
Tepat satu Minggu setelah Aurelie menerima lamaran Antonio. Pertemuan kedua keluarga pun dilakukan dengan tajuk makan malam bersama. Malam ini Antonio menjemput Aurelie dan Ny. Daneila untuk datang ke restoran yang dituju bersama.
Antonio menunggu di ruang tamu, Ia memandang satu persatu bingkai foto yang tertempel di tembok.
"Ternyata dia sudah cantik dari lahir." kata Antonio tersenyum.
Derap langkah semakin mendekat, membuat Antonio mengalihkan pandangannya ke si pemilik langkah itu. Aurelie tersenyum simpul, ia tampak sangat anggun dengan dress selutut sederhana dan riasan tipis diwajahnya. Antonio memandang Aurelie dengan penuh damba. Jika tak ingat bila ia sedang di rumah calon mertuanya, mungkin Antonio akan berlari dan mendekap Aurelie dalam pelukannya.
"Bagaimana? Apakah pakaianku kurang pantas?"
"Tidak, itu sudah cukup."
"Dia bahkan tidak memujiku. Tapi berani menatapku dengan mata yang berbinar seperti itu." gerutu Aurelie dalam hati.
Tak lama kemudian, Ny. Daneila pun menyusul anak dan calon menantunya yang sudah menunggu di ruang tamu dan kemudian mereka bertiga pun bergegas untuk berangkat menuju restoran.
***
Ny. Stevanie memilih privat room sebagai tempat pertemuan keluarga pertama mereka. Ny. Stevanie berfikir jika privat room akan membuat mereka lebih nyaman.
"Papa, ingat kata mama sebelum kita berangkat tadi."
"Iya, ma. Kenapa mama jadi tidak percaya pada papa. Papa kan sudah bilang, kalau papa merestui apapun keputusan Antonio. Kalau memang Aurelie itu pilihan terbaik untuknya, ya sudah."
"Tapi papa juga tidak boleh memasang wajah tidak suka. Papa harus selalu tersenyum di depan Aurelie dan calon besan. Kalau papa mengacaukan acara malam ini, siap-siap saja terkunci di luar kamar."
"Hah, apakah aku masih seorang suami." gumam Tn. Lefrand memasang wajah cemberut.
Sesampainya di restoran, Antonio membukakan pintu untuk Ny. Daneila dan juga Aurelie. Dan saat berjalan menuju privat room, Antonio berusaha menyamakan langkah pendek Aurelie.
__ADS_1
"Kau jangan takut, ya." bisik Antonio pada Aurelie.
"Siapa juga yang takut." kata Aurelie ketus.
Ny. Daneila yang memperhatikan keduanya dari belakang pun tersenyum melihat keakraban mereka.
"Ini ruangannya, papa dan mama sudah menunggu di dalam. Ayo, mari Tante."
ceklek,
Pintu private room terbuka, Ny. Stevanie dan Tn. Lefrand pun berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Maaf atas ketidak sopanan kami karena datang terlambat, Tuan dan Nyonya."
"Tidak apa-apa, Ny. Daneila. Calon menantu cantikku, pasti butuh waktu lebih lama untuk bisa menjadi lebih cantik berkali-kali lipat seperti ini."
Mereka duduk mengobrol obrolan ringan sembari menunggu makanan datang. Ny. Stevanie sangat hangat pada calon besan dan menantunya itu. Sedangkan Antonio dan Tn. Lefrand, jangan tanyakan mereka. Dua batu es itu tentu saja lebih banyak diam dan menyimak obrolan para wanita di dekat mereka.
"Sayang, sepertinya kau sedikit tidak nyaman? Ada apa?" tanya Ny. Stevanie pada Aurelie dan lebih banyak menunduk manakala tidak di ajak mengobrol.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya baik-baik saja." jawab Aurelie tersenyum.
Ny. Stevanie sedikit cemberut mendengar jawaban Aurelie, karena gadis itu masih memanggilnya Nyonya. Padahal, ia adalah calon mertuanya.
"Sayang, panggil aku mama. Oke?"
Belum sempat Aurelie menjawab, pintu terbuka dan para pelayan masuk menata banyak hidangan di meja. Setelah semuanya tertata rapi, pelayan pun segera undur diri.
"Nah, sekarang kita makan malam dulu. Baru setelah itu kita bahas hal paling penting. Silakan, Nyonya Daneila, Aurelie."
__ADS_1
Merekapun menikmati hidangan bersama-sama dengan suasana yang tenang.
Setelah makan dan pelayan membereskan meja. Obrolan penting yang dimaksud Ny. Stevanie pun dimulai.
"Jadi, bagaimana kalau bulan depan kalian menikah?" pertanyaan Ny. Stevanie membuka obrolan itu.
"BULAN DEPAN?"
.
.
.
.
.
.
.
AKHIRNYA BISA NULIS LAGI 🥺
MAAF, YA KARENA LAMA UP NYA.
DAN TERIMA KASIH YANG MASIH SETIA MENUNGGU...
SEE YOU,
__ADS_1