa tidak kau coba periksakan saja dirimu."
Sena terlihat berfikir sejenak. Dan kemudian,
__ADS_1
"Ah, Dave. Sepertinya dugaanmu benar. Aku sudah telat sekitar dua minggu." kata Sena pelan sembari menutup mulutnya masih tak percaya dengan kemungkinan yang terjadi.