
Aurelie sudah bertekad untuk menerima tawaran Antonio. Ia bersedia menjadi asistennya dan akan membantu segala hal yang diperlukan (calon) atasannya itu.
Aurelie melangkahkan kakinya tanpa keraguan sedikitpun. Pintu ruangan Antonio pun sudah terlihat oleh matanya. Sebelum memasuki ruangan itu, ia terlebih dahulu menghampiri meja Renee.
"Permisi, saya ingin bertemu tuan Antonio."
Tanpa menanggapi perkataan Aurelie, Renee mengambil gagang teleponnya dan memberitahukan kepada Antonio bahwa Aurelie ingin bertemu.
"Masuklah," kata Renee dengan ketus tanpa menghilangkan tatapan sinisnya sejak kedatangan Aurelie.
"Terima kasih,"
Aurelie mendekati pintu itu dan mengambil nafas panjang sebelum mengetuknya.
tok
tok
tok
"Masuk,"
Aurelie membuka pintu itu dengan hati-hati dan mulai berjalan masuk.
"Jadi, kau terima tawaranku?" tanya Antonio begitu Aurelie memasuki kantornya.
"Iya, tuan."
Antonio menatap Aurelie dengan tanpa ekspresi. "Baiklah kalau begitu sekarang kau pulang dan mulailah bekerja besok."
"Yang benar saja, apakah cuma itu yang perlu dia katakan?" gerutu Aurelie dalam hati.
"Kau tidak pergi?" tanya Antonio masih dengan mimik yang sama.
"Oh, i itu... baiklah. Selamat sore, Tuan."
***
Aurelie bangun pagi sekali, sudah beberapa kali ia berganti pakaian. Mencari sesuatu yang cocok dan pantas untuk dia kenakan di hari pertamanya bekerja sebagai asisten.
Setelah yakin dengan apa yang ia kenakan, Aurelie pun segera menghampiri ibunya di dapur.
"Ibu, aku akan mengambil ini." kata Aurelie menyomot sepotong roti yang sudah di siapkan ibunya dan memakannya dengan buru-buru.
Dan benar saja, tiba-tiba Aurelie terbatuk-batuk karena tersedak.
"Uhhuuukk uhuk"
Daneila menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya kemudian menyodorkan segelas air pada Aurelie.
"Pelan-pelan makannya."
Aurelie mengangguk. Ia berusaha menelan sisa makanan di mulutnya dan meminum air yang masih tersisa di gelas.
__ADS_1
"Emm, sudah. Aku berangkat, ibu."
***
Perusahaan masih tampak sepi saat Aurelie sampai. Tidak banyak karyawan yang terlihat, membuat Aurelie semakin yakin bahwa dia datang terlalu pagi dan merutuki kebodohannya makan terlalu sedikit dan secepat kilat hanya karena ini hari pertamanya bekerja.
"Wah, aku datang terlalu pagi karena bersemangat. Dimana aku harus menunggu, ya." gumam Aurelie memperhatikan sekitar.
Karena tidak tahu harus menunggu dimana, ia pun terpaksa naik ke lantai 7 dan menunggu tepat di depan kantor Antonio.
Tak lama kemudian, Renee tiba disana. Ia memasang wajah heran bercampur kesal melihat Aurelie yang pagi-pagi sudah datang untuk bertemu Antonio.
"Aku heran, sebenarnya untuk apa kau terus-menerus kemari. Kau mau menggoda pak Antonio? Mengacalah, dulu."
"Maaf, tapi saya kemari memang diminta oleh pak Antonio."
"Hah, sok jadi orang penting saja. Sampai wakil direktur mencarimu." Renee tersenyum meremehkan tak percaya dengan yang dikatakan Aurelie.
Aurelie tak ambil pusing dengan perkataan Renee, karena terlihat jelas kalau wanita itu cemburu padanya yang beberapa hari ini datang dan bertemu langsung dengan Antonio. Dengan kata lain, Renee terlihat sangat menyukai calon atasannya itu tapi tidak berkesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya.
Selang beberapa menit kemudian, Antonio pun datang. Renee dengan sopan dan lembut menyapa Antonio dengan wajah sok manisnya. Membuat Aurelie bergidik melihat kelakuan sekretaris itu.
"Panggilkan kepala HRD, suruh dia menghadapku sekarang." perintah Antonio pada Renee.
"Baik, pak."
Setelah bicara dengan Renee, Antonio menoleh pada Aurelie.
Aurelie hanya menurut dan ikut masuk ke dalam kantor Antonio.
"Duduklah dulu,"
"Baik, pak."
Antonio mengecek beberapa dokumen yang berada di atas mejanya. Itu adalah sisa pekerjaannya kemarin yang tidak selesai karena menemani Albert mencari oleh-oleh untuk Sena dan Alnorld.
Aurelie memperhatikan Antonio yang tengah fokus membaca dan menandatangani dokumen itu. Ia terpana melihat bos barunya yang tampak sangat serius. Ia menatap Antonio tanpa berkedip sekalipun.
"Ternyata dia juga terlihat sangat tampan saat fokus dengan pekerjaannya." gumam Aurelie.
tok
tok
tok
"Masuk!"
ceklek,
"Bapak memanggil saya?" tanya pria paruh baya yang diyakini Aurelie sebagai kepala HRD.
"Iya. Buatkan surat kontrak berdasarkan dokumen ini. Rincian gaji dan tugas semua ada disini. Kau hanya perlu menyalinnya saja." Antonio menyerahkan map berisi dokumen kepada pria itu.
__ADS_1
"Baik, pak."
"Kerjakan sekarang. Setelah selesai, tolong langsung bawa kemari."
"Baik, akan saya kerjakan sekarang. Permisi."
Setelah kepala HRD itu keluar dari kantor, Aurelie memberanikan diri untuk menghampiri Antonio di mejanya.
"Emm, tuan. Eh, bukan. Maksud saya PAK."
Antonio menegakkan kepalanya menatap Aurelie yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Itu, saya mau menyerahkan ini. Ini surat lamaran kerja dan dokumen-dokumen saya lainnya." Aurelie menyodorkan map yang ia bawa.
"Tidak perlu. Aku sudah punya semua informasinya."
"Apa?" tanya Aurlie kaget dan bingung.
Antonio menatap tajam Aurelie,
"Kenapa?"
Tatapan tajam Antonio menyadarkannya, pasti Antonio sudah menyelidikinya terlebih dahulu. Makanya ia tidak perlu repot menyerahkan surat lamaran beserta kawan-kawannya untuk formalitas perekrutan pegawai baru. Ia pun mengalah dan mendekap kembali map yang ia bawa.
"Tidak, bukan apa-apa. Itu, apa yang harus saya kerjakan?"
Antonio mengedarkan pandangannya, hingga perhatiannya menangkap tumpukan dokumen lama di sudut meja yang tampak sedikit berantakan.
"Susun dokumen ini berdasarkan bulan dan tahun di rak itu. Sekalian, rapikanlah."
"Baik, pak. Sebelum itu, apakah anda perlu saya buatkan kopi?" Aurelie menawari.
"Boleh,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1