
Pagi ini Aurelie bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuk sang ibu dan dirinya sendiri. Setelah sarapan yang ia buat siap, ia pun segera mengajak sang ibu untuk sarapan bersama. Aurelie begitu bahagia, karena akhirnya setelah hampir dua bulan ia bisa kembali sarapan bersama di rumah mereka yang sederhana.
"Nak, apakah kau sudah bertemu dermawan kita?" tanya Daneila.
"Oh, itu. Sudah ibu." Aurelie menjawab dengan mulut yang masih mengunyah.
"Kau sudah berterima kasih padanya?"
Aurelie menelan makanan di mulutnya dengan segera kemudian menjawab lagi pertanyaan ibunya.
"Sudah, ibu tenang saja."
"Syukurlah, bila ada kesempatan kita harus membalas budinya."
"Tentu ibu," kata Aurelie.
Seusai sarapan Aurelie meraih handphonenya dan mengirim sebuah pesan pada Antonio. Ia sangat berharap kali ini Antonio akan meresponnya.
***
Antonio memandang pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat sangat tampan dan rapi dengan stelan jas yang ia kenakan.
Setelah selesai bersiap, Antonio mengambil handphonenya yang tersimpan di atas nakas. Dan kebetulan saja, notifikasi pesan diperolehnya begitu handphone sudah berada di tangannya.
From : Aurelie
Selamat pagi, tuan. Bisakah kita bertemu sore ini? Ada sesuatu yang sangat ingin saya sampaikan.
Antonio tidak langsung membalas pesan itu. Ia lebih dulu membuka pesan dari sekretarisnya dan menanyakan jadwalnya sore ini. Setelah mendapat jawaban dari sang sekretaris, barulah Antonio membalas pesan Aurelie.
__ADS_1
To : Aurelie
Kita bertemu di Restoran XX pukul enam sore.
***
Aurelie merasa kegirangan mendapat balasan dari Antonio. Sebenarnya Aurelie sudah menduga bila kali ini Antonio pasti akan menerima ajakannya untuk bertemu.
"Apakah ada sesuatu yang membuatmu bahagia?" tanya Vino tiba-tiba dari belakang Aurelie.
Aurelie terperanjat kaget karena sejak awal dia berada di ruang staff kebersihan seorang diri.
"Kak, bisakah kau bersuara bila datang? Dan tolong jangan membuatku kaget terus. Aku tidak mau terkena serangan jantung di usiaku yang masih muda ini."
"Hehehe, maaf. Aku tidak bermaksud. Kau saja yang terlalu fokus dengan handphonemu. Jadi, apa yang membuatmu bahagia sepagi ini?"
Aurelie tersenyum manis menanggapi pertanyaan Vino.
Setelah menjawab pertanyaan Vino, Aurelie kembali sibuk dengan handphone di tangannya tanpa berhenti mengulas senyum di bibirnya. Hingga Aurelie tidak sadar bahwa pria yang kini duduk di depannya menatapnya dengan penuh arti.
"Oh iya, sebelum kesini apa kakak melihat Pak Jason datang?"
"Pak Jason wakil direktur kita?"
"Iya,"
"Dia tidak akan datang lagi ke kantor ini, Aurelie."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Dengar-dengar karena presdir mengirimnya ke Jerman untuk mengurus perusahaan yang ada di sana."
"Hah, padahal aku ingin meminta bantuannya lagi." gumam Aurelie yang samar-samar masih bisa di dengar oleh Vino.
"Kenapa kau mencari pak Jason?"
"Bukan apa-apa. hehehe.
Oh iya, aku akan membersihkan toilet." Aurelie beranjak terburu-buru meninggalkan Vano begitu saja. Mengantisipasi agar Vano tidak bertanya-tanya lagi padanya.
***
Antonio sedang mempelajari beberapa dokumen yang di serahkan Renee pagi tadi. Ia tampak begitu fokus dengan pekerjaannya. Hingga tidak bisa dipungkiri meski ia pewaris perusahaan ini, para direktur perusahaan dan juga para pemegang saham sangat takjub dengan prestasi dan kehebatannya.
tok
tok
tok
"Masuk,"
"Pak, anda diminta untuk menghadap Presdir sekarang." kata Renee.
Antonio menghentikan pekerjaannya sejenak,
"Ada apa?"
"Katanya ada hal penting yang perlu Presdir diskusikan dengan anda."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan kesana sebentar lagi."