
tok
tok
tok
Mendengar pintu kamarnya di ketuk, Aurelie pun beranjak dari ranjangnya.
"Iya, bi. Ada apa?" tanya Aurelie lembut.
"Ada Ny. Daneila di bawah, Nyonya."
"Ibu?"
"Iya, Nyonya."
Aurelie segera turun dan menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ibu! Kenapa ibu tidak mengabari ku kalau akan kemari?"
"Ibu sudah berusaha menghubungimu. Tapi handphone mu tidak aktif, nak."
"Benarkah? Aku pasti lupa mengisi daya nya."
"Karena kau tidak bisa dihubungi, ibu langsung menghubungi suamimu. Dan kata suamimu mulai hari ini kau tidak bekerja. Tadinya ibu akan datang sore hari, tapi karena tahu kau ada di rumah maka ibu segera datang kemari."
"Ah, aku senang sekali ibu datang. Emm, harum sekali. Apakah ibu membuatkanku chiffon cake?" tanya Aurelie mengambil sebuah kotak di meja dan membukanya.
"Ah, penciumanku memang tidak pernah salah. Chiffon cake buatan ibu memang terbaik."
"Sini, biar ibu siapkan untukmu."
"Jangan, ibu disini saja menemaniku."
"Bibi!"
"Ya, Nyonya."
"Tolong siapkan kue ini untuk kami, ya. Buatkan teh dengan madu juga." pinta Aurelie dengan sopan.
__ADS_1
"Baik, nyonya."
"Oh iya, kotak yang satu itu untuk anda dan maid yang lain. Saya membuatnya sendiri, semoga kalian suka." kata Ny. Daneila berdiri menyodorkan sekotak kue yang lain.
Maid itu merasa senang menerima sekotak kue dari Ny. Daneila. Bentuk perhatian yang diberikan Ny. Daneila pada para maid disana, membuat maid itu tidak heran dengan perhatian yang sering di berikan oleh Aurelie. Ternyata sikap lembutnya dia turuni dari sang ibu.
"Terima kasih, Ny. Daneila. Ini akan segera saya siapkan." kata maid itu kemudian segera pergi ke dapur.
"Jadi, kenapa kau tiba-tiba berhenti bekerja nak?"
"Oh, itu karena ada cucu ibu disini." jawab Aurelie seraya mengelus perut ratanya.
"Sungguh?" tanya Ny. Daneila bersemangat.
Aurelie mengangguk mengiyakan, membuat Ny. Daneila dengan refleks membawa Aurelie dalam pelukannya.
"Ibu tak pernah menyangka akan menjadi nenek secepat ini. Ya Tuhan..."
"Aku juga tidak menyangka akan menjadi ibu secepat ini, Bu."
"Putriku sangat diberkati. Sudah berapa Minggu usianya?"
"Ibu sangat bahagia, sayang. Apa mertuamu sudah tahu?"
"Belum, ibu. Rencananya nanti malam aku dan Antonio akan membuat panggilan video dan mengejutkan mama dan papa dengan berita ini."
"Ya sudah kalau begitu. Mulai sekarang kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu. Karena sekarang di badan kecil ini juga ada nyawa lain yang perlu kau jaga."
"Iya, ibu. Aku sangat menyayangi ibu. Terima kasih sudah melahirkanku."
Aurelie dan Ny. Daneila pun menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol banyak hal. Aurelie pun mulai senang bertanya seputar kehamilan pada ibunya. Hingga akhirnya tak terasa hari pun sudah petang.
Antonio segera turun dari mobilnya dan berjalan cepat memasuki mansion.
"SAYANG!!!" teriak Antonio memanggil istrinya.
"AKU DI RUANG MAKAN!" teriak Aurelie menjawab panggilan Antonio.
Tanpa aba-aba, Antonio pun segera menghampiri Aurelie.
__ADS_1
"Aku pulang," kata Antonio yang langsung memeluk Aurelie.
"Sayang, ada ibu disini." kata Aurelie membuat Antonio melepaskan pelukannya tiba-tiba.
"Ibu," sapa Antonio dengan wajah malunya.
"Tidak apa-apa, ibu juga pernah muda." kata Ny. Daneila tersenyum.
"Malam ini ibu menginap saja disini." kata Aurelie.
"Iya, Bu. Menginaplah." lanjut Antonio.
"Tidak usah, besok pagi-pagi ibu ada acara bakti bersama para tetangga ke panti asuhan."
"Emm, kalau begitu biarkan nanti aku antar ibu pulang." kata Antonio menawarkan diri.
"Tidak perlu, nak. Kau pasti lelah, ibu bisa pulang dengan taksi."
"Kalau ibu menolak untuk ku antar, biarkan supir saja yang mengantar. Oke,"
"Ibu, kali ini tolong jangan menolak." kata Aurelie dengan wajah memohon.
"Baiklah,"
"Kalau begitu, ayo kita makan." ajak Aurelie.
Mereka pun makan malam bersama dan setelah makan malam, Ny. Daneila pun pamit untuk pulang di antar oleh supir keluarga.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
LANJUT LAGI NIH,