Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 98


__ADS_3

Antonio merebahkan tubuhnya di sofa, baru saja ia kembali ke rumah setelah sebelumnya ia meminta sekretarisnya untuk menjemputnya di rumah sakit.


"Besok aku harus ke restoran. Aku harus bertanya pada pegawai disana, mungkin saja aku bisa menemukan petunjuk tentang wanita itu." gumam Antonio.


Antonio beranjak menuju kamarnya untuk mandi karena ia merasa lengket di badannya sudah tidak bisa di toleransi lagi.


Di bawah guyuran shower, lagi-lagi wajah cantik wanita penolongnya yang terlintas. Ah, benar-benar bodoh. Apa mungkin seorang Antonio jatuh cinta? Pada pandangan pertama? Come on, selama lebih dari 7 tahun ia tak pernah merasakan hal semacam ini. Setelah cintanya dulu kandas karena gadis yang ia cintai menyukai sahabatnya sendiri. Sial memang.


Di tempat lain, sebuah keluarga kecil tengah bercengkrama menikmati kebersamaan di bawah terangnya sinar bulan. Sekarang ini Albert, Sena dan Alnorld sedang bersantai di balkon apartemennya.


"Aku senang saat kita berada dalam situasi semacam ini." kata Sena menyandarkan kepalanya di bahu Albert.


Albert tersenyum dan mengecup kening Sena dengan sayang.


"Daddy, lihat ini." kata Alnorld menunjuk gambar yang baru selesai ia buat.


"Bagus sekali." puji Albert begitu meneliti kertas gambar yang disodorkan oleh sang putra. Sena pun tersenyum.


"Ini Alnorld, ini mommy dan daddy. Dan ini oma, opa dan grandpa." kata Alnorld menjelaskan beberapa gambar orang disana.


Albert mengelus kepala Alnorld gemas. Namun sejenak rasa heran pun menghampirinya. Karena raut wajah Alnorld yang tiba-tiba berubah menjadi tak ceria.


"Why?" tanya Sena yang juga menyadari perubahan mood sang putra.


"Sayangnya aku tak punya adik. Padahal aku inhin sekali menggambarnya juga disini." kata Alnorld polos kemudian berbalik meninggalkan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Haruskah malam ini kita buatkan adik untuk Alnorld?" kata Albert berbisik di telinga Sena.


"Boleh. Ayo," jawab Sena sembari mengerling nakal.


Ke esokan harinya, seperti biasa Sena bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan segala keperluan lain suaminya. Sena sangat mendalami perannya sebagai istri sekaligus ibu yang baik. Bagaimana tidak, saat banyak wanita yang memiliki suami kaya menyerahkan semua tugas kecil dan sederhana pada asisten rumah tangga. Sena lebih memilih untuk repot sendiri. Saat Albert bertanya mengapa Sena melakukan semuanya sendiri, ia hanya menjawab jika ia senang melakukannya. Memang keberuntungan bagi Albert memperistri seorang Sena Laurenchia.


"Dimana Alnorld?" tanya Albert begitu duduk di kursi makan.


"Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya." kata Sena kemudian berlalu menuju kamar Alnorld.


tok


tok


tok


ceklek,


"Wow, kesayangan mommy tampan sekali." puji Sena ketika Alnorld membukakan pintu.


"Kemana kita hari ini, mommy?" tanya Alnorld seraya berjalan ke meja makan.


"Emm, mommy perlu berbelanja hari ini. Kau mau menemani mommy pergi berbelanja?" tanya Sena.


"Tentu, saat daddy sibuk aku yang harus menemani dan menjaga mommy dimana pun itu."

__ADS_1


"Owh, so sweet sekali."


"Morning, daddy."


"Morning, son. Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?"


"Iya."


"Makanlah yang banyak agar kau lekas besar."


"Makan banyak tidak membuatku besar, daddy. Tapi membuatku gemuk. Bagaimana aku bisa memiliku pacar di masa depan jika tubuhku gemuk."


Brrrruuuuuppp,


"uhuk-uhuk" Albert terbatuk karena tersedak.


"Bagaimana mungkin putraku yang baru berusia 7 tahun ini sudah mengerti soal pacar." gumam Albert dalam hati.


"Hei, kau masih kecil. Tidak boleh memikirkan tentang pacar atau apalah itu. Belajarlah yang rajin saja sayang." kata Sena menasehati.


"Aku kan bilang di masa depan, mommy. Bukan sekarang. Huft," timpal Alnorld sedikit cemberut.


"Baiklah, daddy sudah selesai sarapan. Daddy akan berangkat sekarang. Jaga mommy ya, son." pamit Albert kemudian mengecup kening Alnorld dan Sena bergantian.


"Tentu,"

__ADS_1


"Hati-hati di jalan. Jangan pulang larut malam." pesan Sena yang hanya di balas senyuman oleh Albert.


Antonio melangkahkan kakinya di perusahaan pagi-pagi sekali. Karena orang kepercayaannya mengatakan bahwa ia mendapatkan informasi yang sangat menguntungkan baginya. Maka tanpa ragu dan basa basi ia pun segera menemui orang kepercayaannya itu.


__ADS_2