
"Apakah dia akan baik-baik saja? Dia terlihat sangat terpukul."
"Kenapa kau perhatian sekali padanya, sayang. Itu membuatku cemburu."
"Bukan begitu, aku hanya kasihan. Lagi pula, dia sahabatmu Albert. Seharusnya kau tidak meninggalkan dia begitu saja dalam keadaan seperti ini."
"Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran, sayang. Oh iya, kita akan kembali ke negara X sore ini."
***
Antonio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Luapan emosi membuatnya tak bisa berfikir jernih dan tidak fokus untuk menyetir hingga berkali-kali hampir membuat diri sendiri celaka.
Hingga tak perlu waktu lama, sampailah Antonio di sebuah gedung perusahaan yang cukup terkemuka di negara tersebut. Antonio melangkahkan kakinya lebar dan terburu-buru hingga mengabaikan salam dari para karyawan perusahaan tersebut. Setelah menaiki lift menuju lantai paling atas gedung, Antonio segera mengambil langkah ke ruangan yang ia tuju. Ruang Presiden Direktur.
BRRRAAAAAKKKK
Antonio membanting pintu ruangan tersebut membuat dua orang yang berada di dalamnya terperanjat kaget.
"Katakan padaku, apa yang papa lakukan pada Abigail."
Pak Presdir yang merupakan ayah Antonio segera memberi isyarat kepada orang kepercayaannya untuk keluar. Maka segeralah ia keluar meninggalkan ruangan yang penuh aura kemarahan dari sang pewaris perusahaan yang tak lain adalah Antonio.
"JAWAB AKU, PA!!! APA YANG AYAH LAKUKAN PADA ABIGAIL?" Antonio tidak lagi bisa menahan emosinya sehingga tanpa sadar meninggikan suaranya.
"Abigail? Teman kuliahmu?" tanya sang ayah santai.
"Papa masih ingat padanya kan? Cepat katakan padaku apa yang sudah papa lakukan padanya?" Antonio memohon dengan wajah yang terlihat kacau.
"Papa hanya melakukan apa yang seharusnya seorang ayah lakukan demi masa depan anaknya."
"Jelaskan padaku. Apa yang papa maksud demi masa depanku? Hah!!"
__ADS_1
"Papa hanya meminta tolong padanya untuk membuatmu pulang."
"Papa tahu apa yang ayah lakukan? Selama ini aku mengira mereka telah mengkhianatiku hingga membuatku sangat terluka. Tapi kenyataannya, ternyata papalah yang melukai hati anak ayah sendiri." Antonio menangis, badannya bergetar dengan hebat begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya terjadi. Tubuhnya luruh begitu saja karena Antonio tak sanggup lagi menopangnya.
"Apa papa tahu, karena papa selama ini aku membencinya. Tanpa sadar melukai hati nuraninya. Aku yang bodoh dulu kenapa dengan mudahnya termakan jebakan yang papa dasari?" lanjut Antonio.
Sang ayah berdiri dari kursi kebesarannya dan menghampiri Antonio.
"Bangun," perintah sang ayah.
"Kenapa pa? Bahkan karena papa juga aku jadi kehilangan sahabat baikku. Membuatku membencinya, bahkan berniat untuk menghancurkannya sedikit demi sedikit."
"Bangun, Antonio." perintah sang ayah sekali lagi.
"Kenapa, pa?"
PLAAAAKKK,
Sang ayah melayangkan tamparan yang cukup keras di pipi Antonio. Membuat pria yang awalnya menangis meraung menjadi diam seketika.
Setelah mendapatkan tamparan dari sang ayah, Antonio pun berdiri dan meninggalkan ruangan sang Presdir tanpa berbalik sedikitpun.
***
"Kenapa kita tiba-tiba pulang?" tanya Alnorld pada Sena.
"Karena pekerjaan Daddy disini sudah selesai, sayang." jawab Sena tanpa melihat ke arah Alnorld karena masih mencoba untuk menutup kopernya yang penuh.
"Padahal kita kan belum jalan-jalan." Alnorld bergumam kesal.
ceklek,
__ADS_1
"Apakah sudah siap semua?" tanya Albert begitu masuk ke dalam kamar.
"Sudah, semuanya." jawab Sena menunjuk beberapa koper yang sudah berdiri dengan rapi.
"Alnorld kenapa?" bisik Albert pada Sena saat menyadari sikap Alnorld yang tidak biasa.
"Dia sepertinya marah, karena kau mengajak kita pulang sangat mendadak. Apalagi kau belum melaksanakan janjimu untuk membawanya pergi liburan." jawab Sena berbisik di telinga Albert.
"Ah, iya. Kau benar. Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Kau pikir saja sendiri," jawab Sena cuek sembari melenggang keluar dari kamar meninggalkan pasangan ayah dan anak itu.
"Ehem, son?"
"Hemm,"
"Kau marah pada, Daddy?"
Alnorld diam tak memberikan jawaban.
"Bisa kau beritahu Daddy, kau ingin liburan kemana? Daddy akan langsung membawamu kesana sekarang juga sebelum kembali ke negara X."
"Sungguh? Daddy tidak akan membohongiku kan?"
"Tentu saja, tidak. Jadi, kita kemana sekarang?"
"Karena aku tahu Daddy sangat sibuk. Maka aku tidak akan meminta hal yang rumit. Mari ke Universal studio, lalu ke museum madam thausand, Gardens By the bay, dan yang terakhir naik bianglala Singapore Flyer."
"Daddy tidak tahu apakah waktunya cukup atau tidak." Albert memperhatikan jam di tangannya.
"Ya sudah, kita pulang saja."
__ADS_1
Albert tersenyum mengejek kemudian mengambil handphone di saku celananya dan membuat panggilan.
"Katakan pada captain Rio bahwa kepulangannya di undur besok sore."