
SELAMAT MEMBACA,
__________________________
Sudah satu minggu berlalu sejak Antonio dan Aurelie pulang dari Bangkok bertepatan saat Ny. Stevanie mengalami insiden jatuh dari tangga dan mengalami gegar otak ringan. Kini keadaan Ny. Stevanie sudah membaik, walau kadang kala nampak linglung saat di ajak bicara.
Selama satu minggu itu pula Aurelie sibuk bolak balik antara Apartement Antonio, kantor, dan juga rumah sakit. Atasan yang sekarang juga menjadi temannya itu seolah sengaja mengerjainya. Tapi memang dasar Aurelie yang terlalu baik hati, ia melakukan apapun yang diperintahkan Antonio.
Seperti pagi ini, lagi-lagi Antonio memintanya untuk datang ke RS membawakan baju gantinya dengan alasan menghemat waktu, karena siang ini Antonio ada pertemuan dengan kolega bisnisnya di luar kantor.
Tubuh mungil Aurelie nampak kesulitan membawa stelan jas berukuran besar milik Antonio dan juga kotak makanan yang sengaja disiapkan ibunya untuk ia bawa ke rumah sakit dan diberikan pada Antonio dan Ny. Stevanie.
Sesampainya di depan pintu ruang inap Ny. Stevanie, Aurelie menjadi kebingungan. Tangannya begitu penuh sehingga tidak bisa mengetuk apa lagi membuka pintunya. Seorang suster yang melihatnya kesusahan pun segera menawarkan bantuan dan membukakan pintu untuk Aurelie.
"Terima kasih," ucap Aurelie pada suster tersebut kemudian masuk ke dalam.
"Selamat pagi,"
"Lambat sekali kau ini,"
"Kau tidak lihat kakiku sependek apa? Lihat ini lihat!" kata Aurelie sebal.
"Selamat pagi, Aurelie."
"Eh, Nyonya. Selamat pagi." Aurelie menjadi kikuk seketika karena lupa akan keberadaan Ny. Stevanie dan berkata tidak sopan pada Antonio.
"Iya, kakimu memang pendek. Dasar cebol," kata Antonio kemudian berbalik menuju ke kamar mandi sedangkan Aurelie sudah menatap tajam punggung Antonio.
__ADS_1
"Apa yang kau bawa itu? Harum sekali,"
"Oh iya, ibu menyuruhku membawa makanan untuk anda dan Pak Antonio. Apa anda mau makan sekarang, Nyonya?"
"Boleh, asal Aurelie yang menyuapiku."
"Dengan senang hati."
Dengan telaten Aurelie menyuapi Ny. Stevanie dan sesekali mereka mengobrol ringan. Dan beberapa saat kemudian, Antonio keluar dengan sudah mengenakan stelan jas yang dibawakan Aurelie. Dan hanya memperhatikan dari sofa tunggu yang tak jauh dari ranjang pasien.
"Ibumu sangat pintar memasak," puji Ny. Stevanie begitu makanannya habis.
"Tentu saja, dulu ibu sempat bekerja menjadi juru masak di sebuah restoran cukup lama."
"Benarkah?" tanya Ny. Stevanie kaget dan Aurelie hanya tersenyum mengangguk.
"Aku pergi dulu, ya ma. Selesai bekerja aku akan kesini lagi."
"Kalau begitu saya juga pamit, Nyonya."
"Tidak usah, kau disini saja."
"Kenapa?"
"Aku takut nanti kau malah menyusahkan ku. Jadi kau disini saja menemani mama."
"Dia pikir aku hanya bisa menyusahkan," gerutu Aurelie.
__ADS_1
"Kau bilang apa tadi?"
"Sudah, Antonio. Cepat berangkatlah, kau ini suka mencari gara-gara."
"Sampai jumpa nanti sore, ma." pamit Antonio kemudian mengecup kening mamanya kemudian mengelus sekilas rambut Aurelie saat melewatinya.
Ny. Stevanie tersenyum melihat interaksi antara Antonio dan Aurelie, keduanya memang tampak tak akur namun ada sesuatu yang berbeda diantara keduanya. Ingin rasanya Ny. Stevanie memukul kepala sang putra agar berani melangkah maju dengan terang-terangan mendekati Aurelie. Karena yang ia lihat, Antonio justru menjadi sangat jahil pada asisten mungilnya itu.
"Nyonya mau makan buah?" pertanyaan Aurelie seketika membuyarkan lamunan wanita paruh baya yang tengah sakit itu.
.
.
.
.
.
.
.
LANJUT SATU CHAPTER LAGI,
PLEASE, JANGAN LUPA LIKE, COMENT DAN VOTE YAA. 🤗
__ADS_1