
"Minum, nona?" tanya seorang pelayan menawari. Sena pun mengambil segelas minuman yang berada di nampan yang dibawa oleh pelayan tersebut.
"Ini, alkohol?" Sena menyelidik minuman yang sudah berada di tangannya.
"Iya, silakan."
"Ah, tidak. Saya tidak bisa meminum alkohol." Sena pun mengembalikan minuman yang belum sempat ia cicipi ke atas nampan.
"Baiklah, saya permisi."
"Emm, aku harus mencari air mineral." gumam Sena mencari stand minuman terdekat. Setelah menemukannya segeralah Sena menghampiri stand tersebut.
"Halo, permisi. Bisa saya meminta air mineral?"
"Tentu, nona. Tunggu sebentar." kata pelayan yang menjaga stand tersebut. Dan tak lama kemudian, pelayan itupun kembali membawakan sebotol air mineral berikut juga dengan gelasnya.
"Nona, ini minumnya."
"Terima kasih."
Sena menuang air mineral dalam botol ke gelas yang sudah disediakan pelayan. Dan saat hendak meminumnya seseorang dengan tidak sengaja menyenggol lengannya dan membuat air dalam gelas yang hendak diminumnya tumpah mengenai gaun yang ia kenakan.
__ADS_1
"Ah,"
"Maaf, saya tidak sengaja."
***
Antonio memutari hampir seluruh tempat acara untuk menemukan wanita pujaannya hingga hampir dilanda frustasi.
"Apa mungkin dia sudah pulang?" gumam Antonio dalam hati.
Antonio berjalan putus asa, meyakini bahwa takdir tidak memberinya kesempatan untuk menemui wanita pujaannya. Antonio terus berjalan sembari memainkan ponselnya. Memberi kabar sang asisten bahwa ia ingin segera meninggalkan acara malam ini.
Untuk apa berlama-lama jika seseorang yang ia cari sudah tidak ada disini? begitulah pikir Antonio.
"Maaf, saya tidak sengaja." Antonio berkata dengan tulus sembari merogoh saku mencari sapu tangannya.
"Tidak apa-apa, tuan."
Setelah menemukan sapu tangannya, Antonio segera menyodorkan sapu tangan tersebut.
"Tolong maafkan saya, saya sungguh......." ucapan Antonio terhenti begitu melihat paras cantik yang tengah sibuk menyeka air di gaunnya berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
"Terima kasih, tuan." Sena menerima sapu tangan Antonio tanpa memperdulikan tatapan berbinar pria di depannya dan mulai menyeka kembali air yang membasahi gaunnya.
Pandangan Antonio tak teralihkan, ia begitu menikmati paras cantik wanita di hadapannya. Antonio sangat bahagia, hatinya berteriak kegirangan karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan wanita pujaannya. Wanita yang sudah menyelamatkannya tempo hari.
"Sena? Sayang, kau tidak apa-apa?" Albert menghampiri Sena tiba-tiba.
"Al, aku tidak apa-apa. Hanya tertumpah air sedikit." kata Sena tersenyum santai.
"Antonio?" Albert menyapa Antonio yang berdiri tepat di depan istrinya. Namun Antonio tidak bereaksi.
"Kau mengenalnya? Tuan ini yang meminjamkan sapu tangan ini kepadaku." Sena menunjukkan sapu tangan yang masih ia pegang.
"Harus kulakukan, nona. Karena memang salah saya sehingga membuat nona seperti ini." pandangan Antonio masih terfokus pada Sena dan tidak memperdulikan seseorang yang baru saja datang itu.
"Tidak apa-apa, tuan. Jangan khawatir." Sena tersenyum tulus.
Albert memandang tajam Antonio, dilihatnya ada pancaran ketertarikan di mata Antonio saat memandang Sena. Geram Albert dibuatnya hingga tanpa berpikir panjang ia pun mengajak Sena untuk pulang agar Antonio bisa berhenti memandangi istri cantiknya.
"Ayo kita pulang, Alnorld pasti sudah menunggu kita." Albert mengambil sapu tangan di tangan Sena kemudian meletakkannya begitu saja di atas meja dan menarik lengan Sena menjauh.
"Terima kasih, Tuan." Sena mengucapkannya dengan sedikit berteriak karena jarak sudah terlampau jauh.
__ADS_1
Antonio hanya berdiri mematung memandangi wanita pujaannya ditarik oleh mantan sahabatnya. Apakah mungkin ia sudah menyinggung seorang raja di kehidupan lampau, hingga lagi-lagi ia harus berebut wanita dengan orang yang sama.