
Sekitar pukul delapan malam, akhirnya Albert sampai di gedung apartemennya. Dengan tidak bergairah ia memasuki lift yang kebetulan hanya dia seorang di dalamnya.
"Aku jadi sangat ingin pulang." gumam Albert sembari menyenderkan punggungnya di dinding lift sembari memejamkan mata.
Tanpa ia sadari, lift pun berhenti dan terbuka tepat di lantai dimana apartemennya berada. Rasanya ia sangat tidak sabar untuk bertemu kasur beserta teman-temannya kemudian menjatuhkan diri di atasnya.
Di dalam apartemen Sena dan Alnorld sudah menunggu kepulangan Albert dan siap memberikan kejutan akan kedatangan mereka. Bahkan Sena sampai berdandan cantik dan mengenakan dress terbaik yang ia bawa. Alnorld sendiri tampak segar dan wangi.
Di saat keduanya asyik menonton TV sembari menunggu kepulangan Albert, Sena mendapati bahwa pintu apartemennya terbuka.
"Itu pasti daddy. Ayo kita kejutkan dia." ajak Sena yang di balas anggukan antusias dari Alnorld.
Mereka berdua bergegas menuju ruang tamu dan dengan semangat mereka menyambut kedatangan Albert.
"SELAMAT DATANG!" teriak Sena dan Alnorld bersamaan.
Albert tersentak kaget, dia mematung sesaat dengan posisi menyandar pada pintu.
"Kalian?" tanya Albert masih tak percaya dengan kehadiran Sena dan Alnorld.
"Daddy!" panggil Alnorld berhambur ke pelukan Albert.
__ADS_1
"Hei, jagoan daddy." sapa Albert kemudian menghujani wajah Alnorld dengan ciuman.
"Sayang, kenapa tidak mengabariku kalau menyusul?"
"Kejutan," jawab Sena singkat kemudian menggandeng sebelah lengan Albert dan membawanya ke meja makan.
"Tadaaaaa,"
"Kau benar-benar memasak apa yang kuminta."
"Sekarang, ayo makan. Alnorld sudah kelaparan karena menunggumu pulang." ajak Sena.
"Baiklah, kalau begitu mari makan." ajak Albert kemudian mendudukkan dirinya disalah satu kursi.
Keluarga kecil itupun menikmati makan malam bersama setelah beberapa malam terlewatkan. Acara makan malam itu terasa lebih hangat dengan selipan candaan dan sedikit obrolan mengenai kesibukan masing-masing.
Waktu semakin malam, Sena memasuki kamar Alnorld dan memastikan putra tersayangnya telah tidur dan setelah itu kembalilah ia ke kamar dimana sang suami menunggu.
"Alnorld sudah tidur?" tanya Albert begitu Sena memasuki kamar.
"Sudah," jawab Sena singkat kemudian duduk di samping Albert.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu," kata Sena menyenderkan kepalanya di bahu Albert.
"Aku juga. Bahkan di jalan pulang tadi aku sempat berfikir untuk pulang saja karena terlalu merindukan kalian," kata Albert.
"Apakah masalah disini sangat berat?"
"Emm, tidak. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin," jawab Albert menenangkan hati Sena.
Karena tidak mendapat tanggapan dari Sena. Albert mengambil inisiatif untuk memeluk Sena dan mengalihkan pembicaraan.
"Hah, aku rindu harum tubuh ini," kata Albert mengendus leher Sena.
"Hey, itu geli," kata Sena berusaha menjauhkan tubuh Albert.
Mendengar rengekan sang istri Albert pun melepaskan pelukannya kemudian menatap dalam mata Sena. Agak lama Albert memberikan tatapan penuh cinta kemudian di tariknya tengkuk Sena agar mendekat padanya. Lalu dihadiahinya sebuah ciuman kerinduan di bibir merah sang istri.
Malam itu, menjadi saksi pelepasan rindu seorang Albert dan Sena. Suara desahan dan rengekan merdu berirama membuat siapa saja yang mungkin mendengar pasti akan malu dibuatnya. Tidak ada yang tahu sebesar apa kerinduan kedua sejoli itu. Apalagi tentang dalamnya cinta mereka.
Di sebuah ruangan besar seorang pria berdiri menatap lurus pemandangan di luar jendela sembari menegak segelas Alkohol yang berada di tangannya.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" gumam pria tersebut.
__ADS_1