
"eeeeeuuuggghhhrr,"
Antonio meregangkan tubuhnya. Sedetik dua detik akhirnya nyawanya pun kembali terkumpul. Begitu hendak bangun, Antonio terkejut mendapati seorang gadis berada seranjang dengannya.
Antonio menelan ludah dengan susah payah, ia sibak dengan pelan selimut yang menutupi tubuh gadis di sampingnya. Perlahan demi perlahan, Antonio melihat ke arah gadis tersebut hingga akhirnya ia bernafas dengan lega.
"Syukurlah dia masih memakai bajunya." gumam Antonio.
Antonio pun beranjak menuju kamar mandi dan membiarkan Aurelie tidur dengan nyenyak.
Mendengar suara gemericik air membuat Aurelie terbangun. Sama halnya dengan Antonio, Aurelie juga terkejut begitu mendapati dirinya tidur di ranjang. Namun tak bisa dipungkiri perasaan lega juga ia rasakan begitu mendapati bajunya masih menempel di tubuhnya walau terlihat sangat berantakan.
Aurelie berdiri lalu sedikit merapikan bajunya kemudian meninggalkan kamar hotel begitu saja selagi Antonio tengah sibuk di dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Antonio pun keluar, dengan rambut basah dan handuk yang melilit di pinggangnya menutupi miliknya yang sangat pribadi.
dddrrrrrttt
drrrrrttt
ddrrrrrttttt
Antonio berjalan mendekati meja dimana handphonenya berada. Kemudian mengangkat panggilan yang masuk.
"Halo?"
"Hei, siang sekali bangunmu. Pasti semalam kau sangat bersenang-senang kan? Bagaimana rasa bunga segarnya? Apa kau puas?" Antonio bertanya dengan nada menggoda.
"Kau itu ingin tahu saja. Ku tutup teleponnya.".
Tut
Tut
Tut
__ADS_1
"Dimana dia?" gumam Antonio begitu sadar jika Aurelie sudah tidak ada di dalam kamar itu.
"Hah, yasudahlah. Apa peduliku." lanjut Antonio kemudian bersiap l sama untuk check out.
***
"Jadi pria semalam itu bernama Antonio, sahabatmu dulu. Dan kalian memiliki salah paham sehingga sekarang bermusuhan?"
"Ya begitulah. Dia yang memusuhiku, aku tidak pernah berniat memusuhinya. Dia yang salah paham dan tidak membiarkanku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dulu aku masih muda sehingga tidak bisa memikirkan jalan keluar yang lebih baik untuk membantu mereka berdua."
FLASHBACK
"Karena begitu mencintai anda, Tuan muda kami menolak untuk pulang. Jadi kami mohon untuk anda membujuknya dan menjauhi Tuan muda kami. Kami sudah menelusuri latar belakang anda dan menurut Tuan kami anda tidak cocok dengan Tuan muda. Dan ini ada cek yang bisa anda gunakan hingga lulus kuliah sebagai tanda terima kasih." orang kepercayaan keluarga Antonio menyampaikan pesan dari Ayah Antonio.
"Boleh saya bertanya kenapa Ayahnya memaksa Antonio untuk pulang?" tanya Abigail tanpa menatap orang yang duduk di depannya.
"Maaf, saya tidak punya hak untuk memberi tahu anda. Hanya saja, perlu saya ingatkan. Jika Tuan muda tidak pulang, maka masa depan Tuan muda akan menjadi sulit. Dia akan dilengserkan dari kursi penerus perusahaan. Saya harap anda mengerti. Tolong buat Tuan muda kami pulang bagaimana pun caranya." pinta orang suruhan itu lagi.
Abigail menangis menceritakan hal itu pada Albert. Dan memohon agar Albert mau membantunya.
"Kenapa harus aku? Kau tahu kan, ini akan membuat hubunganku dengannya menjadi buruk."
"Oleh karena itu, jika orang itu adalah kamu. Maka dia akan sangat membenciku. Aku hanya punya cara ini, Albert. Antonio harus bisa membenci dan menyerah terhadapku. Aku tidak mau dia mendapatkan kesulitan. Kau pasti tahu kan, kalau Ayah Antonio sudah sangat keras padanya. Ini demi masa depannya. Aku tak mau dia hancur di masa depan." Abigail tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Tapi dia juga bisa membenciku, Abi." Albert berkata dengan lirih.
"Aku yakin dia tidak akan marah terlalu lama padamu. Akan ku buat seolah-olah akulah yang mengejarmu."
"Kau yakin dengan ini?"
Abigail mengangguk sembari menghapus air matanya.
"Baiklah kalau begitu."
"Terima kasih, Al."
__ADS_1
Keesokan harinya, Albert sudah duduk menunggu Abigail di sebuah taman dekat kampus.
"Kau sudah lama menunggu?"
"Tidak, kenapa kau memintaku kemari."
"Lihat saja nanti. Sebelumnya aku minta maaf padamu."
"Maaf? Untuk apa?"
*drrrrrttt
drrrrrttt
dddrrrrrttt
Antonio Calling*.....
Abigail menggenggam handphonenya erat, ia benar-benar harus meneguhkan hatinya untuk melukai orang yang ia cintai.
"Ada Antoni, ia melihat kita disini."
"Albert, maafkan aku." Abigail menarik kerah baju Albert dan menempelkan bibirnya pada bibir Albert. Hanya menempel, namun hal itu cukup membuat hatinya ikut terluka karena yakin hati Antonio pun akan sama sakitnya dengan hatinya.
Dari jarak yang tak begitu jauh, Antonio berdiri terpaku. Tangannya mencengkram erat menahan luka hatinya. Dengan nafas memburu, Antonio berjalan cepat mendekati mereka. Dan tanpa aba-aba Antonio mencengkram lengan Albert dan melayangkan tinjunya ke wajah Albert.
"ANTONIO HENTIKAN!"
"Brengsek," bukannya berhenti, Antinio justru kembali melayangkan tinjunya. Sedangkan Albert diam menerima begitu saja.
"Hentikan Antonio, jangan pukul lagi. Aku mencintai Albert. Tolong jangan lukai dia. Aku mohon," Abigail menangis meraung.
Antonio pun melepaskan cengkramannya pada kerah Albert kemudian berbalik pergi tanpa berkata apa-apa.
FLASHBACK OFF
__ADS_1