Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 130 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Jason tampak frustasi mengingat apa yang dikatakan oleh sang ayah. Dalam bulan ini ia harus berangkat ke Jerman dan mengurus sendiri perusahaan disana. Kalau ia adalah orang yang pandai dalam bisnis mungkin akan lain ceritanya. Ia pasti dengan bangga dan percaya diri akan menerima perintah ayahnya. Namun ia bukan orang yang seperti itu. Ia sama sekali tidak tertarik dan tidak pandai dalam bisnis. Ia adalah orang Seni, baginya seni adalah jiwanya. Dan itu mutlak.


Saat Jason dilanda kegalauan, tiba-tiba handphonenya berdering dan mengalihkan perhatiannya.


"Halo?"


"..............."


"Aku di kantor. Bisakah kau kemari dan membawaku pergi? Aku benar-benar merasa akan menjadi gila bila terus berada disini."


"..............."


"Baiklah, akan ku tunggu."


Seusai mengangkat telepon, tiba-tiba ia merasa ngantuk. Dari pada tidur, ia memilih untuk menyesap secangkir kopi sembari menunggu kedatangan sahabatnya, Antonio.


"Bawakan aku secangkir kopi." kata Jason pada sekretarisnya melalui telepon.


Antonio memarkirkan mobilnya di parkiran gedung perusahaan keluarga Jason. Sebelum masuk ke dalam gedung, Antonio lebih dulu mematikan handphonenya. Karena ia sedang tidak ingin di ganggu.


Antonio memasuki gedung dengan santai, karena suasana hatinya sudah tidak seburuk saat berada di kantornya sendiri. Antonio berjalan menuju resepsionis dan hanya perlu mengatakan namanya, maka ia akan dengan mudah mengelilingi gedung perusahaan itu. Kehadiran Antonio membuat mata para karyawan wanita menatap dengan tatapan berbinar. Mereka terlalu senang karena ada lagi pria tampan selain Jason sang putra CEO, yang masuk ke dalam gedung dan memberi warna bagi para karyawan wanita pemuja wajah tampan.


Setelah menaiki lift menuju lantai sembilan, Antonio segera menuju ruangan Jason. Sekretaris Jason menyapa Antonio dengan ramah dan langsung mempersilakan sahabat atasannya itu masuk ke dalam kantor Jason.


ceklek,


"Hei, kau sudah datang. Duduk dulu, kita ngopi sebentar."


Antonio mengambil tempat duduk di sofa dan membuka jasnya.


Di luar ruangan, sekretaris Jason kembali menghubungi bagian kebersihan yang tak lain juga ialah staf OB untuk membawakan satu cangkir kopi lagi karena kedatangan tamu atasannya.


Sementara itu, di pantry Bu Julie tengah membuat dua cangkir kopi pesanan sang direktur. Setelah siap, ia pun keluar untuk mengantarkannya.


"Bu Julie, itu mau di bawa kemana?"


"Ini? ke ruangan pak Jason."


"Jason? Apakah tuan muda yang tadi? Sepertinya iya, karena aku ingat nama itu." kata Aurelie dalam hati.

__ADS_1


"Biar saya saja yang mengantarkan kopinya." Aurelie langsung mengambil nampan di tangan Bu Julie.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih. Hati-hati membawanya." kata Bu Julie tersenyum kemudian kembali ke ruang staff kebersihan.


Jason menghampiri Antonio dan ikut duduk di sofa.


"Aku merasa akan menjadi gila." kata Jason.


"Kenapa? Ayahmu bersikeras untuk mengirimmu ke Jerman?"


"Ya, begitulah. Dan aku harus berangkat sebelum bulan ini berakhir."


"Haaaaaah, aku jadi iri padamu. Aku ingin sekali di buang ke luar negeri sepertimu."


"Kenapa memangnya? Kau ada masalah dengan ayahmu?"


"Ya, begitulah."


Aurelie sudah berada di dekat ruangan Jason. Ia mendekati meja sekretaris untuk memberitahu bahwa kopi yang dipesannya sudah siap.


"Bisakah kau bawakan ke dalam? Tiba-tiba aku sakit perut. Aku harus ke kamar mandi." kata Tina, sekretaris Jason yang langsung berlari kecil ke kamar mandi.


Aurelie mengetuk pintu di depannya sebelum masuk ke dalam.


"Ya, bawa sini."


Dengan hati-hati Aurelie meletakkan cangkir ke atas meja. Aurelie hanya fokus pada kopi yang ia bawa hingga tidak menyadari keberadaan Antonio, dermawan yang ia cari akhir-akhir ini.


"Kalau begitu saya permi.........si." pamit Aurelie yang spontan memperlambat tempo bicaranya.


"Kenapa masih disini?" tanya Jason sembari mengambil cangkir kopinya.


"Tuan, ya Tuhan. Akhirnya saya bisa bertemu dengan anda."


Bbrrruuuuufff (suara Antonio menyemburkan kopi karena kaget)


"Kau, sedang apa kau disini?" tanya Antonio.


"Ah, aku ingat. Dia yang kau maksud tadi pagi kan?" tanya Jason memastikan kekagetan sahabatnya pada Aurelie.

__ADS_1


"Iya, pak." jawab Aurelie tersenyum lalu berdiri tepat di depan Antonio.


"Terima kasih atas kedermawanan anda, Tuan. Karena anda, akhirnya ibu saya bisa di operasi dan sehat kembali. Saya akan berusaha untuk membayar anda kembali, walau itu berarti akan memakan waktu yang lama." ucap Aurelie tulus kemudian membungkukkan punggungnya sebentar.


"Apa maksudnya ini?" tanya Jason penasaran.


"Bukan apa-apa." jawab Antonio datar kemudian meletakkan kembali cangkir yang ia pegang me atas meja.


"Kau tidak perlu menggantinya. Karena seperti yang kau bilang, aku hanya mendermakan uangku." kata Antonio pada Aurelie.


"Ku kira kau mencari sahabatku karena mau minta pertanggungjawaban. Hahaha." Jason tertawa keras, menghiraukan keberadaan dua orang yang tampak canggung.


"Tidak bisa, bagaimana pun caranya saya akan membayar anda kembali. Tolong terima kesungguhan hati saya, Tuan."


Jason menatap Antonio yang terlihat tidak nyaman. Kemudian menghela nafasnya panjang.


"Kembalilah bekerja," perintah Jason membuat Aurelie seketika memandangnya.


Dengan perasaan tidak enak Aurelie pun menuruti perintah atasannya itu.


"B baik, pak."


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2