
Albert membawa Sena jalan-jalan di taman sekitar rumah sakit dengan kursi roda. Mereka menghabiskan waktu sore bersama dengan menemani Alnorld bermain dengan beberapa anak kecil yang ada di rumah sakit. Hawa dingin sore hari membuat Sena beberapa kali mengusap lengan dengan kedua tangannya.
"Kau kedinginan? Kalau begitu kita kembali saja ke kamar." ajak Albert.
"A aku masih ingin disini."
"Tapi disini begitu dingin, tubuhmu masih lemah. Kau bisa masuk angin nanti." kata Albert membuat Sena menunduk pasrah.
"Baiklah-baiklah, tunggu sebentar disini." kata Albert meninggalkan Sena.
Albert menghampiri seorang suster untuk meminta sebuah selimut. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Albert segera kembali ke taman menghampiri Sena.
"MOMMY!!!" teriak Alnorld melambaikan tangan pada Sena dari kejauhan dan Sena membalas lambaian tangan putranya itu.
Srreeeettt
"Eh," kata Sena kaget begitu ada selimut yang menutupi tubuhnya dari belakang.
"Masih merasa kedinginan?" tanya Albert dan di balas gelengan oleh Sena.
"Terima kasih."
"Sama-sama." kata Albert mengecup kepala Sena.
Mereka pun kembali memfokuskan diri melihat Alnorld yang sedang bermain.
"Sena."
"Ya?"
"Mari menikah."
__ADS_1
"Dengan keadaanku yang seperti ini? Tidak, tidak. Ini akan sangat mempermalukan keluargamu. Pewaris QL Group menikahi wanita cacat. Aku tidak akan bisa membayangkan kalau sampai ada judul berita seperti itu nantinya." kata Sena tersenyum miris menatap kakinya.
"Tidak akan ada yang berani menyinggung Nyonya Albert Nero." kata Albert berbisik ke telinga Sena.
Sena hanya diam tidak bisa berkata-kata lagi. Hingga akhirnya Albert berencana untuk menggoda Sena.
"Atau kata-katamu tadi hanya sebuah alasan untuk menolakku? Katakan, apakah benar seperti itu?" tanya Albert memasang wajah nanar.
"T tentu saja tidak, kau jangan berfikir macam-macam." kata Sena panik.
"Bagaimana aku tidak berfikiran macam-macam. Kau sendiri tidak mencintaiku, kau pasti sudah menyiapkan banyak alasan untuk menolakku." kata Albert dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Aku mencintaimu." kata Sena lirih.
"Apa?"
"A aku mencintaimu." kata Sena lebih jelas.
"Haaaaaah, cukup. Kau tadi hanya memancingku kan? Kau sungguh kekanak-kanakan." kata Sena yang mulai sadar bahwa Albert sedang mengerjainya.
Sena yang sebal dengan Albert berusaha untuk pergi dengan kursi rodanya seorang diri. Namun tiba-tiba tangan besar Albert mencegah kursi roda itu untuk berjalan lebih jauh.
"Aku mencintaimu juga, bahkan lebih mencintaimu dari pada kau mencintaiku." kata Albert tersenyum menatap Sena dengan penuh cinta.
Cup
Albert mengecup bibir Sena singkat, Sena kemudian tersenyum menatap Albert dengan matanya yang berbinar bahagia.
"Haaaaaah, hentikan tatapan matamu yang seperti itu. Itu membuatku tidak tahan." kata Albert memutar tubuhnya membelakangi Sena kemudian mengusap kasar wajahnya.
"Apa?" tanya Sena tidak mengerti.
__ADS_1
"Tidak, ayo kembali ke kamar. Kau harus beristirahat." kilah Albert.
"Tapi......."
"Tidak ada tapi-tapian. SON, ayo kembali." kata Albert berteriak memanggil Alnorld mengajaknya untuk kembali.
"Baik, daddy." kata Alnorld berlari menghampiri kedua orangtuanya.
Di dalam kamar rawat Sena,
"Kau terlihat sangat senang saat bermain tadi, son." kata Albert menyodorkan buah jeruk yang sudah di kupasnya.
"Iya daddy, tadi aku bermain dengan gadis kecil. Dia sungguh imut sekali. Membuatku ingin memiliki seorang adik yang imut seperti dia." kata Alnorld.
"Kau mau seorang adik?" tanya Albert yang di balas anggukan oleh Alnorld dengan semangat.
"Coba katakan itu pada mommymu."
Alnorld pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Sena yang tengah sibuk dengan handphonenya.
"Mommy." panggil Alnorld.
"Ya, sayang." kata Sena menoleh ke arah Alnorld.
"Aku mau seorang adik." kata Alnorld begitu saja.
"Heeee, k kenapa tiba-tiba?" tanya Sena kikuk.
"Aku ingin seorang adik kecil yang imut, seperti gadis kecil yang tadi bermain denganku. Aku mengatakannya pada daddy dan daddy memintaku untuk mengatakannya pada mommy." kata Alnorld polos.
Sena terbelalak sekejap kemudian menatap tajam ke arah Albert yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.
__ADS_1