
Hari ini Antonio terlihat bekerja, ia memasuki perusahaan di ikuti dengan Renee sekretaris nya di belakang. Banyak mata tertuju pada wakil direktur muda itu, pesonanya terlalu sulit untuk ditolak setiap mata wanita yang berada di dekatnya.
"Ehem," Renee memberi peringatan pada para karyawan wanita yang memandangi Antonio dengan tatapan lapar. Renee menghadiahi mereka dengan tatapan tajam, hingga membuat siapapun yang melihatnya menciut takut.
Antonio memasuki ruangannya sedangkan Renee kembali ke mejanya mengambil sebuah kotak dan membawanya masuk ke dalam ruangan Antonio.
Renee tersenyum melihat atasannya yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya. Bagi Renee, Antonio akan terlihat lebih tampan dan seksi saat fokus dengan pekerjaannya.
Renee mendekat dan meletakkan kotak yang dibawanya ke atas meja.
Antonio menghentikan pekerjaannya sejenak dan melirik kotak tersebut,
"Apa itu?"
"Itu kue Almond, saya membuatnya sendiri untuk anda. Silakan di makan."
"Emm, terima kasih. Apa jadwalku siang ini?"
"Makan siang dengan pak direktur di restoran W."
Antonio menghentikan pekerjaannya dan meletakkan bulpointnya. Ia memandang Renee tidak suka.
"Sepertinya aku sudah pernah memberitahumu kalau aku tidak mau menerima ajakan makan siang dari direktur untuk saat-saat ini."
"Ah, itu karena sekretaris direktur mengatakan bahwa ada hal penting yang harus dibicarakan direktur dengan anda. Jadi saya tidak berani menolak."
"Hal penting apa?"
"Saya tidak tahu."
Antonio menarik nafasnya dalam, kemudian meminta Renee untuk kembali ke mejanya.
***
Aurelie sedang beristirahat di ruangan staff kebersihan. Dia sedang sendiri disana saat ini. Karena yang lain tengah sibuk dengan beberapa pekerjaan. Dan dia ditugaskan untuk berjaga di kantor bila tiba-tiba ada karyawan yang meminta dibuatkan kopi atau apapun itu.
__ADS_1
Aurelie mengambil kartu nama Antonio dari dalam tas selempang kecilnya. Ia memandangi kartu nama itu dengan penuh kegelisahan.
"Haruskah aku menghubunginya? Atau aku datangi saja dia di perusahaannya?" tanya Aurelie pada dirinya sendiri.
Setelah berfikir panjang, ia pun memilih untuk menemuinya langsung. Sore ini ia akan meminta ijin Bu Julie untuk pulang lebih awal dan menggantinya dengan bekerja lembur esok hari. Ia sudah memantapkan pilihannya, karena ia tidak mau hal ini ditunda-tunda lagi. Ia harus berterima kasih dengan cara yang benar dan membalas budi Antonio.
***
Antonio menikmati makanan dengan lahap dan mengacuhkan orang yang duduk tepat di depannya. Ia berencana untuk segera menghabiskan makanannya lalu meminta ijin untuk pergi lebih dulu.
"Nak," panggil Tuan Lefrand, ayah Antonio yang juga Presdir perusahaannya.
Antonio tidak menyahuti panggilan itu dan terus menikmati makanannya seorang diri.
"Nak, dengarkan ayah. Ayah akan kembali ke Paris. Ayah harap kau bisa mengambil alih posisi ayah secepatnya." kata Presdir membuat Antonio menghentikan makannya dan memandang lurus ke ayahnya.
"Apa maksud ayah?"
"Ayah ingin pensiun dan hidup di Paris bersama ibumu."
Tuan Lefrand mengambil nafas sejenak kemudian dengan tenang menjawab pertanyaan sang putra.
"Ini tidak tiba-tiba. Ayah sudah merencanakan ini sejak lama, ibumu juga tahu hal ini karena dia juga yang menyarankannya. Hanya saja karena kau masih marah pada ayah, ayah jadi tidak punya kesempatan untuk membicarakan ini denganmu. Lusa akan diadakan rapat pemegang saham dan saat itu ayah akan mengumumkan kalau kau akan menggantikan posisi ayah."
***
Setelah mendapatkan ijin, Aurelie bergegas menuju ke perusahaan Antonio. Karena ia pulang sebelum jam kantor berakhir, maka jalanan tampak masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Dan tanpa ia sadari, ternyata perusahaan Antonio cukup dekat dengan tempat kerjanya sehingga ia tidak perlu bersusah payah mencari kendaraan umum untuk pergi kesana.
Aurelie memasuki perusahaan Antonio dengan rasa cemas dan tidak nyaman karena beberapa orang terlihat menatapnya dengan tatapan meremehkan. Mungkin karena penampilannya yang sangat sederhana, ia hanya mengenakan kemeja motif kotak-kotak dengan celana jeans serta sepatu Converse lusuhnya sehingga membuat orang di dalam perusahaan itu memandang rendah dirinya.
"Permisi," kata Aurelie saat berada di depan meja resepsionis.
"Ya,"
Salah seorang resepsionis bername tag Anita memperhatikan Aurelie kemudian dengan ketus berkata,
__ADS_1
"Maaf, disini sedang tidak ada lowongan pekerjaan."
"Oh, bukan. Saya kesini bukan untuk mencari pekerjaan. Saya ingin bertemu dengan Tuan Antonio." kata Aurelie tersenyum.
"Tuan Antonio? Apa kau tahu siapa itu Tuan Antonio?" tanya resepsionis yang bernama Anita itu. Ia sudah menggeser posisi temannya sehingga kini ia yang berada di depan Aurelie
"Tentu, dia juga tahu siapa saya. Tolong biarkan saya bertemu dengannya. Ada hal penting yang perlu saya sampaikan."
"Heh, gadis sepertimu mana mungkin kenal dengan wakil direktur? Sudah, pergilah sana. Sebelum security kemari dan menarikmu keluar."
"Tapi saya sungguh mengenalnya."
"Omong kosong, gadis sepertimu aku juga sudah sering melihatnya. Berpura-pura kenal dengan Tuan Antonio untuk menggodanya. Kau pikir kau pantas?"
"Anda boleh mengusir saya pergi, tapi tidak seharusnya anda menghina orang seperti ini." kata Aurelie sebelum berbalik pergi, menjauh dari meja resepsionis.
"Tidak sopan sekali," gerutu Aurelie sambil menundukkan pandangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1