Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 81


__ADS_3

"Kenapa kau kemari?" tanya Albert menatap tajam seseorang yang berdiri di depannya.


"Bisakah kau merubah sikap angkuhmu padaku? Aku sudah bosan berselisih denganmu." kata William menggambil tempat duduk di sofa ruangan Albert.


"Cepat katakan apa yang membawamu kemari? Aku sudah ingin pulang menemui istri dan anakku." kata Albert berdiri kemudian menyendarkan tubuhnya pada meja kerjanya.


"Aku mencari Keyla. Ibuku sudah mendengar kabar jika Keyla mengambil magang disini, jadi ia memintaku menjemput Keyla untuk makan malam bersama."


"Kau kan bisa menelponnya, kenapa harus kemari. Mengganggu saja."


"Panggilkan dia saja untukku. Maka kau akan tahu kenapa aku kemari dan tidak langsung menelpolnya sendiri."


"Dasar merepotkan." kata Albert memencet beberapa nomor di telepon kantornya.


tut


"Evan, panggil Keyla untuk menemuiku di ruangan sekarang." kata Albert melalui telepon tanpa basa basi.


"Bagaimana kabar Sena?" tanya William pelan.


"Hah, sebaiknya kau tidak perlu mengkhawatirkan istriku lagi." kata Albert geram.


"Dia kan kakak iparku. Apa yang salah?" tanya William mengerutkan dahinya.


ceklek,


"Kakak ipar kau men.... cariku?" tanya Keyla terhenti sejenak karena menemukan sosok William setibanya di ruangan Albert.


"Tidak, bukan aku. Tapi dia." kata Albert sambil menunjuk William yang sudah menatap Keyla datar.


"Oh, h hai kak Willy." sapa Keyla canggung.


"Dia sudah selesai bekerja, kan? Boleh aku membawanya?" tanya William meminta ijin pada Albert.


"Silakan." kata Albert kemudian dengan segera William menarik tangan Keyla keluar.


"Ayo ikut, ibuku sudah menunggumu di rumah." kata William.


"Eh, tapi itu...." kata Keyla terputus.


"Menurutlah, Keyla."


"Emm, baiklah."


William mengajak Keyla masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukan mobilnya ke kediaman orangtua William.


"Kenapa kau diam saja?" tanya William dengan tetap fokus menyetir.


"Memangnya aku harus bicara apa?" tanya Keyla dengan wajah polosnya.


"Ya Tuhan, sungguh ujian besar kalau aku harus menikahi gadis lemot seperti ini." kata William dalam hati.


"Kenapa kau tidak mengabariku atau ibu kalau kau disini?" tanya William langsung.


"Itu, aku hanya ingin memberimu kejutan. Ya, kejutan." kata Keyla membuat alasan.


"Ya sudah, terserah kau sajalah." kata William datar tanpa menatap lawan bicaranya.


Albert melangkahkan kakinya memasuki mansion dan langsung menuju ke kamar.


ceklek,


"Kau sudah pulang?" tanya Sena begitu melihat Albert memasuki kamar.


"Hmm,"


"Harusnya aku sudah tiba di mansion sejak tadi kalau saja tidak ada pengganggu." kata Albert membuat Sena mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Alnorld dimana?" tanya Albert.


"Mungkin sedang di kamar. Sejak pulang sekolah dia terus menerus menanyakan soal adik. Aku jadi stress dibuatnya." jawab Sena sembari membantu Albert melepaskan dasinya.


"Sepertinya Alnorld sangat ingin punya adik." kata Albert memeluk pinggang Sena.


"Tidak hanya ingin, tapi ingin sekali." kata Sena membenarkan.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang saja." kata Albert kemudian mencium leher jenjang Sena.


"Hiyaaa, kau mau apa?" tanya Sena kaget.


"Membuatkan adik untuk Alnorld." jawab Albert santai.


"Kau baru pulang, ini masih sore. Dan memangnya kau tidak mau makan dulu?" kata Sena berusaha mencegah.


"Aku ingin memakanmu." kata Albert membuat pipi Sena bersemu merah.


Kemudian dengan sigap Albert membawa Sena ke atas ranjang. Dan memulai proses pembuatan adik untuk Alnorld.


Di tempat lain, William yang baru sampai di kediaman orangtuanya langsung meminta Keyla untuk masuk ke dalam mengikutinya.


"Ibu?" panggil William.


"Hei, kau sudah pulang? Mana Keyla?" tanya ibu William.


"Selamat sore, tante." sapa Keyla tersenyum.


"Ibu, panggil aku ibu. Kelak kau akan menjadi menantuku kan. Oh iya, kenapa kau tidak memberi kabar kalau sedang ada disini nak?" tanya ibu William dengan tatapan sedih.


"Maafkan aku." kata Keyla menunduk karena merasa bersalah.


"Ya sudah, tidak perlu di bahas lagi. Ayo kita makan bersama. Ayah sudah menunggu di meja makan." ajak ibu William.


---------"--------


"Kenapa kau bangun?"


"Ini sudah waktunya makan malam, aku harus ke bawah dan menyiapkannya."


"Ada banyak maid disini, kau tidak perlu repot."


"Tapi aku ingin. Sudah, biarkan aku bangun dan menyiapkan makan malam."


"Ya sudah kalau begitu."


Setelah membersihkan Tubuhnya Sena bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Mom?"


"Eh, sayang."


"Sudah siap semua? Mom, maafkan aku karena tidak membantu."


"Hei, santai saja. Mom lebih senang kau menghabiskan waktu bersama Albert membuatkan adik untuk Alnorld." kata Jesica mengerling nakal membuat Sena malu.


"Haha, sudah-sudah sekarang panggil Albert dan Alnorld untuk makan. Mom akan memanggil dad." kata Jesica kemudian pergi dari ruang makan.


"Baik, mom."


Sebelum menuju kamarnya untuk membangunkan Albert, Sena terlebih dahulu pergi ke kamar Alnorld untuk mengajaknya makan malam.


"Sayang, sedang apa?" tanya Sena menghampiri Alnorld yang tengah duduk di depan komputer.


"Sedang membuat ini." jawab Alnorld menunjuk layar monitor.


"Ini, game?"

__ADS_1


"Iya."


"Kau membuat game? Wow, hebat sekali. Apa daddy tahu?"


"No, mom. Jangan beri tahu daddy dulu. Game ini masih perlu banyak perbaikan." kata Alnorld mencegah.


"Oh, baiklah. Ayo turun, kita makan malam bersama. Oma dan opa sudah menunggu di bawah."


"Oke, sebentar lagi aku akan turun."


Sena tersenyum mengelus kepala Alnorld kemudian keluar menuju kamarnya untuk membangunkan Albert.


ceklek,


"Ku kira kau masih tidur." kata Sena begitu melihat Albert keluar dari kamar mandi.


"Apakah makan malamnya sudah siap?"


"Hemm, tadi mom yang menyiapkannya. Saat aku ke dapur ternyata makan malamnya sudah siap."


"Tidak apa-apa, ayo kita turun."


"Ayo."


Albert dan Sena berjalan beriringan menuruni tangga menuju ruang makan.


"Selamat malam, semuanya." sapa Albert.


"Selamat malam." jawab Jesica dan Jeremy.


"Hei, son. Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Albert pada Alnorld.


"Tidak ada yang menarik, daddy." jawab Alnorld datar.


"Benarkah? Kenapa? Apakah disana tidak ada gadis cantik yang menarik untukmu?" tanya Albert bercanda.


PLAK


"Aduh, kenapa kau memukulku?" tanya Albert sembari memegang lengan atasnya yang dipukul oleh Sena.


PLAK


"Kenapa mom malah ikut-ikutan?" tanya Albert pada Jesica kan juga ikut memukul lengannya.


"Kau ini, cucuku masih sekolah dasar. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu." kata Jesica dengan suara agak tinggi.


"Iya, kau ini sungguh terlalu." kata Sena.


"Aku hanya bercanda, oke. Hanya BERCANDA." kata Albert nenekankan kata bercanda kemudian mengerucutkan bibirnya.


Alnorld hanya diam, memandang jengah kelakuan orangtua di depannya kemudian menghembuskan nafasnya kasar.


"Sudah-sudah, ayo kita makan sebelum lauknya menjadi dingin." kata Jeremy menghentikan perdebatan kecil itu hingga akhirnya merekapun makan malam dengan tenang.


#########


Selamat malam, readers.


Ya ampun, author pengen ketawa mulu tiap baca komentar di chapter sebelumnya. Kenapa pada ngira pelakor?


😂😂😂


Author gak mungkin kok sekejam itu pada Sena. Nanti konfliknya hal lain saja yaa..


Happy reading, All.


See you 😘

__ADS_1


__ADS_2