Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 51


__ADS_3

Sena meletakkan handphone di pangkuannya. Tangannya sedikit kesusahan untuk meraih bedak yang ia letakkan di kantong koper miliknya.


"Susah sekali." gumam Sena masih berusaha membuka resleting kantong kopernya.


Praaakkk,


"Ah, sial. Handphoneku." racau Sena menyadari bahwa handphonenya jatuh dari pangkuannya.


Sena berusaha meraih handphone di bawah kakinya dengan hati-hati. Setelah berhasil meraihnya, Sena menegakkan kembali duduknya dan matanya menyusuri setiap sudut untuk mencari Albert yang belum juga kembali.


deg


deg


deg


Jantung Sena berdebar, tangannya mulai bergetar menatap pria paruh baya berjalan melewatinya dengan beberapa orang pengawal. Hatinya begitu perih menatap pria yang sangat dibencinya selama ini. Hingga tak sadar cairan bening meleleh begitu saja dari sudut matanya. Baginya ini adalah kejutan yang sangat tidak ia harapkan. Sena mencengkram dadanya yang bergemuruh hebat. Rasa sesak itu masih sama seperti delapan tahun yang lalu.


"Sayang, maafkan aku karena lama. Aku tadi mampir ke toilet seben...tar." kata Albert tercekat begitu melihat keadaan Sena yang tidak karuan.


"Sayang, Sena? Are you ok?" tanya Albert menatap dan menggenggam tangan Sena khawatir.


"Di dia, ada disini. Kenapa dia ada disini Albert?" tanya Sena dengan suara bergetar mencengkram kerah baju Albert dengan kedua tangannya yang bergetar.


"Huuuusstt, semua baik-baik saja. Tenanglah. Aku kita pergi dari sini. Jemputan kita sudah menunggu di depan." kata Albert mendekap erat tubuh Sena yang bergetar berusaha menenangkan Sena.


Albert mendorong kursi roda Sena keluar dari bandara. Beberapa petugas bandara membantu Albert mendorong troli bawaan Albert dan Sena menuju mobil jemputan.


Dari Bandara Albert langsung saja membawa Sena ke NYU Medical Center, New York. Tempat dimana Sena akan menjalani treatmentnya.


Sesampainya disana, dengan segera Albert membawa Sena ke dalam kamar rawat yang sebelumnya sudah di persiapkan oleh pihak rumah sakit. Albert memesan kamar VVIP dengan ranjang king size dan sebuah sofa serta beberapa alat elektronik di dalamnya. Karena menurutnya kenyamanan Sena selama menjalani treatment adalah hal yang penting, hingga Albert tidak mempersoalkan biaya yang harus ia keluarkan untuk wanita tercintanya itu.

__ADS_1


"Kau istirahatlah dulu. Aku akan menemui dokter yang akan menanganimu untuk mengecek kembali jadwal treatmentmu." kata Albert setelah membopong Sena ke atas ranjang.


Cup


Albert mengecup kening Sena dengan sayang.


"Aku akan segera kembali." kata Albert berlalu meninggalkan Sena.


Albert berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang begitu panjang. Fikirannya terbang kembali saat dimana Sena terlihat ketakutan dan juga marah saat di bandara.


"Apa yang terjadi padamu saat aku pergi tadi?" tanya Albert dalam hati.


------------"-----------


Malam pun tiba, Albert dengan telaten menyuapi Sena.


"Hanya kakiku yang tidak bisa di gerakkan. Kenapa kau memaksa untuk terus menyuapiku?" protes Sena.


Sena mengerutkan kedua alisnya tanda tak mengerti dengan jawaban Albert.


"Karena aku suka saat wanita yang kucintai bergantung padaku." kata Albert tersenyum nakal.


"Cih, kemarikan. Aku bisa makan sendiri." kata Sena meminta sendok di tangan Albert.


"Diamlah, dan biarkan suamimu ini memanjakanmu." kata Albert kembali menyuapkan sesendok makanan ke mulut Sena.


"Oh iya, kamar ini begitu mewah seperti sebuah hotel. Berapa biaya kamar ini permalam?" tanya Sena.


"Kau tidak perlu tahu." jawab Albert datar.


"Kau tidak perlu memboroskan uang seperti ini. Lebih baik besok kita pindah saja ke kamar inap kelas 1. Toh disana pasti satu ruangan untuk satu pasien kan. Sama saja." kata Sena.

__ADS_1


"Kau tidak akan nyaman disana."


"Tidak apa-apa, ada kau juga. Aku pasti akan merasa nyaman asalkan ada kau bersamaku. Lagi pula aku tidak akan sanggup untuk mengganti biaya rawat inap disini untuk 4 bulan ke depan."


Braaakkk


"Hei, kau ini kenapa?" tanya Sena heran karena tiba-tiba Albert meletakkan piring ke atas nakas dengan begitu kasarnya.


"Kau itu yang kenapa. Apa bagimu aku ini orang lain sehingga kau masih mau berhitung uang denganku?" kata Albert dengan nada tingginya.


"Bu bukan begitu maksudku." kata Sena terbata.


Albert menghembuskan nafasnya kasar.


"Sudahlah, jangan seperti itu lagi. Aku calon suamimu dan sudah sepantasnya aku menghabiskan uangku untukmu. Jangan lagi kau fikirkan biaya ini dan itu. Kau cukup fokus dengan treatmentmu dan aku. Lagi pula, uangku juga tidak akan habis begitu saja dengan hanya membayar biaya biaya perawatanmu selama disini. Jadi, Nyonya Albert Nero berhentilah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu." kata Albert penuh penekanan.


Setelah selesai dengan acara makannya, Albert berjalan mendekati Sena. Dengan lembut dan hati-hati Albert pun mulai memberanikan diri untuk bertanya.


"Sekarang, bisakah kau ceritakan kepadaku apa yang terjadi saat aku meninggalkanmu sendirian? Kau terlihat begitu ketakutan sekaligus marah." tanya Albert mengelus pipi Sena.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ketakutan kalau kau tak kembali. Karena kau pergi begitu lama." jawab Sena dengan tersenyum simpul.


"Kumohon, andalkanlah aku dalam semua kesulitanmu. Kau bisa menceritakan apapun padaku. Karena aku calon suamimu kalau kau ingat." kata Albert dengan tatapan sendunya.


"Hemmmh, aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu." kata Sena dengan mata berbinar.


"Jadi, kau mau menceritakannya kan?" tanya Albert memastikan.


"Sebenarnya, tadi aku melihat pria tua itu di bandara saat kau meninggalkanku." kata Sena menunduk.


"Pria tua? Siapa?" tanya Albert penasaran.

__ADS_1


"Papiku."


__ADS_2