
Flashback
"Ibu sudah tahu, tentang Sena." kata Ibu William di suatu sore di teras belakang rumah.
Dimana saat itu William dan kedua orangtuanya tengah menikmati secangkir teh dan beberapa camilan.
William tertegun mendengar penuturan sang ibu. Mungkinkah ibunya akan memintanya untuk menyerah, atau mungkin memberinya semangat untuk memperjuangkan cintanya.
"Kau tidak bisa berbuat demikian, nak. Sebesar apapun kau mencintainya, kalau Sena lebih memilih untuk bersama Albert yang merupakan ayah dari putranya. Kau bisa apa?" kata ibu Willia melanjutkan kalimatnya.
"Tapi aku sangat mencintainya, bu." kata William keras kepala.
"Ibu tahu, tapi bukankah nilai dari cinta adalah dengan membiarkan orang yang kau cintai bahagia? Relakan dia, nak. Kelak, dia akan menjadi kakak iparmu. Istri dari kakak sepupumu." kata ibu William berharap sang putra mengerti.
"Lusa ikutlah kami ke Jerman." kata ayah William yang sedari tadi hanya menyimak.
"Untuk apa?" tanya William.
"Berlibur agar kau tidak stress." kata ayah William kemudian beranjak dari duduknya.
Ibu William tersenyum menepuk pundak sang putra kemudian beranjak menyusul sang suami.
"Haaaahhh." William mendesah frustasi.
Di dalam kamar orangtua William,
__ADS_1
"Coba katakan padaku, apa yang kau rencanakan?" tanya ibu William pada suaminya.
"Kau masih ingat dengan sahabatku Wilbert, yang tinggal di Jerman?"
"Emm, ya."
"Sebenarnya sejak lama kami ingin melakukan perjodohan antara William dan putrinya. Putrinya sangat cantik, tidak kalah dengan Sena."
"Benarkah?"
"Iya, coba lihatlah ini." kata ayah William menunjukkan foto seorang gadis cantik di ponselnya.
"Cantik. Tapi, apakah kau fikir William akan setuju?"
"Pasti. Tapi sebelum memberitahunya tentang perjodohan ini. Biarkan mereka bertemu satu sama lain dulu."
"Ya, harus. Aku sudah mengabari Wilbert untuk mengatur acara makan malamnya."
"Baguslah. Semoga putraku segera menemukan kebahagiaannya." kata ibu William kemudian menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
Dua hari kemudian, di Jerman.
Tok
tok
__ADS_1
tok
"Ya, sebentar." teriak William dari dalam kamar hotel.
ceklek,
"Bocah ini, kenapa kau belum bersiap-siap?" tanya ibu William jengkel.
"Memangnya mau pergi kemana?" tanya William dengan wajah lelah.
"Makan malam, segera bersiaplah. Pakai baju yang rapi. Tata rambutmu, jangan biarkan amburadul seperti itu. Ibu dan ayah akan menunggumu di lobi." jawab ibu William.
"Emm, baiklah." kata William menurut.
Setelah ibunya pergi, William segera bersiap. Ia memilih untuk mengenakan sebuah kemeja lengan panjang bewarna hitam yang lengannya di lipat hingga ke siku. Jam tangan cartier favoritnya tersemat apik di pergelangan tangannya yang besar. Tak lupa ia kenakan sepatu kulit keluaran Gucci yang dipilihkan ibunya beberapa hari yang lalu. Setelah selesai dengan pakaiannya dan merapikan rambutnya, ia pun segera turun ke lobi dimana ayah dan ibunya menunggu.
"Hanya makan malam kenapa ayah dan ibu begitu rapi?" tanya William ketika sudah di hadapan orangtuanya.
"Makan malam kali ini sangat penting untukmu." kata ayah William tersenyum melirik sang istri.
"Maksud ayah?" tanya William bingung.
"Sudah, ikut saja." kata ibu William tersenyum.
Setelah melakukan perjalanan dengan mobil dengan durasi yang tidak terlalu panjang, sampailah William dan kedua orangtuanya di sebuah restoran mewah di pusat kota Berlin. Ibu William dengan anggun berjalan memasuki restoran dengan menggandeng tangan ayah William. Dan William sendiri hanya mengekori saja di belakang.
__ADS_1
Di sebuah meja, sudah menunggu seorang pria paruh baya dengan dua orang wanita di sebelahnya. Bisa William tebak, jika wanita yang duduk tepat di sebelah pria paruh baya itu adalah istrinya dan wanita di sebelahnya lagi mungkin adalah putrinya.
William mendesah pelan, ia bukan pria polos dan bodoh yang tidak menyadari maksud terselubung dari makan malam kali ini. Namun William hanya diam dan hanya mengikuti skenario yang sudah di atur oleh orangtuanya.