Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 69


__ADS_3

Keesokan harinya Albert bersiap berangkat ke Jerman untuk perjalanan dinasnya. Saat dirinya tengah sibuk mempelajari dokumen penting melalui ipadnya, sedangkan Sena dengan intens memandangi wajahnya.


"Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Apakah kau baru sadar kalau calon suamimu itu tampan?" tanya Albert tanpa mengalihkan pandangannya dari Ipad.


"Cih, omong kosong. Yang ada putraku lebih tampan." kata Sena membuang muka.


"Kau lupa, ya. Kalau putra kita itu menuruni wajah tampanku." kata Albert berjalan mendekati Sena.


"Hemmm, kau mau aku antar ke bandara?" tanya Sena.


"Tidak perlu, aku akan berangkat menggunakan taksi." jawab Albert lalu memeluk Sena dari belakang.


"Barang yang kau bawa sedikit sekali?" kata Sena memperhatikan tas bawaan Albert.


"Emm, karena semua barang yang kubutuhkan akan di bawakan sekretarisku langsung." kata Albert tanpa melepaskan pelukannya.


"Oh,"


"Sekretarisku seorang wanita cantik dan pintar."


"Lalu?"


"Kau tidak cemburu bila aku melakukan perjalanan dinas dengan seorang wanita?"


"Untuk apa aku cemburu? Secantik apapun wanita yang pergi bersamamu, kau juga tidak mungkin menyentuhnya."


"Darimana kau tahu?" tanya Albert melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh Sena agar menghadap ke arahnya.


"Dave memberitahuku. Kau itu kan punya misophobia, jijik dengan hal-hal yang berkaitan dengan sentuh menyentuh seolah orang-orang itu penuh dengan bakteri."


"Tidak semuanya, nyatanya kau saja sudah sering ku ci..... ummmm." kata Albert terpotong karena Sena membekap mulutnya.


"Jangan mengatakan itu disini. Nanti papi mendengarnya." kata Sena melirik ke bilik Laurence.


"Kenapa? Kau malu?" goda Albert setelah melepaskan bekapan Sena dari mulutnya.


"Bukan begitu. Oh iya, kenapa kalau denganku kau malah seenaknya menyentuh?"


"Karena aku mencintaimu."


"Aku serius."


"Ntahlah, semenjak bersamamu aku merasa misophobiaku jadi sedikit sembuh."


"Benarkah?"


"Hemm."


"Berarti aku harus takut kalau kau nanti macam-macam dengan sekretarismu yang cantik dan pintar itu."


"Katanya kau tidak cemburu tadi."


"Sekarang aku cemburu."


"Dasar, tenang saja. Sekretarisku itu sudah menikah bahkan sudah punya tiga anak. Kau tidak akan pernah teralihkan dan tergantikan, percayalah." kata Albert mengelus lembut pipi Sena.


"Aku mencintaimu." kata Sena menatap lekat mata Albert.


"Aku lebih mencintaimu." kata Albert tak mau kalah.


--------"-------


Waktu sudah menunjukkan sore hari, Albert pun sudah sekitar empat jam yang lalu pergi untuk perjalanan dinasnya. Kini di teras kamar rumah sakit, Sena berdiri menikmati senja yang ada di hadapannya.


"Eeeennnggghh."


"Papi sudah bangun?" tanya Sena menghampiri Laurence.


"Emm, Albert sudah pergi?" tanya Laurence sembari mendudukkan badannya dan bersandar di kepala ranjang.


"Ya, pesawatnya terbang sekitar empat jam yang lalu. Sekarang pasti masih di dalam pesawat."


"Sena, papi ingin tahu bagaimana kehidupanmu selama hampir delapan tahun pergi."


"Aku menjalani hidup yang baik. Papi tidak perlu khawatir."


"Maafkan papi, karena kecewa dengan papi kau harus melewati hidup seperti ini."


"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang semuanya baik-baik saja. Oh iya, putraku Alnorld tampan kan?" tanya Sena dengan menopang wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Ya, dia anak yang sangat tampan seperti daddynya. Mengingatnya saja membuatku semakin bersemangat untuk sembuh. Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengannya." jawab Laurence sembari membayangkan wajah cucu tersayangnya.


"Ya, aku juga tak memungkiri paras tampan putraku diturunkan dari daddynya. Tapi percayalah, papi. Kecerdasannya itu murni dariku." kata Sena bangga.


"Hahahahaha, ya ya ya. Papi percaya."


"Hehehe"


"Bagaimana dengan Albert? Dia terlihat sangat mencintaimu."


"Emm, dia baik padaku dan Alnorld. Tampan dan terlebih lagi kaya. Dia sangat ideal bukan menjadi suami dari Sena Laurenchia?" kata Seca mengerlingkan matanya nakal.


"Kau ini."


"Hehehe."


Sementara itu setelah melakukan penerbangan lebih dari tujuh jam, kini Albert sudah menginjakkan kakinya di Jerman. Dan ternyata sesampainya disana sekretarisnya sudah siap untuk menjemputnya di bandara.


"Bos, anda sudah sampai."


"Ku kira kau akan sampai lebih lambat dariku."


"Saya tidak mungkin berani."


"Baiklah, jam berapa meetingnya besok?"


"Meeting akan dilaksanakan pukul sembilan waktu setempat. Dan masih ada waktu tiga jam sebelum acara makan malam dengan direktur Wilbert. Anda bisa istirahat dulu. Saya sudah membokingkan kamar hotel di tempat terdekat dengan perusahaan."


"Oke."


Sesampainya di hotel, Albert kembali mengaktifkan handphonenya dan melihat beberapa panggilan dan pesan dari sang putra.


"Alnorld? Tumben sekali bocahku menelpon." gumam Albert tersenyum kemudian menelpon kembali putranya.


tut


tut


tut


Alnorld : Hallo?


Alnorld : Apakah harus ada apa-apa dulu baru boleh menelpon daddy?


Albert : Bukan begitu, son. Daddy hanya khawatir. Sekarang daddy sedang ada di Jerman untuk perjalanan dinas.


Alnorld : Hmm, aku tahu.


Albert : Ya sudah kalau kau sudah tahu. Bagaimana kabar oma dan opa?


Alnorld : Mereka baik-baik saja. Tapi kakekku sedang sakit, bukan?


Albert : Bagaimana kau tahu?


Alnorld : Daddy tak perlu tahu. Kapan daddy dan mommy pulang?


Albert : Secepatnya, son. Kau harus menjadi anak baik dan menunggu kami. Oke.


Alnorld : Aku memang anak baik, daddy.


Albert : Ya ya ya. Daddy tahu. Sudah dulu, ya. Daddy akan menelpon mommymu untuk mengabari jika daddy sudah sampai.


Alnorld : Baiklah. Bye, daddy.


Albert : Bye, son.


tut


tut


tut


"Sekarang aku harus menelpon gadis cantikku." kata Albert sembari membuka daftar kontaknya.


tut


tut


tut

__ADS_1


Albert : Hallo, gadis cantikku.


Sena : Hmm, aku sudah bukan seorang gadis kalau kau ingat. Aku seorang ibu satu anak.


Albert : Oh iya, aku lupa.


Sena : Kau fikir siapa yang merenggut kegadisanku?


Albert : Emm, seorang pria tampan bukan.


Sena : Sudahlah, berhenti bercanda. Kau sudah sampai?


Albert : Sudah. Aku merindukanmu, sayang.


Sena : Masa bodoh dengan rindumu. Awas saja kalau kau macam-macam disana.


Albert : Macam-macam bagaimana maksudmu, sayang? Kalau kau tak percaya padaku kau bisa menyusulku kesini.


Sena : Tidak, aku tidak akan membuang-buang waktuku untuk menyusulmu kesana.


Albert : Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibu dan anak ini. Kenapa semuanya seperti sedang memusuhiku. (gerutu Albert)


Sena : Kau bilang apa?


Albert : Bukan apa-apa, sayang. Ya sudah kalau begitu, aku akan istirahat sebantar karena nanti malam aku harus menghadiri jamuan makan malam. Sampaikan salamku pada papimu. Love you.


Sena : Baiklah, love you too.


Albert menutup teleponnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya. Dan tak butuh waktu yang lama, Albert pun terlelap dalam tidurnya.


Setelah beberapa saat tertidur, Albert terbangun oleh alarm dari handphone yang sebelumnya telah distel.


"Sejujurnya aku ingin tidur lebih lama." gumam Albert sembari mematikan alarm di handphonenya.


Albert meninggalkan ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama bagi Albert untuk mandi dan bersiap.


tok


tok


tok


"Ya, tunggu sebentar." teriak Albert kemudian berjalan menuju pintu.


"Sudah waktunya berangkat, bos."


"Ayo."


Sesampainya di restoran,


"Selamat malam, Tuan Nero." sapa Wilbert.


"Silakan panggil saya Albert, Tuan Wilbert. Santailah pada saya, karena Anda lebih tua dari saya." kata Albert sopan.


"Ini......" tanya Wilbert menunjuk ke arah wanita di samping Albert.


"Oh, ini Karina sekretaris saya."


"Syukurlah." gumam Wilbert pelan.


"Ya, Tuan?" tanya Albert yang tak begitu mendengar gumaman Wilbert.


"Tidak tidak, mari kita mulai makan malamnya." ajak Wilbert.


Di tengah-tengah acara makan malam tiba-tiba datang seorang wanita ke meja mereka.


"Selamat, malam. Maaf aku terlambat." sapa wanita itu.


"Oh, sayang. Kau sudah sampai." kata Wilbert memandang senang.


"Duduklah disini, Keyla." saut Ny. Wilbert dengan menepuk kursi di sebelahnya.


"Ya, ma." kata wanita itu kemudian duduk di kursi yang di tunjuk sang mama.


"Albert, perkenalkan ini Keyla putriku." kata Wilbert memperkenalkan Keyla. Albert hanya tersenyum mengangguk ke arah Keyla begitupun sebaliknya.


"Mari kita lanjutkan dulu makannya." ajak Ny. Wilbert.


Mereka pun melanjutkan acara makan malam dengan suasana yang tenang.

__ADS_1


__ADS_2