Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 140 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Keheningan menyelimuti suasana makan, hanya suara denting garpu dan pisau yang terdengar karena ber...... dengan piring.


Ingin rasanya Aurelie menikmati hidangan di depannya dengan suka hati. Namun rasa malunya pasti lebih mendominasi. Bagaimana tidak, ia yang mengajak bertemu tapi malah Antonio yang membayar makanannya.


Sesekali Aurelie melirik pria tampan di depannya. Caranya duduk dan makan begitu mempesona.


"Ah, apakah seindah ini melihat pria tampan makan." gumam Aurelie.


"Apa yang kau katakan?"


"Eh, itu bukan apa-apa."


"Kau tidak suka makanannya?"


"Suka suka. Ini enak sekali. Tapi tuan........."


"Habiskan dulu makanannya baru bicara."


"Baik."


Setelah itu dengan sedikit mengesampingkan rasa malunya, Aurelie pun menikmati hidangannya.


Antonio menghabiskan makanannya lebih dulu dari pada Aurelie. Ia memperhatikan wajah dan tubuh Aurelie yang tampak mungil.


"Dengan tubuh semungil itu dia pernah menjajakan dirinya di Bar untuk biaya operasi ibunya. Kasihan sekali."


Aurelie minum setelah menghabiskan makanannya. Ia menjadi tersedak karena melirik Antonio yang ternyata sedang memperhatikannya.

__ADS_1


"Uhuk uhuk," Aurelie terbatuk hingga matanya memerah dan membuat Antonio khawatir.


Antonio menyodorkan sapu tangannya, dan Aurelie pun menerimanya tanpa berpikir lagi.


"Kau tidak apa-apa?"


"T tidak, tuan. Terima kasih." Aurelie berusaha mengatur nafasnya. Beberapa kali Aurelie menyeka matanya yang berair dengan sapu tangan yang diberikan Antonio.


Setelah merasa lebih baik, Aurelie pun mengajak Antonio bicara.


"Tuan, terima kasih karena kebaikan Tuan ibu saya sekarang sudah lebih sehat. Tanpa uang yang anda dermakan pada kami, mungkin sekarang kondisi ibu saya akan semakin buruk. Saya benar-benar berterima kasih dari hati yang paling dalam."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Jagalah ibumu dengan baik. Hanya itu pesanku."


"Iya, saya pasti akan menjaga ibu dengan baik. Dan itu tuan, saya akan mengembalikan uang tuan. Saya akan menyicilnya, walau saya sendiri tidak tahu sampai kapan hutang itu akan lunas terbayar."


"Kalau begitu, apa yang bisa saya lakukan untuk membalas budi anda?"


"Itu tidak perlu."


"Bagaimana jika saya menjadi ART anda? Saya pernah dengar dari pak Jason jika anda tinggal sendiri di apartemen. Saya bisa membantu anda membersihkannya seusai kerja."


"Kenapa Jason harus menceritakan hal tidak penting seperti ini." memijat pelipisnya.


"Tuan? Bagaimana?"


"Itu tidak perlu."

__ADS_1


"Saya mohon, biarkan saya melakukannya untuk membalas budi anda. Saya tidak akan bisa hidup tenang jika anda menolaknya."


Antonio tidak menyangka bahwa Aurelie akan memohon sampai seperti ini. Ia bisa melihat kesungguhan di mata Aurelie hingga membuatnya tidak tega jika menolak keinginan gadis mungil di depannya itu.


Antonio tidak langsung menanggapi permohonan Aurelie. Ia berkata akan memikirkannya terlebih dahulu. Dan Aurelie cukup senang dengan jawaban Antonio, ia merasa masih memiliki kesempatan untuk membalas Budi Antonio.


Jam menunjukkan pukul delapan malam saat Aurelie meminta ijin untuk pulang. Dan Antonio pun mengiyakan.


Sepeninggalnya Aurelie, Antonio meminta salah seorang pelayan membereskan meja di depannya dan membawakan sebotol Wine untuknya.


Aurelie menunggu bus di halte yang tak jauh dari restoran. Ia duduk lalu merogoh ponselnya di dalam tas. Aurelie sangat kaget begitu melihat notif dimana ada lima panggilan tak terjawab dan 3 pesan dari ibunya. Tanpa banyak berfikir, Aurelie segera mengetik pesan untuk ibunya.


To : My Life


Maaf Ibu, aku pulang terlambat. Makanlah terlebih dahulu lalu jangan lupa minum obat. Aku akan sampai di rumah sebelum pukul sembilan.


Aku mencintaimu, ibu.


Walau sedikit terlambat untuk mengabari, Aurelie tetap mengirimkan pesan kepada ibunya. Ia tidak mungkin membuat ibunya semakin khawatir karena tidak juga memberi kabar. Ia mengetuk kepalanya sendiri, mencerca kebodohannya yang sampai lupa memberi kabar ibunya karena terlalu fokus pada niat balas budinya pada Antonio.


Sedangkan di restoran, Antonio masih menikmati wine di depannya dengan tidak berselera. Ia masih berfikir bagaimana cara terbaik memberi kesempatan bagi Aurelie untuk membalas budinya. Bila ia membiarkannya menjadi asisten rumah tangga dan membersihkan apartemennya tiap pulang kerja. Itu akan memakan banyak waktu istirahatnya. Dan mungkin akan membuatnya pulang terlalu malam kemudian membuat ibunya sangat khawatir.


"Asisten, Asisten rumah tangga tidak baik untuknya." Antonio bergumam sambil memperhatikan gelas wine di tangannya.


Ia berfikir, dari pada menjadi asisten rumah tangganya bukankah lebih baik jika gadis itu menjadi asisten pribadinya dan keluar dari pekerjaannya yang sekarang?


"Benar, lebih baik aku menjadikannya asisten pribadiku. Selama ini aku tidak menggunakan asisten pribadi untuk mengurus keperluanku. Ada baiknya aku mencoba memberinya kesempatan." kata Antonio dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2