
HAPPY READING,
______________________
Setelah mandi, Aurelie bergabung dengan Antonio yang sudah menunggu di sofa. Aurelie menatap banyaknya makanan yang sudah terhidang di meja.
"Kenapa makanannya banyak sekali?"
"Semalam kau tidak makan banyak, jadi kupikir kau akan sangat lapar sekarang."
"Selapar-laparnya aku, juga tidak mungkin makan sebanyak ini."
"Sudahlah, ayo makan."
"Kau belum makan?" tanya Aurelie kaget. Karena ia kira Antonio tidak mungkin menunggunya hanya untuk makan saja.
"Belum, aku menunggumu. Maaf kalau makanannya sudah tidak hangat lagi."
"Emm, selamat makan." ucap Aurelie dengan canggung.
Mereka berdua pun menikmati makan bersama untuk pertama kali sebagai pasangan suami istri.
"Bagaimana dengan honeymoon? Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Antonio di sela-sela makannya.
"Haruskah kita melakukannya?" tanya Aurelie lemah.
"Kenapa? kau tidak mau?"
"Bukan begitu, pernikahan ini berdasar bukan pada perasaan. Jadi untuk apa kita membuang waktu untuk honeymoon?"
Antonio meletakkan sendoknya. Dia duduk dengan tegap menghadap Aurelie yang masih berusaha menikmatai makanannya.
"Kenapa kau berfikir begitu? Apa karena aku memaksamu untuk menikah? Oke, aku tahu kalau aku salah karena memaksamu untuk menerimaku. Karena aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membuatmu menjadi milikku. Aku tidak pandai berkata manis. Aku bodoh dalam hal-hal menunjukkan kasih sayang. Aku kira, dengan membuatmu mau menikah denganku akan merubah perasaanmu, dan kau bisa menerimaku dengan hatimu."
"Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau terpaksa menikahi ku karena permintaan mama?" tanya Aurelie kaget dan sedetik kemudian menundukkan wajahnya.
"Mama? Kenapa kau pikir begitu?" Antonio mengusap wajahnya kasar. Kemudian menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Tatap aku," pinta Antonio sembari memegang tangan Aurelie dan memaksanya untuk menegakkan kepala.
"Menikahimu, itu karena aku yang mau. Bukan karena mama!"
Aurelie terbelalak, jika bukan karena mama lalu apa alasan Antonio menikahinya? begitu pikir Aurelie. Namun ia tak berani bertanya secara langsung.
__ADS_1
"Aku.....aku mencintaimu, apa kau benar-benar tidak tahu itu?" Antonio merasa frustasi, ia menunduk dalam-dalam sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kau..... mencintaiku?"
Antonio menatap lekat Aurelie dengan dalam.
"Sudah ku bilang, aku tidak pandai berkata-kata. Jadi hanya ini yang bisa aku lakukan. Memaksamu agar mau menikah denganku."
Seketika itu, Aurelie berlinang air mata. Tak pernah iya menyangka jika pria di hadapannya ini mencintainya.
Antonio menghapus jejak air mata Aurelie dengan ibu jarinya. Kemudian mendaratkan ciuman di kening Aurelie cukup lama.
Setelah itu, Aurelie segera memeluk Antonio dengan erat. Ia menangis dengan cukup keras hingga membuat Antonio kelabakan.
"Hei, apa yang terjadi? Kenapa kau malah menangis seperti ini?" tanya Antonio panik.
"A aku kira kau hanya memanfaatkanku. Aku kira kau hanya akan menjadikanku boneka untuk menyenangkan mama." kata Aurelie terbata-bata karena isak tangisnya.
"Dasar bodoh, mana mungkin aku melakukan itu. Kau istriku, hanya milikku."
***
Setelah drama yang terjadi di hotel, sepasang pengantin baru itu memilih untuk kembali ke rumah besar. Disana, sudah ada Ny. Stevanie dan juga Tn. Lefrand yang menyambut kedatangan mereka.
"Aku tidak apa-apa, ma. Ini hanya......."
"Kurang tidur, mata Aurelie sembab karena kurang tidur. Iya kan, sayang?"
"Eng, iya ma."
"Ah, pasti semalaman kalian begadang ya. Maka jadi semakin tidak sabar untuk menggendong cucu."
Setelah obrolan ringan itu mereka semua pun makan malam bersama.
***
Setelah makan, Antonio mengajak Aurelie untuk pergi ke kamarnya. Dan Aurelie hanya ikut tanpa mengatakan apa-apa.
"Maaf, kalau kamar ini tidak sesuai seleramu. Aku belum bisa merenovasi kamar ini, karena pernikahan kita begitu mendadak."
"Tidak apa-apa, ini sudah cukup nyaman."
"Setelah honeymoon, kita akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu. Sampai aku bisa menemukan rumah yang cocok untuk kita."
__ADS_1
"Kita pergi honeymoon?"
"Emmm, kalau kau tidak mau. Tidak apa-apa."
"Tentu saja, ayo kita pergi. Kau yang memilih tempatnya, ya. Dan aku akan mengikuti kemana pun kau membawaku, suamiku." kata Aurelie yang kemudian tertawa senang.
Antonio terpesona dengan tawa Aurelie, menurutnya Aurelie terlihat sangat cantik dengan tawanya itu. Hingga tanpa sadar satu tangan Antonio menyentuh pipi Aurelie dan dia pun mendaratkan bibirnya di bibir Aurelie.
Aurelie sempat kaget dengan apa yang dilakukan Antonio, namun kemudian dia tersenyum dan membuka mulutnya. Mengijinkan Antonio untuk mencecap bibirnya dengan leluasa dan mengeksplore mulutnya dengan bebas. Mereka berciuman cukup lama, hingga akhirnya berhenti karena nafas mulai habis. Dan Aurelie pun tersenyum.
"Bolehkah?" tanya Antonio tiba-tiba dengan suara berat, dan di jawab gelengan oleh Aurelie.
Seketika Antonio pun menunduk lesu, tapi Aurelie justru tertawa di buatnya.
"Tidak boleh, karena aku sedang datang bulan. Baru tadi siang aku dapat."
"Oh, aku kira kau tidak mau melakukannya denganku." kata Antonio malu-malu.
"Tidak,"
"Jadi, kapan itu selesai?"
"Emm, harusnya Minggu depan," jawab Aurelie memasang wajah serius dan menggoda Antonio.
Dan benar saja, Antonio langsung cemberut. Karena merasa hasratnya harus tertahan sampai satu Minggu kedepan.
.
.
.
.
.
.
.
TERIMA KASIH, UNTUK KALIAN YANG SUDAH MENYEMANGATI AUTHOR UNTUK MENULIS. MAAF ATAS KETERBATASAN AUTHOR, YANG TIDAK BISA SERING UP DAN MENULIS BANYAK CHAPTER UNTUK MEMUASKAN KALIAN.
TAPI, SETIDAKNYA AUTHOR SUDAH BERUSAHA.
__ADS_1
TETAP JAGA KESEHATAN, SEMUANYA.