
"Pria tua? Siapa?" tanya Albert penasaran.
"Papiku." jawab Sena singkat sembari mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Sayang, kalau boleh tahu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan paman Laurench?" tanya Albert hati-hati.
Sena masih fokus memandang ke luar jendela diam tidak memberi jawaban.
"Setahuku, semenjak kau menghilang begitu saja. Paman Laurench mati-matian mencarimu. Hingga akhirnya aku mendengar kamar bila ia pindah ke luar negeri."
"Kau jangan mengada-ada. Mana mungkin dia mencariku. Pria itu pasti senang setengah mati saat tahu aku pergi dari hidupnya. Dia pria yang jahat, dia yang menyebabkan mamiku meninggal." kata Sena dengan suara serak akibat menangis.
"Huuuuussshhttt, tenanglah. Jangan menangis, ada aku disini. Kau bisa membagi rasa sakitmu denganku." kata Albert menarik Sena dalam pelukannya.
"Aku membencinya, Al. Aku sangat membencinya. Karena ambisi gilanya dia bahkan rela menyakiti keluarganya." kata Sena tak berhenti menangis.
Flashback On
"Tidak, laurench. Kau tidak boleh seperti ini padaku." teriak Amanda Laurench yang tak lain ibu Sena dengan tangisan yang sudah pecah.
"Pahamilah, manda. Aku harus melakukan ini. Aku tidak mungkin membiarkan perusahaanku hancur begitu saja. Aku butuh mereka untuk mendukungku." teriak Laurench tak kalah tingginya.
__ADS_1
"Laurench, aku mohon jangan lakukan itu. Aku dan Sena rela mendukungmu dari 0 lagi, Laurench." kata Amanda masih dengan tangisannya.
Flashback Off
"Dia membiarkan mami menderita, bahkan tidak memperdulikanku dan mami yang sudah menangis memohon. Dia lebih memilih menggadaikan perasaanku dan mami hanya demi uang. Sebanyak apapun air mata yang kami keluarkan, pada akhirnya pria tua itu lebih memilih orang lain dan mengacuhkan kami." kata Sena dengan air mata yang terus meleleh.
Albert mendengarkan penuturan Sena dengan seksama dengan sesekali mengelus lembut punggung Sena berharap hal itu bisa memberikan kekuatan untuk wanita tercintanya.
"Puncak kebencianku adalah saat aku menemukan mami yang jatuh tak berdaya di sisi ranjangnya. Sa saat aku mencoba membangunkannya, mami tidak bangun. Mami pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Setelah itu aku lebih memilih menghabiskan waktuku di lab kampus. Menerima beberapa tawaran sebagai asisten para dosen untuk melakukan penelitian. Aku bahkan sudah jauh hari merencanakan kepergianku ke Jepang untuk menghindarinya. Aku mempersiapkan semuanya sebelum kelulusan." sambung Sena dengan tersenyum miris.
"Dan kau tentu masih ingat kan, apa yang terjadi antara kita sebelum keberangkatanku. Hehehe. Aku berniat memberimu pelajaran karena dulu kau sangat menyebalkan. Malah pada akhirnya yang terjadi adalah sebaliknya. hehehe."
Albert mengacak puncak rambut Sena.
"Hei, kau itu sangat menyebalkan. Terutama tatapanmu itu yang selalu menyaratkan rasa jijik dan benci terhadapku. Padahal aku tidak. merasa punya salah padamu. Terlebih lagi, bibirmu itu yang selalu mengeluarkan kata-kata buruk padaku." kata Sena yang sudah mulai sebal.
Cup
"Yah, aku memang menyebalkan. Aku senang kau kembali tersenyum, sayang. Dan perlu kau tahu, pelajaran yang kau berikan padaku dulu sekarang menjadi berkah untukku. Terima kasih karena pernah menjebakku."
"Kau bercanda berterima kasih untuk sebuah jebakan?"
__ADS_1
"No, I really really thanks. Karena jebakanmu itu aku bisa mendapatkan putra yang tampan dan pintar serta dapat bonus mommynya."
Merek pun tertawa bersama mendengar penuturan Albert yang menurut Sena sangat menggelikan.
"I love you." kata Sena menatap lekat Albert
"I love you more." balas Albert.
###############
Yey, selesai 3 chapter ya hari ini.
Walau malam, tapi masih di hari yang sama kan? 😂
Janji author terpenuhi deh.
Jangan bosan untuk mengikuti kisah mereka yaa...
Happy reading.
NB : kalau ternyata MG ngepublishnya besok, itu di luar kendali author ya...
__ADS_1
See you 😘😘😘
Good night and have a nice dream.