Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 67


__ADS_3

Dokter memerintahkan suster untuk memindahkan Laurence ke ICU karena kesadarannya semakin menurun.


"Papi, kenapa papi seperti itu Al?" tanya Sena dengan badan gemetar.


"Tenang, biarkan dokter menangani papimu dulu. Kau tenang ya." kata Albert memeluk erat wanitanya.


"Ke kenapa bisa seperti ini?" tanya Sena dalam tangisannya.


Setelah beberapa saat dokter yang menangani Laurence pun keluar dari ruang ICU. Tanpa aba-aba Sena berdiri dari kursi rodanya dan menghampiri sang dokter.


"Bagaimana kondisi papi saya dok?" tanya Sena tak sabar.


"Anda putri tuan Laurence?" tanya sang dokter.


"Iya, saya putrinya. Bagaimana kondisinya?" tanya Sena lagi membuat sang dokter mendesah pelan.


"Mungkin lebih baik kita bicara di ruangan saya, nona. Karena banyak yang harus saya jelaskan pada anda." kata sang dokter.


"Baik dok." kata Sena kemudian mengikuti langkah sang dokter bersama dengan Albert.


di ruangan dokter,


Sena yang ditemani Albert kini sedang duduk di hadapan sang dokter. Menunggu penjelasan tentang kondisi Laurence yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Jadi, tuan Laurence ini adalah pasien saya. Beliau mengalami pembengkakan jantung sejak beberapa bulan yang lalu. Seharusnya sudah dilakukan operasi sejak lama, tapi kondisi tuan Laurence tidak memungkinan untuk menjalani operasi. Karena selain tekanan darahnya yang selalu tinggi, di tambah usianya yang renta membuat kami harus berfikir ulang untuk melakukan operasi pada tuan Laurence." kata dokter menjelaskan.


Sena tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi penjelasan sang dokter. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Tangannya bahkan sudah sigap menutup mulutnya mencegah isakan tangis yang mungkin akan keluar dengan kerasnya.


"Apa ada solusi lain, dok?" tanya Albert.


"Sementara ini belum ada, tuan. Yang kami butuhkan sekarang adalah menurunkan tekanan darah tuan Laurence maka kami akan siap melakukan operasinya. Tapi itu sedikit sulit karena keinginan tuan Laurence untuk sembuh tergolong kecil." jawab sang dokter.


"Kami akan berusaha membuatnya semangat untuk sembuh, dok. Ada putrinya disini, tuan Laurence pasti akan berusaha sembuh untuk putrinya." kata Albert yakin.


"Ya, saya juga berharap demikian. Karena setahu saya putri tuan Laurence menghilang sejak lama. Makanya saya sempat kaget ketika nona ini bilang dia adalah putri tuan Laurence. Semoga dengan kehadiran nona, semangat tuan Laurence untuk sembuh semakin tinggi." kata dokter berharap.


"Sayang, ayo kembali ke kamar. Kau harus istirahat." ajak Albert.


"Aku ingin menemani papi."


"Iya, nanti setelah keadaan paman lebih baik kita akan bisa masuk. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk kita menemui paman."

__ADS_1


"Tapi,..." kata Sena terpotong.


"Sayang, kumohon. Kau juga butuh istirahat." kata Albert merendahkan suaranya dan Sena pun mengangguk menyetujui keinginan Albert.


Hari berikutnya Sena sudah di ijinkan pulang oleh dokter. Seharusnya saat ini adalah saat yang membahagiakan untuknya karena sudah diperbolehkan untuk pulang dan kembali ke negara X. Tapi keadaannya kini berbeda, Sena harus menunda kepulangannya. Tidak mungkin baginya meninggalkan sang ayah dalam keadaan yang memprihatinkan seperti saat ini.


"Papi, Sena hari ini sudah boleh keluar dari rumah sakit. Sena akan menemani dan menjaga papi disini. Jadi papi harus bangun, oke." kata Sena mengelus lembut punggung tangan Laurence.


Syukurnya kini keadaan Laurence sudah lebih baik sehingga dokter kembali menempatkannya di ruang rawat biasa, bukan lagi di ICU. Sehingga Sena dan Albert bisa dengan bebas keluar masuk menunggu Laurence.


Sudah dua hari keadaan Laurence kritis semenjak kesadarannya menurun waktu itu. Dan Sena dengan setia menemani di sampingnya. Albert pun demikian, dengan sabar memberi semangat dan menemani kekasih hatinya.


"Al, bukankah kau harus kembali ke negara X?" tanya Sena begitu melihat Albert memasuki kamar inap Laurence.


"Aku bisa menundanya, sayang. Aku akan menemanimu lebih lama." kata Albert menatap wajah Sena.


"Jangan, kau harus pulang. Kasihan dad bila harus mengurus perusahaan begitu lama. Dad juga butuh istirahat, Al." kata Sena.


"Tapi....."


"Aku tidak apa-apa, sungguh. Saat keadaan papi membaik, aku akan segera pulang." kata Sena seolah tahu apa yang difikirkan oleh Albert.


"Baiklah, biarkan aku berfikir-fikir dulu." kata Albert kemudian keluar dari ruangan.


"S sena?" panggil Laurence lirih.


"Papi, papi sudah bangun. Biar Sena panggilkan dokter dulu ya, pi." kata Sena kemudian berlari keluar ruangan. Saking bahagianya, ia bahkan lupa jika kamar inap Laurence memiliki tombol yang langsung bisa menghubungi para medis.


Tak lama kemudian dokter pun datang bersama satu orang suster.


Dokter dengan teliti memeriksa tanda-tanda vital Laurence.


"Syukurlah, sekarang tuan Laurence bisa keluar dari masa kritisnya. Tapi tekanan darah beliau masih belum normal." kata dokter menjelaskan.


"Syukurlah, terima kasih dokter." kata Sena.


"Kalau begitu saya permisi. Selamat sore, tuan dan nona." pamit dokter di ikuti si perawat.


"Selamat sore, dok."


Sepeninggalnya sang dokter, Laurence kembali membuka matanya.

__ADS_1


"Sena?" panggil Laurence dengan suara serak.


"Ya, papi ingin minum?" tanya Sena dengan lembut kemudian di balas anggukan oleh Laurence. Sena pun memberikan air putih dan membatu Laurence untuk meminumnya.


"Terima kasih, nak." kata Laurence setelah meminum air di gelas dari tangan Sena.


"Sudah, jangan terlalu banyak bicara. Papi harus kembali istirahat." kata Sena kemudian kembali duduk di samping sang ayah.


"Dimana Albert?" tanya Laurence karena tidak mendapati sosok Albert di sekitarnya.


"Dia sedang keluar, pi." jawab Sena.


"Papi dengar kalian akan menikah."


"Iya, benar. Oleh karena itu papi harus sehat agar bisa menghadiri pernikahanku."


"Papi ingin melihatmu menikah sebelum waktu papi habis."


"Papi itu bicara apa. Papi akan hidup lama. Lagi pula, papi harus bertemu dengan cucu papi."


"Alnorld?"


ceklek,


"Hee, bagaimana papi tahu nama putraku?"


"Aku yang memberitahu paman. Maafkan aku, sayang. Bahkan tanpa sepengetahuanmu aku sudah mempertemukan mereka." kata Albert tiba-tiba setelah ia masuk ke dalam ruangan.


"Apa? Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanya Sena menajamkan matanyam


"Emmm, panjang ceritanya. hehehe. Bagaimana keadaan paman?" tanya Albert mengalihkan pembicaraan.


"Papi sudah melewati masa kritisnya. Lihat, papiku sudah terlihat sehat." kata Sena bercanda agar sang ayah lebih semangat untuk segera sehat.


"Kapan kalian menikah?" tanya Laurence.


"Secepatnya." jawab Albert melirik ke arah Sena.


"Papi ingin kalian menikah begitu papi keluar dari rumah sakit." pinta Laurence.


"Baiklah, sehatlah dulu. Setelah itu kami akan menikah." kata Sena cuek.

__ADS_1


Sena tidak sadar, kalau kalimat yang baru saja di lontarkannya membuat seorang pria yang sedang berdiri di dekatnya tersenyum bahagia setengah mati.


__ADS_2