Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 68 Cemburu


__ADS_3

"Al, kamu gk jadi pulang?" tanya Sena sembari merapikan beberapa pakaian yang baru di antar oleh bagian loundry.


"Ya ampun, sebegitu bosannya ya kamu lihat aku. Sampe tiap saat nyuruh aku pulang." kata Albert cemberut.


"Bukan begitu, aku takut kamu capek dan bosan disini. Lagi pula QL Group juga membutuhkan CEO nya kan? Ini sudah melebihi batas cuti yang kau ajukan." kata Sena mengingatkan.


"Aku kan bosnya, suka-suka akulah kau cuti berapa lama juga." kata Albert sombong.


Pletak


"Sayang, kenapa kepalaku di pukul?" tanya Albert meringis sembari mengusap kepalanya.


"Biarpun kamu CEO nya kamu harus tetap profesional dong, Al." kata Sena.


"Kalian kenapa bertengkar?" tanya Laurence yang terbangun karena suara berisik Sena dan Albert.


"Papi, kenapa bangun? Tidurlah lagi." kata Sena menghampiri Laurence.


"Bagaimana papi tidak bangun, kalau kalian saja heboh bertengkar di dalam sini." kata Laurence tersenyum.


"Ya Tuhan, kami tidak bertengkar papi." kata Sena.


"Anak paman selalu mengusirku untuk pulang. Padahal aku masih ingin disini menemaninya." kata Albert tak mau kalah.


"Bukan begitu, soalnya....." kata Sena terpotong.


"Sena, kembalilah ke negara X bersama Albert. Papi sudah baik-baik saja. Persiapkanlah pernikahan kalian, setelah keluar dari rumah sakit papi akan segera mengunjungi kalian di negara X." kata Laurence.


"Tidak, aku akan tetap disini sampe papi sembuh dan boleh keluar dari rumah sakit." kata Sena tidak mau dibantah.


---------"--------


Malam Ini Sena dan Albert berjalan-jalan di mall terdekat membeli beberapa barang yang mereka butuhkan.


triiiing ting


ting triiiing


triiiing ting


"Aku angkat telepon sebentar, ya." kata Albert ketika mendapati nada dering handphonenya berbunyi dan Sena pun mengangguk.


"Masih bilang tidak mau pulang, padahal sendirinya sudah sangat sibuk bekerja dari sini. dasar." gerutu Sena.


Albert : Hallo?


Evan : Bos, ada masalah.


Albert : Ada apa, van?


Evan : Ada jadwal yang bentrok. Soal perjalanan dinas ke jerman dan meeting penting dengan pihak suplier yang ada di Singapore.

__ADS_1


Albert : kenapa bisa bentrok?


Evan : Maafkan saya, bos. Saya sangat teledor. Jadi bagaimana, bos. Anda bisa menghadiri salah satunya kan?


Albert : Kenapa tidak kau bagi saja untukmu dan dad.


Evan : Saya tidak mungkin membiarkan Tuan Jeremy sendirian, bos.


Albert : Baiklah, aku akan ambil bagian perjalan dinas di Jerman. Aku akan berangkat langsung dari sini. Semua dokumen kau kirim. saja melalui emailku. Kirimkan aku sekretaris untuk mendampingiku langsung saja berangkat ke jerman.


Evan : Siap, bos.


Albert : hemmm.


tuttt


Albert menghela nafasnya,


"Apa memang begini, ya. Kalau tidak menurut dengan kata-kata istri. Tidak mau pulang, eh tiba-tiba ada problem yang memaksa pulang. Malah harus langsung melakukan perjalanan dinas pula." gerutu Albert.


"Aku sudah selesai." kata Sena menghampiri Albert.


"Mau makan malam dulu?" tanya Albert.


"Boleh."


Sekarang mereka berdua berada di salah satu restoran jepang di dalam mall. Albert dan Sena memesan beberapa hidangan untuk makan malamnya.


"Cukup baik, walau kadang masih terasa nyeri bila di paksakan berjalan terlalu lama."


"Jangan paksakan dirimu, sayang."


"Hemmm" jawab Sena dengan deheman karena mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Oh iya, sepertinya aku harus meninggalkanmu beberapa hari."


"Kau mau pulang?" tanya Sena dan Albert langsung menggeleng.


"Tidak pulang, justru aku harus langsung melakukan perjalan dinas ke jerman. Dan aku akan berangkat dari sini." kata Albert.


"Berapa hari?" tanya Sena santai.


"Mungkin sekitar empat sampai tujuh hari." jawab Albert kemudian memasukkan sepotong sushi ke dalam mulutnya.


"Emm, baiklah. Ayo nanti ke butik yang ada di lantai 5." ajak Sena.


"Kau mau beli baju?" tanya Albertn


"Bukan aku, tapi kau. Kau kan butuh setelan jas untuk perjalanan dinasmu." jawab Sena.


"Tidak perlu, nanti sekretarisku akan membawakannya ke Jerman." kata Albert menolak.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu." kata Sena dengan mengerucutkan bibirnya tidak senang karena Albert menolak untuk membeli stelan jas. Padahal dalam hati Sena ingin sekali memilihkan stelan jas untuk calon suaminya itu.


"Tapi tidak ada salahnya juga untuk membeli satu atau dua stelan lagi untuk berjaga-jaga." kata Albert begitu sadar akan perubahan mood Sena. Mendengar perkataan Albert senyum Sena pun terbit.


di dalam butik,


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang pegawai butik.


"Tunjukan padaku beberapa stelan jas untuk pria." pinta Sena.


"Mari, nyonya ikut saya."


"Ini beberapa koleksi stelan jas pria terbaru kami." kata si pegawai begitu berhenti di salah satu sudut butik yang memajang beberapa stelan jas pria.


"Bagus-bagus. Tolong ambilkan yang ini." kata Sena menunjuk salah satu stelan jas yang terpajang di manequin.


"Baik, nyonya."


"Cobalah yang ini." kata Sena pada Albert.


"Oke." jawab Albert singkat kemudian membawa stelan jas yang dimaksud Sena ke dalam ruang ganti.


Beberapa saat kemudian Albert keluar dari ruang ganti dengan mengenakan stelan jas pilihan Sena.


"Waaaaah, seleraku ternyata tidak pernah salah." puji Sena pada dirinya sendiri melihat betapa tampannya Albert mengenakan stelan jas pilihannya.


"Lihat tuan muda disana, dia sangat tampan." kata pegawai 1.


"Iya, aku langsung terpesona." sambung pegawai 2.


"Ehem," Sena yang gerah mendengar Albert dipuji oleh wanita lain pun memberi interupsi.


"Bagus tidak?" tanya Albert.


"Bagus, sangat bagus. SUAMIKU pakai apa saja selalu bagus. Kita ambil yang ini, ya." kata Sena menekankan kata SUAMIKU untuk memperingatkan dua pegawai yang terpesona oleh Albert.


"Oke." kata Albert menurut.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Sena dengan langkah cepat meninggalkan butik.


"Hei, jangan cepat-cepat jalannya. Kau baru sembuh." kata Albert memperingatkan Sena membuat Sena berhenti berjalan.


"Mereka sangat menyebalkan. Bagaimana bisa mereka berkata seperti itu dengan suara keras padahal ada aku bersamamu." kata Sena dengan wajah geram yang tidak bisa dikondisikan.


"Huuuuuuffffttt, kau cemburu?" kata Albert menahan tawanya.


"Aku? t tidak. Buat apa aku cemburu." kata Sena tak mau mengakui.


"Ayolah, mengaku saja. Kau cemburu kan?" kata Albert menggoda.


"Tidak." jawab Sena ketus kemudian melanjutkan jalannya meninggalkan Albert di belakangnya.

__ADS_1


"Hahahaha" Albert pun tertawa melihat Sena yang mempercepat langkahnya karena malu.


__ADS_2