
di kafetaria,
"Bagaimana keadaan orangtuamu, Albert?" tanya Laurence.
"Baik, paman. Paman sakit apa, hingga perlu check up?"
"Ah, hanya penyakit yang biasa di derita orangtua sepertiku. Kau terlihat semakin dewasa dan tampan Albert. Apakah kau sudah menikah? Putriku Sena, dia pasti sudah sedewasa dirimu sekarang." kata Laurence menunduk sedih.
"Sebentar lagi aku akan menikah, paman."
"Oh, benarkah? Selamat untukmu, nak."
"Terima kasih, paman. Paman masih belum menemukan keberadaan Sena?"
"Belum, nak. Aku bahkan sudah menyerah semenjak 3 tahun lalu. Aku rasa dia benar-benar tidak ingin di temukan olehku. Hingga anak buahku pun tidak ada yang berhasil menemukannya walau sudah melakukan pencarian selama hampir empat tahun. Ku harap dia hidup dengan baik dimanapun berada."
"Dia pasti hidup dengan baik, paman."
"Ya, semoga saja. Oh iya, kapan kau akan menikah? Bolehkah aku datang?"
"Ah, soal itu kami belum memutuskan waktunya. Kami harus menundanya karena sesuatu hal. Bila sudah menetapkan tanggalnya aku akan menghubungi paman." jawab Albert tersenyum.
"Oh, baiklah. Semoga segera terlaksana. Ini kartu nama paman. Kau harus menghubungiku, oke?"
"Tentu, paman."
Kemudian salah satu anak buah yang sedari tadi menunggu di kejauhan pun mendekat.
"Ada apa?" tanya Laurence.
"...................." jawab si anak buah berbisik ke telinga Laurence.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar."
"Ada apa, paman?"
"Tidak ada apa-apa. Aku harus kembali sekarang, nak. Ingat untuk menghubungiku, ya. Sampaikan salamku kepada orangtuamu." kata Laurence pamit, dan Albert pun beranjak dari duduknya.
"Baik, paman. Hati-hati di jalan." kata Albert.
Albert menatap kartu nama di tangannya, kemudian mendesah pelan.
"Sungguh takdir yang tidak terduga." gumam Albert kemudian menyimpan kartu nama itu di dalam dompetnya.
Albert pun segera meninggalkan kafertaria menuju ruangan dr. Raphael untuk melanjutkan tujuannya yang sempat tertunda.
tok
tok
tok
"Selamat siang." sapa Albert.
"Oh, tuan Albert. Silakan duduk." kata dr. Raphael mempersilakan.
"Terima kasih." kata Albert menarik kursi di depan meja dr. Raphael.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya dr. Raphael sembari melepaskan kaca matanya.
"Begini dok. Saya ingin menanyakan keadaan calon istri saya. Apakah keadaannya memungkinkan untuk sembuh dengan cepat?" tanya Albert to the point membuat dr. Raphael tersenyum.
"Sebenarnya, mengenai berapa lama pasien bisa sembuh tergantung dari keinginannya sendiri, Tuan." jawab dr. Raphael tenang.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Albert tidak mengerti.
"Semakin nona Sena bersemangat untuk sembuh, maka treatment ini bisa selesai dengan cepat. Dan menurut pengamatan saya selama sesi treatment kemarin. Saya rasa nona Sena akan sembuh lebih cepat. Bila semangatnya tidak luntur dan tetap stabil ataupun meningkat mungkin dalam waktu dua sampai tiga bulan nona Sena akan bisa kembali berjalan." kata dr. Raphael menjelaskan.
"Syukurlah." kata Albert refleks dan tersenyum lega.
"Tapi saya sarankan Tuan Albert jangan terlalu memaksa nona Sena. Karena itu tidak baik untuk psikisnya. Cukup beri nona Sena semangat dan perhatian untuk meningkatkan kepercayaan dirinya." kata dr. Raphael mengingatkan.
"Baik dokter, terima kasih. Saya permisi." kata Albert kemudian berdiri menyodorkan tangannya.
"Sama-sama, Tuan." balas dr. Raphael menyalami tangan Albert.
################
Author bayar hutang, nih.
UP 2 chapter sebagai ganti karena kemarin gk UP.
😁
Seneng gk?
Gk thor.
Why?
Masih kurang soalnya.
Ya gustih, tangan author rasanya udah kebas lhoh ngetik 2 chapter langsung.
Lanjut besok lagi yaaa...
__ADS_1
Happy reading, All.
😘😘😘