
Seperti yang di janjikan oleh Albert, sepulang sekolah ia membawa Alnorld ke apartemen Sena untuk mengambil beberapa barangnya.
Setelah selesai dengan apa yang di cari, Alnorld memasuki kamar Sena. Tidak ada yang berubah dari kamar itu. Kecuali ketidak hadiran Sena.
Alnorld membuka lemari pakaian Sena memastikan bahwa mommynya mungkin benar-benar pergi meninggalkannya dan sang daddy.
ceklek,
Alnorld terbelalak dengan apa yang di lihatnya. Ia bergegas membuka seluruh lemari dan laci di kamar Sena. Semuanya tampak sama dan utuh. Tidak ada yang hilang dari tempatnya.
"DADDYYYYY" teriak Alnorld.
Albert yang sedari tadi menunggu di ruang tamu pun berlari menghampiri Alnorld ketika mendengar putranya berteriak memanggil.
"Ada apa, son?"
"Daddy, lihatlah. Mommy tidak meninggalkanku. Mommy tidak meninggalkan kita, daddy. Semua barang mommy utuh." kata Alnorld dengan berurai air mata.
Albert kaget tak percaya dengan apa yang dikatakan putranya. Ia bergegas meneliti barang-barang Sena di lemari bahkan di segala penjuru kamar. Ya, semuanya tampak utuh. Kecuali box hitam darinya, dimana isinya sudah tidak ada. Gaun, hells dan clutch yang dia berikanuntuk Sena pakai di malam ia akan melamar wanita itu.
Jantungnya mulai berdebar kencang. Tangannya yang mulai bergetar berusaha meraih handphone di sakunya. Seketika ia teringat kata-kata Dave saat di bar. Mengenai kecelakaan besar di perempatan X di malam yang sama saat ia berencana melamar Sena. Perempatan itu, sudah pasti Sena akan melewati jalan itu ketika akan berangkat ke lokasi yang ia sebutkan.
Tut
tut
tut
"Hallo?"
"Dave, apakah kau memiliki daftar korban dari kecelakaan yang kau ceritakan tempo hari?"
"Yang di perempatan X itu?"
"Ya, kumohon cari tahu apakah Sena salah satu korbannya. Kumohon segeralah."
"Baiklah, aku akan memeriksanya sekarang. Nanti aku akan menghubungimu lagi begitu mendapatkan informasi."
Tut
tut
__ADS_1
tut
"Daddy, mommy pasti tidak meninggalkan kita." kata Alnorld masih terisak.
Albert menarik Alnorld dalam pelukannya.
--------------"------------
"Selamat siang, suster." sapa Dave.
"Selamat siang, dokter Dave. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang suster.
"Emm, bolehkah aku meminta daftar korban kecelakaan tempo hari itu?" tanya Dave.
"Tentu saja, dokter. Tunggu sebentar." kata sang suster kemudian mencari daftar korban kecelakaan yang diminta Dave.
"Suster, ini daftar obat injeksi untuk pasien di ruanh VIP nomer 04." kata dr.Jason menyerahkan selembar kertas pada salah satu suster.
"Selamat siang, dokter Jason." sapa Dave.
"Dokter Dave, jarang-jarang saya melihat anda disini." kata dr.Jason menggoda.
"Hahaha, saya ini kan hanya dokter baru. Jadi masih perlu adaptasi dari bawah." kata Dave bercanda.
"Terima kasih, suster." kata Dave tersenyum.
"Daftar korban kecelakaan?" tanya dr.Jason.
"Ah, itu. Temanku kehilangan saudaranya. Dan dia punya firasat bahwa saudaranya menjadi salah satu korban kecelakaan itu." kata Dave sembari meneliti satu persatu nama di daftar korban hingga nama pasien terakhir membuatnya mengernyitkan dahi.
"Bagaimana, apakah ada?" tanya dr.Jason.
"Ada, tapi aku tidak yakin. Saudara temanku bernama Sena Laurenchia. Tapi di daftar ini hanya ada yang bernama Laurenchia." kata Dave.
"Sena Laurenchia, Laurenchia. Dia pasienku, kau mau memastikannya? Siapa tahu mereka orang yang sama." kata dr.Jason menyarankan.
"Benarkah, kebetulan sekali. Aku akan memastikannya. Apakah dia saudara dari temanku yang hilang itu." kata Dave dengan wajah sumringah.
"Kalau begitu mari aku antarkan." ajak dr.Jason.
"Baik, dok."
__ADS_1
triiinggg ting
tiiiing triiingg
"Maaf, tunggu sebentar. Aku angkat telepon dulu." kata dr.Jason menjauhkan diri untuk mengangkat telepon.
Setelah selesai dengan teleponnya, Dokter Jason pun kembali menghampiri Dave.
"Dokter Dave, aku minta maaf. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Kau bisa kesana dan memastikannya sendiri. Dia ada di ruang VIP nomer 04." kata dr.Jason.
"Tidak apa-apa, dokter. Terima kasih." kata Dave memaklumi.
"Baiklah, aku pergi dulu. Semoga memang dia yang kau cari." pamit dr.Jason menepuk pundak Dave.
Dengan langkah lebar, Dave menuju ruangan yang disebutkan oleh dokter Jason.
Sesampainya di depan ruangan yang dituju, Dave melirik dari balik kaca yang terpasang di pintu ruangan.
"Semoga lekas sehat, nona." kata seorang suster.
"Terima kasih, sus." kata Sena tersenyum.
deg
"Sena, itu benar Sena. Albert pasti akan sangat senang mendengar berita ini." gumam Dave tersenyum bahagia karena berhasil menemukan keberadaan wanita yang dicintai sahabatnya itu.
ceklek,
"Dokter......." kata suster yang baru saja keluar dari ruang rawat Sena.
"Ssssttt. Kemarilah, aku ingin tahu mengenai pasien yang ada di dalam." kata Dave menginterupsi dan menarik tangan sang suster menjauh dari ruang rawat Sena.
"Maksud dokter nona Laurenchia?" tanya sang suster.
"Benar, dia saudaranya temanku. Jadi aku ingin tahu keadaannya." kata Dave tanpa basa basi.
"Ya Tuhan, akhirnya. Dia selalu menolak untuk memberikan info mengenai keluarganya dok. Nona Laurenchia sangat malang, kakinya lumpuh akibat kecelakaan itu. Oleh karena itu dia kehilangan kepercayaan diri untuk bertemu keluarganya." kata sang suster.
Dave mengusap wajahnya kasar begitu mendengar keadaan Sena.
"Selain itu apakah ada sesuatu yang fatal lagi?"
__ADS_1
"Tidak, dok. Semua sudah baik-baik saja." kata sang suster.
"Terima kasih informasinya, suster." kata Dave meninggalkan sang suster.