Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 124 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Aurelie berjalan tergesa-gesa meninggalkan rumah sakit. Ia tahu harus kemana bila ingin mencari pria dermawan itu. Aurelie menunggu kedatangan bus di halte terdekat dengan tidak sabar. Sebenarnya ia ingin pergi menggunakan taksi agar menghemat waktu, tapi apa daya ia masih harus berhemat untuk bisa makan setiap hari.


Setidaknya kini sudah 15 menit Aurelie menunggu bus yang tak kunjung datang. Beberapa kali Aurelie hampir putus asa dan ingin memberhentikan salah satu taksi yang sejak tadi berlalu lalang di depannya.


"Inikah yang namanya rintangan menuju kebaikan? kenapa sejak tadi busnya tidak datang-datang." gerutu Aurelie dengan frustasi.


"Hari ini ada demo buruh di pabrik W, jadi mungkin busnya akan sangat terlambat." saut seorang pria paruh baya yang tidak sengaja mendengar geruan Aurelie.


"Ah, itu...."


Pria paruh baya itu pun menoleh dan tersenyum pada Aurelie,


"Kalau kau mempunyai sesuatu hal yang mendesak, aku sarankan agar kau pergi menggunakan taksi nak. Berkorban sedikit lebih banyak uang demi hal baik itu tidak akan merugikanmu." nasehat pria paruh baya tersebut.


"Benar juga kata paman itu. Aku harusnya tidak perhitungan dengan ongkos taksi yang tak seberapa jika dibandingkan uang yang dermawan itu berikan untuk biaya operasi ibu." kata Aurelie dalam hati.


"Terima kasih atas nasehatnya, paman. Kalau begitu aku akan pergi sekarang."


Aurelie segera memberhentikan taksi dan meminta supir untuk mengantarkannya ke tempat yang mungkin bisa memberikannya info tentang si dermawan yang ia cari.


***


Menjelang jam pulang kerja, Antonio baru menyelesaikan tumpukan dokumen di depannya. Ia berdiri dari duduknya dan mulai meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat terlalu lama duduk dan berkutat dengan pekerjaan. Antonio mengerutkan alisnya, melihat Jason yang ternyata tanpa ia sadari masih berada di ruangannya dan tengah asyik memainkan game di ponselnya.


"Kenapa kau masih disini?"


"Eh, kau sudah selesai?"


"Aku bertanya, kenapa kau masih disini?"

__ADS_1


"Aku ingin curhat." kata Jason kemudian mematikan game dan meletakkan handphonenya di meja.


"Kenapa lagi kali ini?" tanya Antonio mengambil tempat untuk duduk di sofa dimana Jason berada. Meski Antonio adalah orang yang sedikit kasar dan terlihat tidak pedulian terhadap sekitar. Namun ia merupakan teman yang baik, yang siap mendengarkan segala keluh kesah temannya. Dan hatinya pun lembut, jadi sifat dinginnya itu hanya kedok untuk menutupi jati diri aslinya yang lembut dan penuh kepedulian.


"Ayahku bilang ia akan mengirimku ke Jerman untuk belajar mandiri mengurus perusahaan disana." kata Jason lesu sembari menyandarkan kepalanya di sofa.


"Bukankah itu bagus? Kau akan punya kesempatan untuk membuktikan diri."


"Hei, kau kan tahu sendiri aku ini tidak suka berada di lingkaran perusahaan. Aku ingin menjadi diriku sendiri."


"Memangnya sekarang kau bukan dirimu sendiri?"


"Kau tahu apa yang menyebalkan dari dirimu?" tanya Jason menatap tajam Antonio. Antonio hanya mengangkat bahu tanda bahwa ia tak tahu apa yang menyebalkan dari dirinya.


"Kau pendengar yang baik, tapi pemberi saran terburuk. Ayo, kau harus menemaniku untuk melepaskan stress." Jason berdiri terlebih dahulu membuat Antonio terpaksa mengikuti kemauan temannya itu.


"Biarkan aku yang memilih tempatnya." kata Antonio dan Jason menyetujuinya.


***


Sesampainya di tempat yang ia tuju, Aurelie segera mencari orang yang ia kenal. Si bos yang pernah membawanya kepada teman si pria dermawan itu. Aurelie berharap ia akan bisa mendapatkan informasi darinya.


"Ada apa kau kemari? Ku kira kau sudah tidak mau bekerja denganku."


"Bukan, aku kemari bukan untuk bekerja. Aku mau tanya tentang seseorang."


"Seseorang? Siapa?"


"Pria pertama yang memesanku."

__ADS_1


"Tuan Jason? Kenapa kau mencarinya? Jangan bilang kau hamil dan mau memintanya untuk bertanggung jawab."


"Bukan, aku ingin bertemu temannya. Pria yang bersamanya malam itu."


"Kenapa kau ingin bertemu dengannya?"


"Ah, kenapa banyak tanya. Cepat beri tahu aku."


"Tidak bisa. Itu melanggar privasi. Kau cepat pergilah dari sini."


"Tapi....."


"Seseorang, tolong bawa dia keluar."


Setelah kata-kata itu keluar dari mulut sang bos, tiba-tiba seorang pria yang bertubuh tak kalah kekar menyeret Aurelie keluar dari dalam club itu. Aurelie mendengus kesal, karena usahanya sia-sia. Uang yang ia keluarkan untuk biaya taksi pun juga sia-sia. Akhirnya Aurelie pun melangkah pergi menjauh dari club tanpa menoleh lagi ke belakang.


***


"Kenapa kau membawaku kesini? Aku tidak suka tempat ini." gerutu Jason setelah tahu jika Antonio membawanya ke sebuah Bar yang terkenal dengan berbagai macam Alkohol bermerknya tapi tidak dengan para wanita penghiburnya.


"Kenapa?"


"Terlalu bersih. Tidak ada wanita yang menghibur."


"Aku mengajakmu kesini untuk minum, bukan bermain wanita." kata Antonio melangkah masuk ke dalam bar tanpa memperdulikan Jason yang masih menggerutu di belakangnya.


Antonio mengambil tempat duduk di meja bar tepat di depan jejeran Wine dan Vodka dengan berbagai macam merek. Dengan merasa sedikit terpaksa Jason ikut mengambil tempat duduk di sebelah Antonio kemudian menikmati berbagai macam wine langsung di meja bar tersebut.


Beberapa saat kemudian, Jason mulai meracau karena pengaruh Alkohol. Antonio hanya mendengarkan seadanya setiap kata yang keluar dari mulut temannya itu.

__ADS_1


Antonio diam dengan tatapan kosong. Fikirannya tiba-tiba dikacaukan lagi oleh perasaan bersalah terhadap Abigail. Wanita yang pernah sangat ia cintai. Mungkin akan sangat baik jika ia bisa mengulang waktu dan memperbaiki semuanya. Hatinya kini masih diliputi rasa benci. Bukan lagi pada mendiang Abigail ataupun Albert sahabatnya. Tapi pada seseorang yang sangat ia percaya dan banggakan, ayahnya.


Lamunan Antonio hancur seketika karena tiba-tiba Jason terjatuh dari kursi barnya dan tersungkur di lantai. Membuat Antonio menghela nafas pelan dan terpaksa membawanya pulang ke apartemennya.


__ADS_2