
Hari berikutnya adalah hari yang membahagiakan bagi Sena karena akhirnya sang papi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dokter menyatakan bahwa keadaan Laurence sudah stabil namun harus tetap melakukan rawat jalan sembari menunggu waktu yang tepat untuk melakukan operasi.
"Apakah sudah benar-benar boleh pulang dok?" tanya Sena memastikan.
"Iya, nona. Keadaan tuan Laurence sudah lebih baik. Namun seperti yang saya sampaikan sebelumnya setiap bulannya tuan Laurence masih harus melakukan rawat jalan." jawab dokter setelah memeriksa kembali tanda-tanda vital Laurence sebelum meninggalkan rumah sakit.
"Baik, dokter. Terima kasih." kata Laurence.
Sena hanya terdiam, dalam hatinya masih sangat khawatir dengan kesehatan Laurence yang menurutnya masih belum kembali maksimal. Namun apalah dikata, kalau dokter sendiri sudah mengijinkan papinya untuk pulang.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari." pamit sang dokter dan Sena pun tersenyum mengangguk.
ceklek,
Albert memasuki ruang inap Laurence menyunggingkan senyum sebagai tanda sapaan kepada sang dokter.
"Bagaimana, sudah?" tanya Sena pada Albert.
"Sudah, kita bisa keluar sekarang." kata Albert.
"Ayo. Kami akan mengantar papi pulang." ajak Sena sembari membantu sang papi untuk duduk di kursi roda.
"Ayo. Aku sudah tidak sabar untuk pulang." kata Laurence bersemangat.
Sesampainya di kediaman Laurence.
"Ini tempat tinggal papi?" tanya Sena memandangi rumah dengan taman yang sangat cantik yang ada di hadapannya.
"Ya. Indah bukan?" tanya Laurence.
"Iya, tapi rumah ini terlihat sangat kecil bila di bandingkan dengan mansion kita dulu. Namun, melihat taman bunga yang begitu indah rasanya tidak buruk untuk tinggal disini." kata Sena tersenyum pada Laurence.
"Aku seorang pria tua yang hidup sendirian. Untuk apa aku tinggal di tempat yang besar? Cukup taman bunga itu yang menemaniku. Taman bunga itu kubuat untuk mengenang mamimu, karena dalam ingatanku mamimu sangat suka menghabiskan waktu dengan bunga-bunga kesayangannya." kata Laurence sembari memperhatikan taman bunganya dengan sendu.
"Mari masuk." ajak Sena berusaha mengalihkan kesedihan Laurence.
"Oh, iya. Ayo Albert, jangan hanya di belakang." ajak Laurence.
"Iya paman." kata Albert kemudian mengikuti keduanya.
Setelah masuk ke dalam rumah, mereka bertiga pun memilih untuk duduk bercengkrama di ruang keluarga.
"Rumah ini mungil, namun sangat cantik." kata Sena memperhatikan sudut-sudut ruangan di rumah Laurence.
"Ya, aku suka. Sangat cocok untuk sebuah keluarga kecil. Rumah ini akan menjadi rumah yang sangat hangat dengan tawa anak-anak." saut Albert.
"Kalian kapan menikah? Papi sudah keluar dari rumah sakit." kata Laurence menagih janji.
"Tanggal 17 November nanti, paman." jawab Albert santai.
"Hee? Apa maksudmu? itukan dua minggu lagi." tanya Sena kaget.
"Ya, lalu kenapa?" tanya Albert dengan ekpresi herannya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin kita menyiapkan semuanya dalam waktu yang singkat?" kata Sena menatap Albert tak percaya.
"Kau tenang saja, semuanya cukup aku yang mengatur. Kau hanya perlu menyiapkan dirimu saja untuk menjadi Nyonya Albert Nero." jawab Albert kemudian memposisikan duduknya dengan benar.
"Paman Laurence, aku secara resmi meminta ijin dan restumu untuk menikahi putrimu satu-satunya yang bernama Sena Laurenchia dan akan mencintainya seumur hidupku, menemaninya dalam keadaan sehat maupun sakit dan akan tetap bertahan dengannya dalam keadaan senang maupun susah. Mohon restui kami." lanjut Albert pada Laurence.
"Aku mengijinkanmu untuk menikahi putriku. Buatlah dia bahagia, sebagai ganti diriku yang tidak bisa membuatnya bahagia di masa lalu." kata Laurence dengan mata berkaca-kaca.
"Papi." Panggil Sena kemudian memeluk Laurence erat.
"Papi sangat menyayangimu. Berbahagialah." kata Laurence membalas pelukan Sena.
"Paman...."
"Panggil aku papi, kau sebentar lagi akan menjadi menantuku." kata Laurence memotong perkataan Albert.
"Ah, iya. Papi, apakah aku boleh mengajak Sena kembali ke Negara X besok?" ijin Albert.
"Ya, tentu saja boleh. Banyak yang harus kalian persiapkan. Aku akan berada disana sekitar H-3." kata Laurence mengijinkan.
"Apakah papi tidak ingin berangkat bersama kami saja sekalian?" ajak Sena.
"Tidak, sayang. Papi masih memiliki banyak pekerjaan disini. Kalian kembalilah dulu." kata Laurence menolak.
"Baiklah." kata Sena dengan wajah lesu.
"Malam ini kalian menginaplah disini." kata Laurence.
"Oke. Oh iya, apakah di dapur ada bahan makanan. Aku akan memasak." tanya Sena kemudian berdiri.
"Kau seperti meragukan putrimu ini, pi." jawab Sena kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Tenanglah, pam...maksudku papi. Sena cukup ahli di bidang ini." kata Albert.
"Aku menjadi tidak sabar untuk mencicipinya."
"Ah, tidak ada apa-apa di kulkas ini. Bagaimana papi hidup selama ini? Kenapa di kulkas tidak ada apa-apa?" teriak Sena kemudian kembali ke ruang keluarga.
"Itu karena hampir setengah bulan papi di rumah sakit. Jadi pengurus rumah ini tidak mengisi kulkasnya." kata Laurence.
"Kau ingin aku mengantarmu belanja?" tawar Albert.
"Iya. Ayo."
----------"---------
Sementara itu di mansion keluarga Nero,
"Kata bibi tadi siang Alnorld tidak makan, kenapa?" tanya Jesica.
"Aku sedang tidak berselera, oma." jawab Alnorld dengan wajah lesu.
"Apakah menunya yang membuatmu tidak berselera? Kenapa tidak kau katakan saja pada bibi untuk membuatkanmu makanan yang kau inginkan?" tanya Jesica lembut.
__ADS_1
"Bukan, oma. Aku hanya rindu daddy dan mommy." kata Alnorld sedih.
"Oh, oma kira cucu oma kenapa sampai tidak berselera makan. Tenanglah, sebentar lagi daddy dan mommymu akan kembali. Sekarang, ayo oma temani kau makan." ajak Jesica yang dibalas anggukan oleh Alnorld.
--------"-------
Setelah belanja berbagai jenis bahan makanan, kini Sena tengah sibuk dengan acara memasaknya. Sedangkan di ruang keluarga Laurence dan Albert menunggu sembari berbincang-bincang.
"Apakah papi tidak ingin kembali tinggal di negara X?" tanya Albert.
"Ntahlah, aku belum memikirkannya." jawab Laurence.
"Sena pasti akan senang bila papi bersedia untuk kembali ke negara X. Hidup dekat dengan kami, jadi kami bisa setiap saat mengunjungi papi dan papi bisa setiap saat bermain bersama Alnorld."
"Sepertinya perkataanmu ada benarnya. Apalagi yang aku harapkan di hari tuaku selain dekat dengan anak dan cucuku. Aku akan mulai memikirkannya. Terima kasih, Albert."
"Sama-sama, papi."
"Hei, kalian itu sibuk mengobrol apa? Apakah kalian sedang menggosipkan aku?" tanya Sena begitu kembali ke ruang makan.
"Iya, aku sedang menceritakan pada papi betapa jahat dan teganya kau padaku." jawab Albert berbohong.
"Dasar kekanak-kanakan." kata Sena ketus.
"Sudah-sudah. Kalian ini akan menikah, kenapa masih suka bertengkar. Sena, Albert hanya bercanda."
"Dasar kau ini pencari masalah." kata Sena melirik tajam pada Albert.
"Makanannya sudah siap, ayo kita makan." ajak Sena.
.
.
.
.
############
Selamat malam, readers.
Maafkan author kalau telat UP.
Author sedang tidak dalam kesehatan yang baik. Karena terlalu banyak minum es padahal cuaca sedang tak karuan, siang panas sorenya dingin karena hujan. Alhasil jadi batuk dan demam.
- Alah, thor. Sakit dibuat-buat sendiri. Alasan aja.
😓😓
Gaje, ya? maaf ya, author malah curhat.
Happy reading, All.
__ADS_1
See you 😘