
"Albert...." gumam Sena masih menatap nanar sosok Albert yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Bukan apa-apa bila yang dilihatnya hanya Albert seorang. Namun, ada seorang wanita di sampingnya. Bahkan Albert terlihat begitu mesra memasangkan sebuah kalung di leher wanita itu.
"Mommy?"
"Ah, iya. Sayang, bagaimana kalau kita makan sushi di luar saja. Mommy ingat ada restoran jepang yang lebih enak dari pada yang ada disini."
"Emm, baiklah."
Beberapa saat yang lalu,
"Kakak ipar."
"Oh, hei Keyla. Bagaimana pekerjaanmu?"
"Semuanya baik-baik saja. Maaf tadi aku langsung masuk karena tidak mendapatkan tanggapan setelah mengetok pintu beberapa kali."
"Tidak apa-apa. Aku yang sedang tidak fokus. Ada apa kau kemari?"
"Bolehkah besok aku ijin tidak masuk?"
"Kenapa?"
"Kak Will dan Ibu mengajakku pergi."
"Hemm, ya sudah. Tidak apa-apa."
"Terima kasih kakak ipar. Kalau begitu aku akan kembali bekerja sekarang. Permisi." pamit Keyla kemudian berbalik.
"Eh, Keyla. Tunggu sebentar."
"Ya, ada apa?"
"Aku sedang bingung. Aku baru ingat kalau istriku hari ini ulang tahun. Dan aku tidak tahu harus memberikan dan melakukan apa."
__ADS_1
"Ya Tuhan, kakak ipar apakah kau tidak pernah punya pacar sebelum menikahi istrimu?"
"Sudahlah, jangan banyak tanya. Cepat beri aku ide."
"Belikan saja perhiasan untuk hadiahnya. Dan berikan kejutan dengan makan malam romantis."
"Apakah seperti itu saja sudah cukup?"
"Menurutku seperti itu saja sudah bagus. Oh iya, kirimkan juga sebuah gaun yang cantik untuk dipakainya."
"Emm, baiklah. Apakah pekerjaanmu masih banyak?"
"Tidak, kenapa?"
"Ayo, bantu aku memilihkan hadiah untuk istriku."
"Ah, apa-apaan ini. Kakak ipar malah menggangguku. Kalau begitu biarkan aku mengajak kak Will juga."
"Untuk apa mengajak cecunguk itu?"
"Bolehkan aku mengajaknya atau aku tidak akan pergi."
"Oke."
Di sebuah toko perhiasan,
"Jadi, kau memintaku kemari hanya untuk ini?" kata William pada Keyla sembari melirik tidak suka pada Albert.
"Hehehe, kita kan bisa sekalian membantu kakak ipar untuk menyiapkan kejutannya." kata Keyla tersenyum senang karena kedatangan William.
"Tapi kan......"
"Padahal aku juga merindukanmu." gumam Keyla lirih sembari menunduk.
"Hey, kalian disini untuk membantuku atau berdebat?" protes Albert melihat William dan Keyla.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membantumu. Sena mungkin akan lebih menyukai kalung dari pada cincin." kata William.
"Apakah kau yakin?" tanya Albert memastikan.
"Tentu saja, aku sahabatnya. Aku lebih memahami dia dari pada kau." kata William membanggakan dirinya.
"Tutup mulutmu, sialan." kata Albert menyikut lengan William. Kemudian William melirik ke arah Keyla yang sibuk melihat-lihat perhiasan di etalase.
"Bagaimana kalau gelang? Lihat, yang ini terlihat cantik sekali." kata Keyla tiba-tiba.
"Yang mana?" tanya William kemudian menghampiri Keyla.
"Ini, lihatlah kak. Bagus bukan?"
"Kau suka?"
"Ya, ini cantik sekali."
"Maka ambillah, aku akan membelikannya untukmu."
"Hah? Tapi kan kita disini untuk....."
"Tolong ambilkan gelang yang ini." kata William pada salah satu karyawan toko.
"Keyla, kemarilah. Tolong coba kalung ini untukku." kata Albert.
Tanpa bertanya lagi, Keyla pun menghampiri Albert. Dan Albert sendiri yang memakaikan kalung yang dipilihnya sendiri untuk dicoba oleh Keyla.
"Lumayan bagus. Tapi sepertinya lebih bagus lagi kalau istriku yang memakainya." kata Albert kemudian melepas kembali kalung yang dipilihnya.
"Kalau bagus, berikan saja yg ini." kata Keyla yang kemudian di setujui oleh Albert. Albert pun bergegas untuk menyelesaikan pembayaran untuk kalung yang dipilihnya untuk Sena.
"Keyla, coba ini." kata William meraih tangan Keyla kemudian memakaikan gelang yang sukai Keyla.
"Cantik." gumam William.
__ADS_1
"Pakailah selalu. Aku sudah membayarnya." kata William tersenyum.
"Terima kasih, kak." kata Keyla tersenyum senang dengab terus menatap dan mengelus gelang yang dipakainya kini.