Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 147 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Satu bulan berlalu begitu cepat, Aurelie belajar banyak sekali hal baru. Tidak disangka pula, Renee benar-benar mengajarinya dengan profesional meskipun ada kalanya wanita itu menjadi berkali-kali lipat lebih ketus mana kala Antonio meminta Aurelie masuk ke dalam ruangannya. Bak hati yang dilanda cemburu, Renee pasti berfikiran macam-macam.


Di hari Aurelie menerima gaji pertamanya, ia merasa sangat bahagia. seumur hidup, ia belum pernah menerima gaji sebesar ini mana kala bekerja dengan normal. Misalnya, menjadi pelayan cafe, penjaga kasir minimarket, dan juga sebagai staff kebersihan. Namun, pernah sekali ia mendapatkan bayaran yang lumayan besar sekali. Dan bayaran itu ia dapat setelah semalaman menemani Antonio bermain truth or dare yang berujung menjadi ajang curhat.


Aurelie memasuki ruangan Antonio dan meletakkan sebuah kotak berukuran sedang di atas meja Antonio.


"Apa ini?"


"Ini kue, ibuku membuatnya untukmu sebagai ucapan terima kasih."


"Emm, baiklah."


Aurelie berbalik pergi sambil menggerutu,


"Dia tidak bilang terima kasih kembali. Dasar tidak sopan."


"Aurelie!"


"Iya, Pak. Saya tidak mengatakan apa-apa."


"Bawakan aku teh dan piring kecil."


"Oh, baik."


Aurelie kembali ke ruangan Antonio dengan secangkir teh dan piring kecil.


"Taruh itu di meja tamu."


"Potongkan kue ini untukku. Untukmu juga."


"Saya tidak usah, karena ibu sayamembuat ini untuk anda. Lagi pula saya hanya membawa satu piring kecil kesini."


Antonio mengambil cangkirnya, dan memberikan cawan tatakan cangkir itu pada Aurelie.


"Pakai ini, aku jadi curiga kalau kamu menolak. Apa jangan-jangan di dalam kue ini ada racunnya?"

__ADS_1


"Anda mencurigai ibu saya?"


"Tidak, aku mencurigaimu."


Aurelie mengumpat dalam hati,


"Sialan,"


Aurelie mengambil satu potong besar kue dan langsung melahapnya,


"Lihat, ini enak. Dan saya baik-baik saja,"


Antonio mengambil kue yang sudah tersaji di atas piring dan memakannya. Ia tampak menikmati kue buatan ibu Aurelie. Hingga tak sadar jika gadis di depannya menatapnya dengan tajam.


"Apakah enak?"


"Emm,"


"Anda tidak takut kalau saya dan ibu memasukkan racun di dalamnya?"


Antonio menelan kue di mulutnya, kemudian menatap Aurelie dan berkata,


Aurelie beranjak dari duduknya tanpa menanggapi perkataan bosnya itu. Lalu keluar dari ruangan tanpa sepatah kata pun.


"Tuhan, tolong panjangkan lah ususku agar bisa sabar menghadapi bos yang menyebalkan itu." gumam Aurelie.


Aurelie kembali ke mejanya, ia mendesah kecewa karena tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan. Renee masih belum bisa mempercayainya untuk membantu beberapa pekerjaannya, sehingga hidupnya di kantor lebih banyak menganggur. Dan itu membuatnya tidak nyaman.


Pandangan Aurelie tertuju pada kotak kecil berisikan kue yang sudah ia siapkan untuk Renee di atas mejanya. Dia pun mengambilnya dan membawanya ke meja kerja Renee.


"Ini untuk, kakak."


"Apa ini?"


"Chiffon cake, ibuku yang membuatnya sendiri. Ini sebagai ucapan terima kasih karena kak Renee sudah mengajariku banyak hal. Oh iya, ini ekstra keju. Karena kulihat kak Renee sering memakan keju sebagai camilan. Jadi kupikir kakak pasti suka sekali dengan keju."

__ADS_1


Renee melirik lagi kotak yang di bawa Aurelie, dan mengucapkan terima kasih dengan suara lembut.


"Terima kasih, aku akan memakannya."


"Ternyata dia anak yang baik," kata Renee dalam hati.


Aurelie tersenyum senang mendengar kata-kata Renee, lalu ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Apakah ada sesuatu yang bisa ku kerjakan untuk membantu kakak?"


Renee tampak bingung, mencari sesuatu yang bisa dikerjakan Aurelie untuk membantunya. Kemudian pandangan nya pun tertuju pada tumpukan dokumen yang belum sempat ia susun.


"Emm, ini. Tolong susun berdasarkan tanggalnya."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Akhirnya bisa UP juga. 😪😪😪


Semoga masih ada yang sabar yaa nunggu Author.

__ADS_1


Thank you,


happy reading...


__ADS_2