
Happy Reading, All.
Sorry baru bisa UP.
_______________________
"FANO!!!" Ny. Stevanie memanggil salah satu orang kepercayaannya.
"Iya, Nyonya!"
Ny. Stevanie menyodorkan foto Aurelie kepada bawahannya itu.
"Cari informasi tentang gadis ini. Aku mau tahu tentang keluarganya, rumahnya dan apapun yang menurutmu berguna."
"Siap, nyonya."
"Secepatnya, Fino!"
"Siap!!!"
Itulah perkerjaan Ny. Stevanie pagi hari ini setelah suami dan putranya berangkat ke perusahaan. Sejak melihat Aurelie secara langsung, Ny. Stevanie sudah bertekad ingin menjadikan wanita itu menantu. Penglihatan dan nalurinya sangatlah tajam, ia bisa menilai seseorang hanya dengan sekali bertemu. Dan di pertemuan pertama itu, ia bisa melihat jika Aurelie adalah gadis yang sangat cocok untuk Antonio, putranya.
***
Hari ini Antonio merasa sangat malas untuk bekerja. Beberapa dokumen di atas mejanya pun terabaikan. Ia sibuk dengan perkataan sang mama tentang Aurelie, apa mungkin ia benar-benar tertarik dengan gadis mungil itu?
Antonio memainkan bulpointnya, ia menjepitnya di antara bibir atas dan hidung mancungnya. Sangat kekanakan, tapi memang seperti itulah kebiasaan seorang Antonio jika sedang bingung.
tok
tok
tok
Suara ketukan pintu memaksa Antonio untuk menghentikan hobinya itu.
"Masuk!"
ceklek,
"Ada apa?" tanya Antonio begitu melihat sosok Aurelie.
Aurelie berjalan mendekat, ia meremas tangannya sembari menggigit bibir bawahnya karena grogi.
Antonio memperhatikan hal itu, dan membuatnya teringat dengan sensasi bibir Aurelie ketika berciuman.
"Sial" kata Antonio pelan sambil mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Bapak mengatakan sesuatu?"
"Tidak, cepat katakan ada urusan apa kau kemari."
"Itu, ibu saya."
"Ibumu kenapa?"
"Ibu meminta saya untuk mengundang bapak makan malam di rumah kami. Ibu ingin sekali berterima kasih secara langsung dan menjamu anda."
"Makan malam?"
"Iya, tapi kalau bapak tidak bisa. Tidak apa-apa. Saya akan menyampaikan pada ibu jika anda benar-benar sibuk."
"Akan ku pikirkan."
"Ah, baik. Terima kasih, pak. Jika anda sudah membuat keputusan. Tolong katakan pada saya."
"Hmmm"
"Kalau begitu, saya permisi."
Setelah mengatakan maksudnya, Aurelie pun kembali ke meja kerjanya. Aurelie tidak berharap banyak, Antonio mau memenuhi undangan ibunya. Tapi, tidak ada salahnya membuat persiapan dengan mencari tahu makanan favorit bosnya itu. Agar bila ia bersedia memenuhi undangan makan malam, masakan ibunya akan termakan dan tidak sia-sia.
Aurelie melirik Renee yang sibuk dengan komputernya. Ia bimbang, apakah harus bertanya pada Renee karena Renee sudah bekerja lama dengan Antonio sebagai sekretarisnya. Dan mungkin saja ia tahu. Tapi, mengingat bahwa Renee menyukai Antonio membuat Aurelie ragu untuk bertanya.
"Tidak, kak."
"Ya sudah kalau begitu."
"Kak Renee,"
"Hmm,"
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Tanyakan saja,"
"Tapi sebelumnya, kuharap kak Renee tidak akan salah paham. Aku bertanya hanya karena ibuku ingin tahu saja."
"Katakanlah,"
"Ibuku ingin mengundang wakil direktur untuk makan malam di rumah sebagai ucapan terima kasih. Apa kau tahu makanan kesukaan wakil direktur?"
Renee tahu cerita tentang Antonio membantu biaya operasi ibu Aurelie dan bagaimana Aurelie berakhir dengan bekerja disini. Jadi ia tidak berfikir buruk tentang pertanyaan yang dilontarkan oleh Aurelie.
Melihat Renee yang tidak langsung menjawab, Aurelie pun menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Ah, maafkan aku kak. Aku hanya ingin tahu saja. Tolong jangan tersinggung."
"Kau ini bicara apa. Aku sedang berusaha mengingat-ingat makanan kesukaan Antonio."
"Oh, ku kira...."
"Kau kira aku marah dan cemburu karena kau ingin tahu hal pribadi tentangnya?" tebak Renee yang di balas anggukan oleh Aurelie.
"Hah, biar ku katakan padamu. Aku memang menyukainya, tapi aku sadar jika hal itu tidak mungkin. Asal kau tahu, aku sudah bertunangan." Renee memamerkan cincin di jari manis tangan kanannya.
"Bertunangan?"
"Emm, saat aku cuti. Waktu itu adalah hari pertunanganku. Orangtuaku menjodohkan ku. Lagi pula, tunanganku juga tidak lebih buruk dari Antonio yang dingin itu. Walau memang tak sekaya Antonio juga sih. Tapi cukup bagus untukku." cerita Renee antusias.
"Wah, sungguh mengesankan. Selamat untukmu kak. Aku akan mendo'akan yang terbaik untukmu. Tolong undang aku saat pernikahan nanti."
"Tentu saja."
"Oh, iya kak. Jadi, sekarang aku boleh tahu kan makanan kesukaan wakil direktur?" tanya Aurelie lagi dengan lebih santai.
"Emm, kalau seingatku dia suka mie Siam. Dulu beberapa kali dia memintaku untuk mencari hidangan itu. Kau tahu mie Siam?"
"Mie Siam, mie yang terbuat dari beras itukah? yang tipis dan dimasak seperti mie goreng dengan pasta udang?"
"Aku tidak tahu, karena aku belum pernah memakannya. Bahkan saat Antonio memintaku mencari penjual mie Siam aku tidak bisa menemukannya."
"Memang sudah jarang sekali yang jual mie Siam sekarang." gumam Aurelie.
"Terima kasih, kak. Aku akan memberitahu ibuku." kata Aurelie tersenyum senang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
LANJUT KUY !!!