Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 106


__ADS_3

"Temani aku bermain,"


Aurelie menelan ludahnya dengan susah payah. Walaupun ia terlihat seperti gadis yang polos. Namun ia juga bukan gadis bodoh yang tidak bisa mengartikan kata main yang diucapkan oleh Antonio. Tangan Aurelie kembali meremas ujung gaunnya dengan keras. Ntah bagaimana caranya, ingin segera kabur dari ruangan itu. Ia takut, benar-benar takut membayangkan apa yang mungkin terjadi kepadanya.


"Ayo,"


"Kemana?"


"Hotel, karena aku tidak mau bermain disini."


"Kenapa diam saja? Kau tidak mau? Biar kuberi tahu, kalau kau kabur bisa saja nasibmu menjadi lebih buruk dari ini. Orang yang membawamu tadi kemungkinan masih berada di luar sana."


"Jadi, kau mau ikut dan main denganku. Atau kabur dan mungkin disiksa oleh pria besar itu?"


"A aku akan ikut anda."


"Baguslah kalau begitu. Ayo, aku sudah tidak sabar."


Antonio berjalan terlebih dahulu keluar dari privat room tersebut sedangkan Aurelie mengekor di belakangnya.


Sesampainya di tempat parkir, Antonio tampak bingung. Namun sesaat kemudian ia meraih handphone di saku celananya dan membuat sebuah panggilan.


"Aku butuh supir, sekarang." kata Antonio kepada seseorang melalui telepon.

__ADS_1


Yah, walaupun sudah agak mabuk. Antonio masih cukup waras untuk tidak mencelakai dirinya sendiri dan juga gadis yang akan diajaknya bermain dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sehingga ia menghubungi seseorang yang bisa secepat mungkin memberinya seorang supir.


Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang dengan tergesa-gesa menghampiri Antonio.


"Bawa aku ke Hotel A," Antonio menyerahkan kunci mobil kepada pria paruh baya itu yang tak lain adalah supir panggilan yang dimintanya.


"Masuk," perintah Antonio pada Aurelie.


Aurelie masuk ke dalam mobil sebelum Antonio memaksanya dan Antonio sendiri kemudian mengikutinya duduk tepat di samping Aurelie. Di dalam mobil tidak ada obrolan di antara keduanya. Dari tempat duduknya Aurelie melirik takut ke arah Antonio. Masih ada rasa cemas di hatinya menebak apa yang mungkin akan dilakukan Antonio terhadapnya.


"K kenapa kita kemari?" tanya Aurelie gugup setelah ia sampai di sebuah basement hotel.


"Untuk bermain, apa lagi? Ayo!"


"Bagaimana ini? Aku tidak mau melakukan hal itu. Haruskah aku kabur? Tapi, bagaimana kalau nanti aku tertangkap orang-orang yang tadi? Dan bagaimana dengan uang yang kubutuhkan? Ya Tuhan, bagaimana ini?"


"Hei, kenapa malah diam saja. Ayo cepat, kita harus segera bermain." teriak Antonio.


Antonio terlihat mulai kesulitan menopang tubuhnya karena pengaruh alkohol. Ia mulai mabuk, tapi setidaknya ia ingin tetap waras sampai bisa menemukan kamar hotel yang sudah dipesannya dan membawa Aurelie masuk untuk bermain dengannya.


Antonio mengeluarkan Keycard dari saku kemejanya yang sudah tak rapi lagi. Lalu berusaha membuka pintu kamar di hadapannya. Namun berkali-kali gagal karena Antonio menggunakannya terbalik.


"Shit, kenapa tidak bisa." umpat Antonio.

__ADS_1


Karena malu diperhatikan oleh beberapa tamu yang lewat di koridor itu, Aurelie terpaksa mendekati Antonio dan membantunya membuka pintu kamar tersebut.


ceklek,


"Nah, akhirnya bisa terbuka." kata Antonio menunjukkan cengirannya yang membuatnya terlihat bodoh dan konyol.


"Bagaimana caramu membukanya? Kenapa aku tadi tidak bisa ya?" Antonio kembali berkelakuan konyol membuat Aurelie yang mau tak mau menjadi tertawa kecil.


Antonio mengernyitkan matanya sesaat kemudian mengambil tempat duduk di sofa yang di depannya terdapat meja dan beberapa botol Vodka dan wiski di atasnya.


"Nah, ada beberapa botol lagi. Ayo kita lanjutkan pestanya. Dan setelah itu kau harus menemaniku bermain." Antonio membuka salah satu botol minuman di depannya dan menuangkannya di dalam gelas kemudian meminumnya.


Setelah habis dalam beberapa tegukan, Antonio memperhatikan Aurelie yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar.


"Kesinilah, kita akan bermain sekarang."


Mau tak mau Aurelie pun mendekati Antonio dan duduk tak jauh dari tempat dimana Antonio duduk. Kini Aurelie mulai pasrah dengan nasibnya kali ini.


Setelah Aurelie mendekat, Antonio celingukan mencari sesuatu. Karena tidak mendapatkan apa yang ia cari, akhirnya Antonio pun bangkit dari duduknya dengan membawa serta sebotol minuman keras ke kamar mandi. Antonio menuang seluruh isi botol itu ke dalam kloset kemudian kembali ke sofa dengan botol kosong di tangannya.


"Sudah siap untuk main. Sekarang aku akan memutar botolnya. Kau bersiaplah." Antonio menaruh botol kosong itu di atas meja dalam posisi tidur kemudian memutarnya.


Aurelie tercengang tak percaya, karena ternyata yang dimaksud Antonio bermain adalah melakukan hal konyol seperti ini. Sungguh kecemasannya beberapa saat yang lalu adalah hal yang percuma.

__ADS_1


"Ah, botolnya menghadap ke arahku. Kau, harus memberiku pilihan. TRUTH OR DARE!"


__ADS_2