
"Aku harus meminta maaf secara langsung kepadanya walau mungkin sudah sangat terlambat." lanjut Antonio. Wajahnya menunduk menyiratkan kesedihan dan perasaan bersalah yang mendalam.
"Tentu saja, ayo kita kesana." kata Albert tanpa ragu.
"Apakah istrimu tidak apa-apa jika kalian menunda kepulangan ke Negara X?
"Santai saja, istriku adalah orang yang sangat pengertian. Aku akan berbicara dulu dengan istriku ya. Kau tetaplah disini." kata Albert kemudian meninggalkan Antonio untuk menyusul Sena ke kamar.
"Sayang," panggil Albert.
"Antonio sudah pulang? Cepat sekali ngobrolnya."
"Belum, dia masih di depan."
"Lalu kenapa kau kemari, hem? Meninggalkan tamu sendirian."
"Itu, ada mau aku bicarakan padamu."
"Tentang apa?"
Albert pun menyampaikan keinginan Antonio, yang mengajaknya ke London untuk menengok makam Abigail. Sena yang begitu pengertian langsung memberikan ijin suaminya untuk menemani Antonio. Sedangkan Sena memilih untuk kembali ke Negara X sesuai rencana karena mempertimbangkan Alnorld yang sudah harus kembali ke sekolah.
Setelah berunding, akhirnya Albert pop pun membiarkan Sena dan Alnorld untuk pulang sesuai rencana awal dengan pesawat pribadinya. Sedangkan Albert dan Antonio langsung mengambil penerbangan paling cepat menuju London untuk menengok makam Abigail.
***
__ADS_1
London, Inggris.
Antonio berjongkok di depan nisan Abigail. Ia meletakkan sebouquet lily, bunga kesukaan Abigail tepat di pusaranya.
"Hai, Abi. Maafkan aku baru bisa datang. Apakah kau membenciku? Yah, tentu saja kau pasti membenciku. Pecundang yang tidak berguna ini."
Albert meremas pundak Antonio untuk menguatkannya.
Satu jam lamanya mereka berada di makam Abigail, mengeluarkan banyak kalimat penyesalan dan menceritakan bagaimana keadaan mereka selama ini. Mungkin saja Abigail memang sudah pergi, namun persabatan mereka akan tetap terpatri di hati dan ingatan seorang Albert dan juga Antonio.
Saat ini, Albert dan Antonio tengah menikmati kopi di salah satu cafe yang terletak tidak begitu jauh dari area pemakaman.
"Jadi, apa rencanamu setelah ini?"
"Maafkanlah saja ayahmu, Toni. Mulailah kehidupan yang baru tanpa menengok lagi ke masa lalu. Biarkan Abigail menjadi salah satu dari banyak kenangan indah di hidupmu. Cari dan kejarlah cintamu yang lain jika kau sudah menemukannya." kata Albert memberi nasehat.
Pada akhirnya, semua berjalan dengan baik. Albert kembali menemukan sosok sahabatnya yang telah lama hilang. Memusnahkan segala kebencian tanpa menyisakannya sedikitpun di dalam hati.
Antonio pun demikian, ia mendapatkan lagi sahabat baiknya. Berdamai dengan masa lalu dan siap melangkah maju tanpa penyesalan.
Bagaimana pun, sahabat tetaplah sahabat. Bila mungkin banyak kesalahpahaman menyebabkan ikatan itu terputus. Setidaknya kau tetap punya pilihan untuk menjalinnya kembali atau membiarkannya tetap terputus begitu saja.
***
Dua minggu kemudian di mansion keluarga Nero.
__ADS_1
"Sayang, ayo cepatlah. Alnorld sudah siap dan hampir telat." teriak Sena dari ruang makan.
"Aku datang." sahut Albert sembari menuruni anak tangga dengan begitu cepat.
"Cepat sarapanlah."
"Aku akan membawa ini." kata Albert mengambil sepotong roti yang sudah di olesi selai blueberry kesukaannya.
cup
Albert mencium kening Sena singkat.
"Ayo, son. Kita harus berangkat." ajak Albert.
Sena mengecup semua bagian wajah Alnorld dan membenahi dasi Albert yang nampak sedikit berantakan. Kemudian mengantarkan mereka sampai ke pintu depan.
Sekembalinya mereka dari Singapure, mansion menjadi begitu hidup. Teriakan dan tawa meramaikan suasana tempat yang megah itu. Ketiganya merasa begitu bebas melakukan apa saja, karena Tuan dan Nyonya besar Nero yang lebih memilih menetap di pulau pribadi mereka untuk menikmati masa tuanya. Tuan besar sendiri, Jeremy Nero yang tak lain adalah ayah Albert sudah menyerahkan segala tanggung jawab QL Group kepada sang putra yang memang menjadi satu-satunya pewaris. Hingga tak heran jika kini Albert menjadi lebih sibuk dari sebelumnya.
*dddrrrrrttt
dddrrrrrttt
ddrrrrrttt*
"Halo, Keyla."
__ADS_1