Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 90


__ADS_3

Albert memijit pelipisnya, laporan yang diterimanya pagi ini dari Evan membuatnya benar-benar sakit kepala.


"Apa yang harus kita lakukan, bos?" tanya Evan yang tak kalah kebingungan.


"Biarkan aku memikirkannya sejenak karena kita benar-benar tidak boleh gegabah." jawab Albert.


Pagi ini QL Group mendapatkan sebuah laporan bahwa perusahaan cabang yang berada di Singapura hampir kolaps hanya dalam satu malam. Entah apa yang terjadi sebenarnya, sehingga harga saham dari cabang perusahaan dengab penghasilan terbesar kedua QL Group mengalami nasib seperti ini. Apakah mungkin ada pengkhianat di dalam perusahaannya? pikir Albert bertambah frustasi.


"Evan, siapkan penerbangan ke Singapura untuk sore ini." perintah Albert.


"Baik, bos."


Albert mengambil handphonenya dan mengetikkan sebuah nama kontak.


tut


tut


tut


Sena : Hallo?


Albert : Hey sayang.


Sena : Ada apa? Tumben sekali kau menelpon di jam-jam ini.


Albert : Sayang, aku harus ke Singapura sore ini.


Sena : Kenapa mendadak sekali? Apakah sesuatu terjadi?


Albert : Bukan masalah besar, tapi aku harus kesana untuk mengeceknya secara langsung. Oh iya, jangan biarkan dad dan mom tahu. Oke? Biarkan mereka menikmati liburannya.


Sena : Baiklah. Berapa lama kau akan pergi?


Albert : Aku akan pulang secepatnya setelah semua aman terkendali. Oh iya, aku boleh minta tolong kemaskan beberapa stel baju untukku.

__ADS_1


Sena : Baiklah, aku akan membawakan kopermu langsung ke bandara. Kita bertemu disana.


Albert : Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu.


Sena : Aku juga mencintaimu.


tuuuutt


Albert mematikan sambungan teleponnya kemudian menelpon Evan untuk segera menyiapkan rapat darurat dengan para direksi. Karena ia harus menyerahkan beberapa tugas di QL Group pada beberapa direktur selama ia mengurus masalah di Singapura.


Jam menunjukkan pukul empat sore ketika Sena sampai di bandara. Dengan segera ia menghampiri Albert di tempat ia menunggu pesawatnya.


"Albert." panggil Sena dengan sedikit terengah-entah.


"Sayang." panggil Albert kemudian memeluk erat tubuh istrinya.


"Oh iya, itu kopermu." kata Sena menunjuk sebuah koper yang di bawa oleh sopir yang mengantarnya.


"Terima kasih, sayang." kata Albert menggenggam kedua tangan Sena.


"Tidak apa-apa, sayang. Oh iya, tolong jaga dirimu dan Alnorld. Aku akan merindukan kalian." kata Albert berpesan.


"Hey, kata-katamu itu seperti kau akan pergi sangat lama." kata Sena mengerutkan dahinya karena khawatir.


"Bos, pesawatnya sudah siap." kata Evan menyela obrolan Albert dan Sena.


"Baiklah, tunggu sebentar." kata Albert.


"Sayang, aku pergi sekarang. Pulanglah dengan hati-hati. Aku mencintaimu." kata Albert kemudian mengecup singkat bibir Sena.


"Aku juga mencintaimu." jawab Sena melepas Albert untuk pergi menaiki pesawatnya.


Sementara itu di sebuah ruangan privat sebuah karaoke beberapa pria paruh baya dan seorang pria muda tengah merayakan keberhasilannya dalam mengacaukan harga saham perusahaan milik QL Group.


"Tuan Antonio, anda tidak perlu khawatir. Dengan apa yang sekarang dihadapi oleh QL Contruction, mereka tidak akan dengan mudah untuk naik ke atas angin lagi. Sekarang adalah waktunya bagi perusahaanmu, Slavetone yang akan naik daun." kata seorang pria paruh baya.

__ADS_1


"Jangan terlalu bersenang-senang dahulu. Aku ingat bahwa CEO muda QL Group sangat hebat. Mungkin saja dia akan mengacaukan rencana kita." kata Antonio memperingatkan.


"Anak bau kencur itu, apa yang bisa dia lakukan? Selama ini Tuan Nero tualah yang banyak mengurus QL Contruction. Anak muda seperti dia, heh. Bukanlah apa-apa." kata seorang pengkhianat QL Contruction meremehkan.


Antonio menatap si pengkhianat dengan tatapan tajam. Seolah meminta menjelasan. Untuk seorang Antonio yang sangat sensitif tentu saja kata-kata orangtua itu membuatnya murka. Apa yang orangtua itu katakan? Anak muda tidak bisa apa-apa? Lalu apalah dia di depan orangtua itu? Bahkan usia Antonio jelas lebih muda dari pada Albert Robert Nero, seseorang yang sedang ia bicarakan.


"T tuan Antonio, maksud saya bukan seperti itu. Tentu saja Tuan Antonio berbeda. Anda adalah pengusaha muda, pewaris Slavetone Group yang sangat hebat dan berbakat. Sangat berbeda dengan Albert Nero yang bukan apa-apa." kata si pengkhianat menjelaskan dengan wajah takut.


Setelah kembali dari airport, Sena menemani Alnorld istirahat di kamarnya sembari membaca sebuah buku. Namun tak lama kemudian gerakan Alnorld membuat Sena mengalihkan perhatiannya.


"Sayang?" panggil Sena sembari meletakkan punggung tangannya di kening Alnorld untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Mommy?" panggil Alnorld dengan suara serak. Sena membantu Alnorld untuk duduk bersandar di tempat tidur kemudian menuangkan segelas air putih untuk Alnorld.


"Minumlah air putih yang banyak, agar kau lekas sembuh." kata Sena sembari menyodorkan segelas air dan Alnorld pun menerimanya.


"Mommy, dimana daddy?" tanya Alnorld.


"Sore tadi daddy berangkat ke Singapura untuk menyelesaikan sesuatu. Maafkan daddy karena tidak pamit padamu, karena daddy harus pergi secara mendadak." kata Sena memberikan pengertian.


"Emm." wajah Alnorld nampak kecewa.


"Kau marah?" tanya Sena.


"Tidak, mommy. Aku hanya tiba-tiba ingin bertemu daddy." jawab Alnorld.


Sena membawa Alnorld ke dalam pelukannya dan mengelus kepalanya dengan sayang.


"Daddy akan pulang secepatnya. Kalaupun daddy tidak segera pulang, maka biar kita saja yang pergi mengunjunginya." kata Sena.


"Baiklah."


"Ya sudah, kalau begitu kau tidur lagi ya. Mommy skan disini menemanimu." kata Sena membantu Alnorld untuk merebahkan tubuhnya dan kemudian mengecup keningnya dengan sayang.


Seketika Sena menjadi cemas dengan kepergian Albert yang mendadak ke Singapura. Sena menghela nafasnya dalam.

__ADS_1


"Semoga tidak ada sesuatu yang buruk terjadi." harap Sena dalam hati.


__ADS_2