
Dengan susah payah Antonio memapah tubuh Jason ke dalam apartemennya kemudian merebahkannya di sofa. Dengan langkah lemas Antonio berjalan menuju dapur, membuka kulkas mengambil sebotol air mineral dan langsung menegaknya hingga tak bersisa.
Setelah menghilangkan dahaganya, Antonio masuk ke dalam kamar dan membiarkan Jason sendiri tidur di atas sofa di ruang tamu. Merasa tubuhnya lengket karena keringat, Antonio pun memilih untuk mandi sebelum beristirahat. Di dalam kamar mandi ia berdiri di bawah guyuran air shower berharap fikirannya bisa menjadi lebih tenang setelah kepalanya basah tertimpa air.
***
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh pagi Antonio keluar dari kamarnya sudah dengan berpakaian rapi. Hari ini akan ada rapat penting bersama para pemegang saham diperusahaan sehingga ia harus hadir lebih awal dan mempersiapkannya.
Antonio adalah pribadi yang mandiri, di pagi hari ia akan cekatan menyiapkan segala keperluan pribadinya termasuk soal sarapan. Sekarang Antonio tengah membuat dua cangkir kopi dan toast dengan cream cheese dan alpukat. Setelah semua siap, ia pun membangunkan Jason yang masih setia bergelut dalam mimpi di atas sofanya.
"Hei, bangunlah. Ini sudah pagi."
"Eeengg," hanya itu respon Jason yang kemudian berbalik memunggungi Antonio.
"Bangunlah, bodoh."
"Ayah, berhentilah menggangguku. Aku tidak mau pergi ke Jerman. Aku ingin disini saja." kata Jason mulai mengigau membuat Antonio menyerah dan membiarkannya tidur lebih lama.
"Dasar gila. Dari pada aku terlambat lebih baik kubiarkan saja dia." gumam Antonio kemudian menyantap sarapannya sendiri.
Seusai sarapan, Antonio pun berangkat menuju kantor dan meninggalkan Jason sendiri di dalam apartemennya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan fikirannya masih berkeliaran seputar ayahnya. Antonio tidak tahu harus bersikap seperti apa pada sang ayah saat ini. Karena sudah pasti di rapat pemegang saham hari ini akan mempertemukannya dengan sang ayah. Hatinya masih terluka dan ia masih membencinya. Jadi mungkinkah ia bisa menutupinya dan bersikap seolah-olah semua baik-baik saja?
***
Aurelie tersenyum memperhatikan sang ibu yang tengah diperiksa tanda vital nya oleh seorang perawat. Setelah operasi, kesehatan sang ibu memang tampak jauh lebih baik. Kulitnya yang mulai keriput kembali terlihat segar dan cerah. Rambutnya yang semula kusam pun kini tampak berkilauan. Bagi seorang Aurelie, tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang melihat sang ibu yang kembali sehat dan bisa hidup lama bersamanya. Karena hanya sang ibu yang Aurelie punya di dunia ini.
Ibunya adalah seorang yatim piatu yang di besarkan di panti. Setidaknya Daneila, ibu Aurelie menghabiskan 18 tahun hidupnya disana sebelum akhirnya ia mendapatkan beasiswa dan berkuliah di luar kota. Yang pada akhirnya mengharuskan Deneila untuk hidup mandiri. Dan di kampusnya itu jugalah ayah dan ibu Aurelie bertemu. Jatuh cinta dan akhirnya menikah.
Aurelie tidak menyimpan banyak memori tentang sang ayah. Karena ayahnya meninggal di usia muda, meninggalkan ibu dan dirinya di saat baru memasuki usia lima tahun. Aurelie tak pernah tahu tentang sanak saudara atau asal usul sang ayah. Karena ibunya selalu menghindar bahkan menolak untuk membahas hal itu. Saat Aurelie bertanya apakah ayahnya juga tumbuh di panti seperti ibunya, sang ibu hanya berkata tidak. Jadi, bukankah berarti sang ayah memiliki keluarga? Tapi ntah kenapa, setelah ayahnya meninggal tak ada satupun sanak saudara yang mengunjunginya. Hanya ibu Aurelie seorang diri yang menemani dnamembesarkannya.
"Sudah selesai, tanda-tanda vital semuanya tampak baik. Saya akan melaporkannya pada dokter saat visit nanti. Semoga Ny. Daneila segera bisa pulang ke rumah."
"Terima kasih, suster."
Setelah perawat itu pergi, Aurelie berjalan mendekat pada ibunya. Senyum tak pernah lepas dari bibir Aurelie membuat sang ibu pun ikut merasa bahagia.
"Aku sangat senang ibu kembali sehat."
"Ibu juga senang kembali sehat. Karena itu berarti ibu masih memiliki lebih banyak waktu untuk menemanimu."
"Aku sayang ibu."
__ADS_1
"Ibu juga. Oh iya, kau sudah bertemu dermawan itu?"
"Emm, belum. Sangat sulit mencari info tentangnya." kata Aurelie putus asa membuat raut wajah sang ibu berubah sedih.
"Tapi ibu jangan khawatir, aku akan berusaha untuk mencari tahu agar bisa segera berterima kasih padanya."
"Semoga sang dermawan itu selalu di beri kesehatan. Sampai saat kita bisa membalas kebaikannya." ucap Daneila sembari memeluk dan mencium kepala putrinya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.