Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 128 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Antonio menggeliat, merasakan ketidaknyamanan tidurnya. Badannya terasa sakit, terutama di bagian betisnya.


"Hei, Antonio? Kau sudah sadar?"


Antonio mengerjapkan matanya, dan sosok yang pertama kali ia lihat adalah Jason.


"Sedang apa kau disini?" tanya Antonio dengan suara seraknya kemudian duduk dan terbatuk-batuk.


"Minumlah," Jason menyodorkan segelas air putih pada Antonio.


Antonio menerima gelas itu dan menegak habis air di dalamnya.


"Apa kau sudah gila? Aku mencarimu kemana-mana karena asistenmu tidak bisa menghubungimu. Dan ternyata malah menemukanmu di dapur, tergeletak di lantai."


"Aku tidak apa-apa. Kau pulanglah."


"Tidak, malam ini aku akan menginap disini. Lagi pula ini jam dua pagi, kemana aku harus pergi. Aku tidak mau ke rumah."


"Terserah."


"Baiklah, aku tidur di kamar samping. Kalau perlu sesuatu berteriak lah." pesan Jason kemudian meninggalkan Antonio di kamarnya seorang diri.


***


Keesokan paginya,


Ting tong


Ting tong


Ting tong


"Gila, siapa sih pagi-pagi ganggu." gerutu Jason yang langsung bangun dari tidurnya karena mendengar suara bel.


ceklek,

__ADS_1


"Tuan, bagaimana? Apakah pak Antonio sudah ketemu?" tanya Renee, asisten sekaligus sekretaris Antonio.


"Dia di dalam. Mungkin masih tidur."


"Dimana Tuan menemukannya?"


"Dia mabuk di dalam apartemennya."


"Boleh saya melihatnya?"


"Buat apa? Sudah sana, kau berangkatlah bekerja. Aku yang akan membangunkannya. Sana sana, hush." usir Jason yang langsung mengunci pintu apartemen setelah Renee keluar.


Jason tidak begitu menyukai asisten sahabatnya itu karena terlalu terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Antonio. Untung saja Antonio adalah pria yang bebal hingga tidak menyadari bagaimana wanita itu suka mencuri-curi kesempatan untuk mendekatinya.


Setelah mengusir Renee, Jason masuk ke dalam kamar Antonio untuk membangunkannya.


"Hei, kau tidak kerja? Asistenmu tadi kesini mencarimu."


"Eennggh, aku sedang malas ke kantor. Kau pulanglah, aku sedang ingin sendiri sekarang." kata Antonio tanpa membuka matanya.


Belum sempat menjawab perkataan Antonio, suara dering handphone Jason membuatnya harus keluar dari kamar Antonio.


"............."


"Untuk apa?"


".............."


"Baiklah, aku akan ke kantor pagi ini."


tut,


Jason menutup teleponnya dengan kesal. Orang kepercayaan ayahnya yang juga asisten sang ayah menelponnya pagi-pagi. Memberitahunya untuk datang ke kantor pagi ini atas suruhan sang ayah. Jason sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan sang ayah, hingga membuatnya lebih malas lagi untuk ke kantor dan menemuinya. Namun, apalah daya ia yang hanya seorang anak. Hanya bisa menurut saja. Setidaknya untuk kali ini.


Jason masuk kembali ke kamar Antonio dan pamit untuk pulang.

__ADS_1


***


Setelah sore kemarin mendapatkan info kalau lamarannya diterima. Pagi ini Aurelie sudah berada di kantor kepala staff kebersihan untuk ikut melakukan briefing mingguan.


Aurelie ditugaskan di lantai sembilan, tempat para petinggi perusahaan berada. Di atasnya ada Bu Julie yang menjadi penanggung jawab kebersihan di lantai itu.


"Kau anak baru? Siapa namamu?" tanya Bu Julie


"Ah, perkenalkan nama saya Aurelie Daneliya. Anda bisa memanggil saya Aurelie."


"Kau bisa memanggilku Bu Julie. Kita disini bekerja sama-sama. Jadi jangan sungkan untuk bertanya bila ada yang tidak kau mengerti."


"Baik, Bu."


"Hari ini kau bertanggung jawab untuk kebersihan koridor lantai ini. Pastikan kau mengepel lantai dengan baik, jangan biarkan lantai licin. Karena yang berada di lantai ini adalah para petinggi perusahaan. Tetap jaga sopan santun juga, ya."


"Siap, Bu. Terima kasih."


"Oh iya, alat kebersihan ada di belakang sana." kata Julie menunjuk ruangan di belakang basecame staff kebersihan.


Tanpa perlu diperintah lagi, Aurelie segera menyiapkan alat kebersihan yang ia butuhkan dan langsung melakukan pekerjaannya.


Saat sedang sibuk membersihkan frame lukisan di koridor, tiba-tiba seseorang menjatuhkan earphone di dekatnya. Membuat Aurelie menghentikan pekerjaannya sejenak untuk memungut earphone yang jatuh itu.


"Tuan, ini milik anda." kata Aurelie menyodorkan earphone di tangannya.


"Oh, iya. Terima kasih."


"Sama-sama tu.....an. Sebentar, anda apakah ingat saya?" tanya Aurelie sedikit heboh.


"Oh, kau gadis yang di bar itu kan? Sekarang kau bekerja disini?" tanya Jason ramah sembari memperhatikan seragam yang Aurelie pakai.


Aurelie mengangguk tersenyum.


"Tuan, saya sangat bersyukur bisa bertemu anda disini. Ada yang ingin saya tanyakan pada Tuan."

__ADS_1


"Tuan Jason? Pak Chairman sudah menunggu anda." suara asisten sang ayah membuat Jason teralihkan.


"Maaf, aku harus pergi sekarang. Semoga kau betah kerja disini." kata Jason kemudian pergi meninggalkan Aurelie.


__ADS_2