Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 40


__ADS_3

"Bagaimana? Apakah enak?" tanya Sena yang hanya di balas anggukan oleh Albert dan Alnorld.


Sena tersenyum melihat bagaimana lahapnya kedua pria di depannya menyantap makanan yang dimasaknya.


"Mommy, apakah masih ada lagi?" tanya Alnorld menyodorkan piringnya yang sudah bersih dari spagetti buatannya.


"Masih, tadi mommy memasak cukup banyak." kata Sena berdiri hendak mengisi piring Alnorld lagi.


"Aku juga mau." kata Albert menyodorkan piringnya.


Sena melotot melihat piring Albert yang juga sudah bersih dari spagetti buatannya. Pasalnya tadi Sena sengaja memberikan Albert spagetti dengan porsi besar untuk mengerjai laki-laki itu agar kesulitan menghabiskannya. Dan ternyata yang terjadi malah di luar ekspektasinya, Albert justru menyodorkan kembali piringnya meminta untuk diisi ulang.


"Hei, aku mau lagi." kata Albert membuyarkan lamunan Sena.


"Oh, oke." kata Sena dengan ekspresi tak percayanya.


"Ternyata masakan mommy, enak ya." kata Albert pada Alnorld.


"Tentu saja, Daddy. Sebenarnya mommy itu pintar memasak, hanya saja dulu selama di. jepang mommy jarang memasakanku makanan karena terlalu sibuk. Justru akulah yang sering menyiapkan makanan untuk kami berdua."


"Benarkah?" tanya Albert tak percaya.


"Ya, tentu saja. Dulu mommy sangat sibuk, daddy. Bahkan kadang mommy terlihat seperti zombi pada saat benar-benar sibuk. Karena kurang tidur dan kurang makan." kata Alnorld menjelaskan.


"Hei, kalian sedang membicarakanku?" tuduh Sena.


"Ya, aku memang membicarakan mommy." jawab Alnorld datar.


"Sekarang bagaimana pekerjaanmu? Dulu Mr. Yashaki menolak uang pinalti yang berikan untuk membatalkan kontrakmu."

__ADS_1


"Ya, aku masih bekerja dengan mereka dari sini. Tapi seperti yang kau tahu. Bekerja jarak jauh tentu membuat intensitas kerjaku menjadi berkurang. Aku masih bersyukur karena perusahaan masih mau mempertahankanku walau gajiku pun berkurang cukup banyak tentunya. hahaha" kata Sena lalu tertawa.


"Maafkan aku." kata Albert memegang tangan Sena di atas meja.


"Maaf untuk apa?"


"Karena memaksamu untuk pulang bersamaku."


"Tidak apa-apa, aku melakukannya juga untuk putra kita. Setidaknya, inilah caraku membayar 7 tahun hidupnya dari keegoisanku. Aku tidak pernah memberitahunya siapa daddynya, sampai akhirnya kau menemukan kami. Akulah yang bersalah disini."


Albert tersenyum dan menggenggam tangan Sena di atas meja.


"Ehem, bisakah kalau bermesraan jangan disini? Ingatlah kalau aku ini masih di bawah umur." kata Alnorld mengerucutkan bibirnya.


Albert melepaskan genggamannya kemudian mengacak pelan rambut Alnorld.


"Habiskanlah, makanan kalian. Lalu jangan lupa bereskan sendiri piring masing-masing." kata Sena tegas kemudian meninggalkan meja makan.


Sena berdiri menatap langit malam dari balkon apartemennya. Menikmati angin malam yang berhembus menyapu lembuat wajahnya.


"Ehem."


"Hei, kemarilah."


"Sedang apa disini? Apakah tidak dingin?" tanya Albert sembari menyelimuti pundak Sena dengan selimut.


"Terima kasih." kata Sena tersenyum.


"Terima kasih juga." kata Albert yang juga membalas senyuman Sena.

__ADS_1


"Kau tidak pulang?" tanya Sena.


"Kau mengusirku?" tanya Albert dengan mengerutkan dahinya.


"Memangnya kalau iya, kau akan segera pergi?" tanya Sena bercanda.


"Tidak, tapi aku akan sangat senang kalau kau memintaku untuk menginap." jawab Albert sembari tersenyum jahil.


"Menginaplah kalau kau mau. Kau bisa tidur di kamar bersama Alnorld." kata Sena mempersilakan.


"Kalau tidur bersamamu?" tanya Albert menggoda.


"Jangan gila." kata Sena melirik Albert tajam.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Aku akan segera pulang. Aku tidak mau merepotkan Evan lagi untuk mengantarkan baju kerjaku kesini pagi-pagi. Karena nanti dia akan menggerutu seharian di kantor." kata Albert tersenyum.


"Dasar, kau ini memang bos yang merepotkan." kata Sena dengan senyum mengejek.


"Sudah malam, aku akan pulang sekarang jadi masuklah. Nanti kau bisa masuk angin." ajak Albert merangkul Sena masuk ke dalam apartemen.


"Emm, baiklah. Aku akan mengantarmu ke depan." kata Sena melepaskan selimutnya.


"Tidak usah, kau istirahat saja." kata Albert menolak kemudian mengecup kening Sena.


cup


"Aku pulang sekarang. Selamat malam, Sena." pamit Albert melambaikan tangan.


"Selamat malam, hati-hati di jalan." kata Sena membalas lambaian tangan Albert.

__ADS_1


__ADS_2