
dua bulan kemudian,
"Bagus sekali nona Sena. Pertahankan ya semangatnya. Kalau bisa seperti ini terus mungkin bulan depan nona sudah mampu berlari lagi." puji dr. Raphael.
"Anda terlalu berlebihan dokter. Bukankah tadi baru berhasil 7 langkah?" kata Sena menunduk.
"Memang langkahnya lebih sedikit ketimbang kemarin. Tp kekuatan pijakannya sangat terlihat kalau lebih kuat hari ini. Jadi, jangan patah semangat, ya. Baiklah kalau begitu kita akhiri dulu treatment hari ini. Suster, biarkan Tuan Albert masuk." kata dr. Raphael.
"Baik dokter." kata sang suster bergegas mempersilakan Albert untuk memasuki ruang treatment.
"Bagaimana perkembangannya, dokter?" tanya Albert sembari menyentuh bahu Sena dari belakang kursi roda.
"Sangat baik, Tuan."
"Syukurlah. Kalau begitu kami permisi kembali ke kamar."
"Silakan Tuan."
di koridor rumah sakit,
"Aku bangga padamu sayang."
"Bangga?"
"Ya, karena kau sangat gigih dan tidak patah semangat menjalani treatment ini."
"Karena aku memang harus seperti itu, Al."
"Besok aku akan memberimu kejutan sebagai hadiah atas semangatmu."
"Apa?"
"Rahasia, kan ini kejutan." jawab Albert membuat Sena mengerucutkan bibirnya.
Tak butuh waktu lama bagi Albert dan Sena untuk kembali ke kamarnya. Albert dengan sigap membopong tubuh Sena, memindahkannya ke tempat tidur.
"Kau ingin minum?" tanya Albert yang di balas anggukan oleh Sena.
Albert segera mengisi gelas kosong di nakas samping tempat tidur Sena dengan air hangat.
"Ini," kata Albert menyodorkan gelas pada Sena.
"Aku lapar." kata Sena setelah melepas dahaganya.
"Ada yang ingin kau makan?" tanya Albert.
__ADS_1
"Aku ingin pizza, apakah boleh?" tanya Sena ragu-ragu.
"Tentu saja boleh. Tapi hanya untuk hari ini, oke?" kata Albert memperingatkan.
"Oke. Aku ingin pizzanya di beri toping extra cheese." pinta Sena dengan suara manja.
"Siap, Nyonya Nero. Saya akan membelikan pesanan anda segera. Bye." jawab Albert bertinglah seperti seorang pelayan dan segera pergi dari hadapan Sena.
"Hahaha, dasar aneh." kata Sena begitu Albert keluar dari kamarnya.
----------"---------
di kedai pizza terdekat,
"Tolong satu beef pizza dengan extra cheese ukuran large." kata Albert pada pelayan.
"Baik tuan, harga pesanannya menjadi USD 25." kata si pelayan.
Albert mengekuarkan uang pecahan USD 50 dan tidak mengaja menjatuhkan sesuatu dari dalam dompetnya. Albert melihat sebentar barangnya yang jatuh kemudian menyerahkan uang yang di ambilnya kepada pelayan untuk membayar pizza pesanannya. Dan si pelayan pun dengan segera memberikan kembaliannya.
"silakan tunggu sebentar." kata pelayan tersebut.
Albert memungut kertas persegi yang terlihat elegan walau di atas lantai kemudian mendudukkan tubuhnya menunggu di salah satu meja yang tak jauh dari jendela utama. Sesekali Albert memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Tidak banyak memang, karena ini masih dalam jam kantor yang pastinya para karyawan belum meninggalkan tempat kerjanya.
Albert menatap kertas yang di pungutnya tadi. Itu adalah kartu nama yang diberikan oleh Tuan Laurence dua bulan yang lalu. Dan sialnya baru sekarang Albert ingat bila memiliki barang itu. Dengan segera Albert mengetik nomor handphone yang tertera di kartu nama tersebut dan mengetik sebuah pesan.
To : Paman Laurence
From : Paman Laurence
Nak, kau tidak tahu betapa aku menantikan pesan darimu. Apakah kau masih ada di Amerika?
To : Paman Laurence
typing.........
CALL PAMAN LAURENCE........
Albert : Hallo, paman.
Laurence : Hallo, nak. Apakah kau masih di Amerika? Atau kau sudah pulang ke negara X?
Albert : Aku masih di America, paman. Saudaraku masih menjalani perawatannya disini. Jadi aku menemaninya.
Laurence : Oh, aku kira kau mengubungiku karena sudah mendapatkan tanggal untuk acara pernikahanmu.
__ADS_1
Albert : Tidak, paman. Aku hanya baru ingat saja jika memiliki kartu nama paman.
Laurence : Berapa lama kau akan di Amerika?
Albert : Belum jelas sampai kapan, paman. Tapi semoga saja dia bisa sehat dengan cepat.
Laurence : Kapan-kapan aku akan ke rumah sakit menjenguk ya.
Albert : A apa? Paman tidak perlu melakukan itu. Tolong jangan merepotkan diri paman.
Laurence : Sebenarnya aku hanya sedang berusaha mencari alasan untuk bisa bertemu denganmu.
Albert : Baiklah, mari atur jadwal untuk bertemu. Aku akan dengan senang hati menghampiri paman.
Laurence : Anak baik.
"Maaf tuan, ini pesanan anda." kata pelayan meletakkan sekotak pizza di atas meja.
"Terima kasih." kata Albert.
Albert : Paman, maafkan aku. Aku harus pergi sekarang. Lain kali akan ku hubungi lagi. Sampai jumpa, paman.
Laurence : Baiklah, sampai jumpa nak.
tut
Sambungan telepon pun berhenti, Albert meraih kotak pizza di depannya dan membawanya kembali ke rumah sakit, tepatnya ke kamar mereka tinggal untuk sementara waktu.
###########
Uluh-uluh,
kumaha atuh?
Tiap UP lebih dari 1 chapter, pasti chapter yang awal teh pada kelewatan buat tekan jempolna (LIKE).
Author teh gemesh jadina.
😂😂😂
Tak pe, lah. Asal masih di baca alias gk di lewatin.
hehehe
Happy reading, All.
__ADS_1
😘😘😘