
"Sayang, bangunlah. Aku sudah membelikanmu pizza." kata Albert mengelus pipi Sena yang tertidur.
"Eeeennngggh, kenapa lama sekali?"
"Tidak lama, aku hanya pergi 30 menit. Lihat?" jawab Albert sembari menunjukkan jam melalui handphone.
"Mana pizzaku?"
"Duduklah, biar aku siapkan."
Sena memakan pizzanya dengan lahap hingga tidak lagi memperdulikan wajahnya yang sudah berantakan akibat saus yang menempel sampai ke pipi dan dagunya. Albert hanya mampu menahan ketawa, melihat tingkah calon istrinya itu.
"Makanlah pelan-pelan. Tidak akan ada yang mencurinya darimu." kata Albert mengusap saus di wajah Sena dengan menggunakan tissue.
----------"---------
Bandara Internasional Negara X,
"Opa, Oma. Alnorld pergi dulu ya. Opa dan Oma harus menjaga kesehatan." pamit Alnorld.
"Tentu saja, sayang." jawab Jesica mengelus kepala Alnorld.
"Evan, aku titip Alnorld ya. Dan kau tidak perlu langsung kembali kesini begitu sampai disana. Kau bisa beristirahat sehari atau dua hari sebelum kembali kesini."
"Baik, tuan. Terima kasih."
"Kabari aku kalau kalian sudah sampai."
"Baik, tuan."
"Cucu opa, selamat berlibur ya. Jangan lupa hubungi opa dan oma. Oke?"
"Oke, opa. Bye."
-------------"------------
"Hei, pemalas. Bangunlah. Hari ini kau ada jadwal treatment."
__ADS_1
"Eeeennngggh, bolehkah aku libur?"
"Kenapa? Kau sakit, tidak enak badankah?" tanya Albert panik sembari mengecek suhu tubuh Sena dengan punggung tangannya.
"Tidak, ntah kenapa hari ini aku merasa sangat malas." jawab Sena.
"Ya Tuhan. Ayolah sayang, kau harus semangat. Aku berjanji setelah selesai treatment nanti aku akan memberimu kejutan yang sangat spesial." bujuk Albert.
"Benarkah?"
"Emm, tentu saja. Ayo, ku antar kau ke kamar mandi dulu." kata Albert yang langsung membopong tubuh Sena.
"Stop." kata Sena menginterupsi.
"Why?"
"Cukup bantu aku berjalan. Jangan bopong-bopong aku lagi." kata Sena.
"Baiklah, ayo."
-----------"----------
Sesuai jadwal hari ini Sena kembali melakukan treatmentnya. Kali ini dr. Raphael mengijinkan Albert untuk membantu.
Tidak ada rasa lelah atau sakit yanh Sena rasakan dari treatment kali ini. Benar saja, kehadiran dan dukungan langsung dari Albert sangat membantunya. Walau berkali-kali terjerembab jatuh, justru tawa yang terjadi bukan kesakitan seperti biasa.
"Good job, sayang. Kau pasti bisa. Ayo mulai lagi." ajak Albert mengulurkan kedua tangannya.
Dengan tersenyum. dan sedikit terengah-engah Sena menerima uluran tangan Albert dan mulai bangkit berdiri kembali.
Selangkah, dua langkah hingga mencapai lebih dari sepuluh langkah. Sena berhasil melakukannya dengan baik, walau masih dengan bantuan.
triiiing tingting
tingting triiiing
"Handphonemu berbunyi." kata Sena.
__ADS_1
"Biarkan saja." kata Albert.
"Angkat saja dulu. Biarkan aku istirahat sebentar." pinta Sena.
"Baiklah kalau begitu." kata Albert yang kemudian meminta tolong suster untuk mengambilkan kursi roda Sena. Kemudian keluar ruangan untuk menjawab teleponnya.
Albert : Hallo, Evan?
Alnorld : DADDY...
Albert : Son? Kalian sudah sampai?
Alnorld : Ya, sekarang kami ada di depan rumah sakit.
Albert : Baiklah, kau bisa menunggu di kamar mommy. Dan memberikan kejutan. Karena sekarang mommy masih melakukan treatment.
Alnorld : Oke, daddy.
Albert : Sekarang, bolehkah daddy berbicara sebentar dengan om Evan?
Alnorld : Tentu.
Evan : Halo, bos?
Albert : Van, tolong bawa Alnorld ke Kamar VVIP nomer 05 di lantai 7 ya. Itu kamar rawat Sena.
Evan : Baik, bos.
Albert pun mematikan sambungan teleponnya kemudian kembali ke dalam ruang treatment.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat senang sekali setelah menerima telepon?" tanya Sena menyelidik.
"Tidak ada apa-apa. Masih berapa lama treatmentmu?" tanya Albert
"Sekitar 30 menit lagi." jawab Sena sembari melihat jam dinding di depannya.
"Oke, mari kita mulai lagi." kata Albert mengajak Sena untuk memulai lagi treatmentnya.
__ADS_1