
"Key, ada apa?"
"Bagaimana ini, kak. Lihatlah gaunku tidak bisa di resletting. Aku bertambah gemuk, kak. Huaaaa."
"Bagaimana bisa, aku melihatmu biasa saja. Badanmu tidak bertambah gemuk, Keyla. Tapi bagaimana bisa gaunmu jadi kekecilan?" tanya Sena dengan wajah seriusnya.
"Nyonya, sebenarnya nona Keyla meminta untuk gaunnya di buat lebih kecil. Katanya agar dia termotivasi untuk diet dan mengecilkan badannya." bisik sang manager boutique kepada Sena.
Sena menghela nafasnya dalam berharap memperoleh kesabaran esktra untuk menghibur dan memberi solusi pada Keyla. Permintaan Keyla yang ceroboh tentu bagian dari syndrome calon pengantin yang ingin terlihat perfect di hari bahagianya, dan Sena bisa memaklumi itu Tapi apa yang dilakukan Keyla benar-benar keterlaluan. Ntah siapa orang yang berani bilang jika Keyla gemuk atau apalah. Karena baginya dan para pegawai toko yang tengah di buat bingung saat ini, merasa bahwa tubuh Keyla sudah sangat bagus dan perfect. Tidak gemuk dan tidak kurus. Atau bisa dibilang tubuh sintalnya sangatlah sempurna.
Sena mengalihkan pandangannya pada para pegawai boutique terutama perancang gaun pernikahan Keyla yang tampak pusing sekaligus frustasi. Bagaimana tidak, pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Tidak mungkin bagi mereka untuk membuat gaun yang baru. Dan Sena mengerti akan kesulitan itu.
"Kau menyukai gaun ini?" tanya Sena pada si calon pengantin.
"Sangat, tapi gaun ini tidak bisa terpakai di badanku." jawab Keyla sedih.
"Apakah mungkin untuk mengganti resletting dengan tali di punggungnya?" pertanyaan Sena beralih pada sang desaigner.
"Bisa saja asal nona Keyla mau. Saya akan menambah sedikit brocade di tengah dan memberinya tali yang cantik. Itu tidak akan mempengaruhi tampak depan dari model gaunnya."
"Bagaimana Key?"
"Benarkah bisa?"
"Tentu saja, untuk hal itu saya bisa menyelesaikannya dalam waktu dua hari. Jadi anda masih punya waktu untuk fitting lagi sebelum acara pernikahan." kata sang desainer meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
"Tolong berikan yang terbaik, ya. Terima kasih, kalian sudah bekerja keras." ucap Sena tulus.
Selesai dengan masalah gaun, Keyla kembali membuat Sena pusing dengan beberapa hal lainnya. Hingga Sena menyerah dan memaksa Keyla untuk beristirahat di salah satu restoran. Karena benar saja, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
"Aku pesan Caesar salad dan lemon tea tanpa gula." kata Keyla pada pelayan restoran.
"Pesanlah makanan yang mengenyangkan, Keyla."
"Tapi...."
"Kau bisa sakit kalau seperti ini terus."
"Kalau anda?" tanya pelayan pada Sena.
"Samakan saja, tapi lemon teaku tetap pakai gula." pesan Sena.
Setelah pelayan meninggalkan meja mereka, Sena segera mengambil handphone di tas miliknya dan menelpon Albert.
"Sayang, kau sudah meminta tolong supir untuk menjemput Alnorld kan?" tanya Sena begitu teleponnya tersambung.
"Sudah, sekarang dia disini bersamaku."
"Kau membawanya ke kantor?"
__ADS_1
"Iya, dia sedang makan sekarang. Kau sudah makan?"
"Aku baru saja memesan makanan. Baiklah kalau begitu setelah ini aku akan mempir ke kantormu, ya. Aku akan membawa Alnorld pulang, agar kau bisa fokus bekerja."
"Tidak usah buru-buru sayang. Nikmatilah waktumu. Lagi pula, Alnorld sama sekali tidak mengganggu. Salam untuk Keyla, ya."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, sampai jumpa nanti."
Sena mengakhiri panggilannya tepat saat pelayan membawa makanan yang ia dan Keyla pesan.
"Aku iri dengan kakak." kata Keyla tiba-tiba.
"Iri? Kenapa?"
"Kak Albert begitu mencintai kakak. Tidak seperti kak Will." jawab Keyla dengan wajah murung.
"Maka, itu menjadi tugasmu membuat dia bertekuk lutut padamu."
"Bagaimana caranya?" tanya Keyla penasaran.
"Aku akan memberitahumu nanti. Makanan kita sudah datang dan aku sudah terlalu lapar. Oh iya, Albert menitip salam untukmu."
"Salam kembali untuknya."
Mereka pun menikmati makan siang dengan selipan obrolan ringan.
__ADS_1