Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 123 (SEASON 2 : MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

"Kamu tidak bisa kembali dan mengubah awal saat kamu memulainya, tapi kamu bisa memulainya lagi dari di mana kamu berada sekarang dan ubah akhirnya." - C.S Lewis


"Itulah yang dikatakan oleh C.S Lewis seorang penulis dan pakar sastra Britania raya. Aku akan mengikuti kutipannya. Aku akan memulai ini karena kamu yang sudah memulainya terlebih dahulu. Aku tidak akan berbalik kembali dan akan memberimu kebebasan untuk mengubah akhirnya sesuai dengan yang kau mau." - Aurelie Daneliya.


"Aku tidak pernah berniat untuk memulainya. Jadi akupun tidak perlu repot merubah akhirnya ataupun berusaha kembali ke saat semua ini belum terjadi. Jadi, menyerahlah." - Antonio Lefrand.


.


.


.


.


.


.


***


Aurelie menunggu di depan ruang opersi dengan perasaan cemas. Tangan dan kakinya terasa dingin sejak ibunya dibawa masuk ke ruang operasi oleh beberapa perawat. Hatinya tidak tenang, karena rasa takut akan kehilangan ibunya bila tiba-tiba sesuatu yang buruk terjadi di tengah-tengah operasi.


Beberapa jam kemudian, pintu operasi terbuka menampakkan seseorang yang cukup ia kenal dengan baju operasinya. Yang tak lain dan tak bukan adalah dokter yang merawat dan mengoperasi ibu Aurelie.


"Dokter, bagaimana operasinya?" tanya Aurelie yang langsung menghampiri dokter tersebut.


Dengan tersenyum dan mengelus bahu Aurelie dokter berkata, "Operasinya berjalan lancar. Semoga proses penyembuhannya nanti akan sama lancarnya."


Perasaan lega menyelimuti hati Aurelie setelah sang dokter mengatakan bahwa operasinya berjalan dengan sukses.


"Terima kasih, dokter."


Setelah menerima ucapan terima kasih itu, sang dokter pun meninggalkan Aurelie dengan perasaan bahagianya.


Aurelie tak henti-hentinya berterima kasih dan mengucap syukur pada Tuhan karena kebaikan-Nya mengirimkan seorang penolong sebagai jawaban kegundahan Aurelie selama ini. Aurelie berjanji dalam hati, saat keadaan ibunya sudah stabil dan membaik ia akan mencari si penolong itu dan berterima kasih secara langsung.


***


Setelah tiga hari berada di ruang ICU, kini ibu Aurelie sudah dipindahkan ke kamar rawat. Aurelie dengan setia menemani sang ibu, membantunya berhajat atau hanya sekedar mengambilkan minum. Senyuman Aurelie tak pernah luntur dari bibirnya. Kesehatan sang ibu tentu menjadi alasan dibalik senyumnya itu.


"Kau belum menemui orangnya?" tanya Daneila, ibu Aurelie.


"Belum, aku sudah tahu siapa orangnya tapi aku tidak tahu harus mencarinya kemana." kata Aurelie pasrah.


Setelah mendapat kabar tentang ada seseorang yang membayar deposit untuk operasi sang ibu. Keesokan paginya Aurelie segera menemui petugas administrasi yang katanya menerima deposit tersebut. Walau hanya dijelaskan perawakan dan wajah si dermawan oleh petugas itu, Aurelie langsung bisa mengenalinya walau tidak 100%.

__ADS_1


Aurelie terdiam, melamun memikirkan bagaimana cara untuk bisa menemui orang tersebut. Hingga saat sang ibu bertanya mengenai pekerjaannya.


"Sudah beberapa hari kau menemani ibu disini. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah bosmu tidak apa-apa membiarkanmu bolos seperti ini?"


"Kerja. Ya, ibu mungkin aku tahu dimana aku bisa menemui orang itu. Aku akan pergi sekarang. Aku akan meminta tolong perawat untuk menjaga ibu."


cup


"Dah, bu."


Aurelie menyambar tas lusuhnya setelah mencium sekilas pipi sang ibu dan keluar dari ruang rawat dengan berlari. Membuat ibunya hanya mampu tersenyum dan menggelengkan kepala.


***


Antonio duduk di kursi kebesarannya, pandangannya tetap fokus dengan tumpukan dokumen yang ada di depannya meski orang yang ia tunggu-tunggu sejak pagi telah berada di hadapannya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Antonio tanpa melihat lawan bicaranya.


"Hari ini Ny. Daneila sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dan jika semuanya baik ia bisa pulang dalam waktu satu Minggu."


"Baguslah kalau begitu. Kau bisa pergi dan tetap awasi mereka. Laporkan jika ada masalah dengan mereka." pesan Antonio tegas.


"Baik, tuan. Saya permisi." setelah melaporkan apa yang diminta oleh bosnya, ia pun segera undur diri.


"Owh, kau ada tamu?" tanya Jason masuk begitu saja tanpa permisi ke dalam ruangan Antonio.


Orang kepercayaan Antonio membungkukkan badannya kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Antonio masih fokus dengan tumpukan dokumennya. Meski tanpa melihat, Antonio sudah bisa mengenali suara temannya itu.


Tidak menjawab pertanyaan Antonio, Jason justru mengambil langkah dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa.


"Aku hanya sedang bosan. Jadi aku main-main kesini." kata Jason santai.


"Pergilah, jangan mengganggu. Aku sedang banyak sekali pekerjaan hari ini." usir Antonio dengan terus fokus pada lembar-lembar dokumen itu.


"Hei, kau ini keterlaluan. Ada tamu disini dan langsung kau usir. Harusnya paling tidak kau memberikanku minum. Aku mau kopi, dengan sedikit creamer dan gula." kata Jason tanpa merasa berdosa membuat Antonio langsung menegakkan kepalanya.


Antonio mendesah pelan, keberadaan Jason benar-benar mengganggunya. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan beristirahat lebih awal di apartemennya. Tapi gara-gara kedatangan Jason ia jadi terganggu. Dan agar pembuat onar itu pergi Antonio pun segera membuat panggilan, meminta sekretarisnya mengantarkan kopi untuk Jason.


Tak perlu waktu lama, sekretaris cantik Antonio membawakan segelas kopi pesanan Jason ke dalam ruangan.


"Terima kasih, cantik. Oh iya, apakah kau ada waktu luang sepulang kerja? Mau pergi nonton denganku?" tanpa tahu malu Jason menggoda sekretaris Antonio, membuat sekretaris itu tampak risih.


"Maaf, tuan. Saya sudah ada janji." tolak sekretaris Antonio sopan kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


"Aku baru sadar kalau ternyata sekretarismu cukup cantik." kata Jason kembali membuat Antonio terganggu.


Antonio menghela nafasnya kembali, berharap mendapatkan kesabaran ekstra atas gangguan tak terencana dari temannya itu,


"Berhentilah menggodanya, dia sudah bersuami dan memiliki anak."


"Apa? Benarkah? Apa kau yakin kalau dia sudah menikah? Bahkan punya satu anak. Kenapa yang kulihat dia seperti wanita single, ya?" Rentetan pertanyaan atas keraguannya keluar begitu saja, membuat Antonio merasa lebih terganggu lagi.


Antonio melepaskan bulpointnya, kemudian menatap lurus ke arah Jason dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Di matamu semua wanita cantik itu single. Cepat habiskan kopimu kemudian pergi dari sini. Aku benar-benar sangat terganggu."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Welcome to SEASON 2 !!!


Selamat pagi, All.


Di chapter ini, season 2 dimulai. Seperti niat awal, di season 2 ini akan fokus mengisahkan tentang Antonio dan Aurelie. Namun, tidak menutup kemungkinan akan ada selipan kisah Albert dan juga Sena yang saat ini tengah menanti kehadiran buah hati keduanya. Dan juga kisah William dan Keyla sepasang pengantin baru yang manis-manis gemes.


Jangan sampai ketinggalan kelanjutan kisahnya, ya. Jangan lupa Like, Komen dan VOTE sebanyak-banyaknya.


Thank you.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2