
Hangatnya matahari pagi menembus celah jendela kamar, membuai kulit Sena. Perlahan, mata Sena pun terbuka, mengingat hari ini adalah hari besar untuknya membuat Sena tersenyum.
tok
tok
tok
"Nona?"
"Ya, bi. Masuklah." teriak Sena.
Sejak 3 hari yang lalu Sena kembali nemempati kamarnya di mansion Laurence. Siapa sangka, ternyata selama ini mansion tersebut masih milik keluarga Laurence. Laurence sengaja meninggalkan mansion tersebut tetap terawat demi Sena. Dia selalu berharap putrinya kembali, hingga akhirnya Laurence memilih pergi dan meminta beberapa orang untuk mengurus mansion tersebut.
"Maaf, nona. Tuan sudah menunggu di bawah untuk sarapan."
"Baiklah, aku akan segera turun. Terima kasih, bi."
"Sama-sama, nona. Saya permisi."
Setelah maid itu keluar dari kamar, Sena segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama bagi Sena untuk menyelesaikan ritual mandinya dan bersiap untuk sarapan.
"Morning, pi."
"Morning, sayang. Ayo sarapan, sebentar lagi kau sudah harus di rias."
"Baiklah. Papi tahu, sampai hari ini aku masih tak percaya bisa kembali menempati mansion ini. Setelah kembali kesini, aku tidak pernah berharap jika mansion ini masih milik keluarga kita."
"Papi tidak mungkin menjual tempat yang penuh kenangan ini, sayang."
"Terima kasih."
Laurence dan Sena pun melanjutkan sarapannya dengan sesekali mengobrol ringan.
Natasya, sang desainer beserta asisten dan make up artis sampai ke mansion laurence tepat setelah Sena menyelesaikan sarapannya. Dan demi menghemat waktu, Sena pun segera bersiap.
"Wajah seperti ini pun kalau tidak di make up sudah cantik." puji Melinda si make up artis.
__ADS_1
"Benarkan aku bilang, kalau pengantin kita hari ini sangat cantik."
"Ya, benar sekali."
"Berhentilah, kalian ini terlalu memuji." kata Sena membuat Natasya dan Melinda berhentu bicara.
"Baiklah, sekarang kita mulai make upnya."
Setelah selesai dengan make up dan hairdro, natasya dan asistennya membantu Sena untuk mengenakan gaun pengantinnya.
"Aku akan mengambil foto untuk ini." kata Melinda kemudian mengeluarkan ponselnya.
cekrek
"Haaaa, sungguh cantik sekali. Ku jamin, Tuan Albert pasti akan tercengang mentapmu Sena." kata Melinda kemudian natasya pun menghampiri Melinda dan ikut melihat hasil jepretan tersebut.
"Asal kau tahu saja, Mel. Saat fitting saja, Tuan Albert tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sena saat dia memakai gaunnya." kata Natasya menimpali.
"Itu karena gaunnya yang cantik." kata Sena tersenyum menawan
Sementara itu di mansion keluarga Nero, Albert yang sudah siap masih mengurung dirinya di kamar. Ntah mengapa ia merasa tegang sejak semalam.
ceklak
Albert menoleh ke arah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Dave tersenyum mengejek menatap sang sahabat yang terlihat sangat tegang.
"Heh, ternyata bos kita bisa tegang juga. Evan lihatlah Albert, wajahnya sungguh tidak bisa di kondisikan." kata Dave kemudian Evan ikut mengintip bosnya sekaligus sahabatnya dari balik tubuh Dave.
"Kau ini berisik sekali." kata Albert ketus.
"Come on, rileks bro. Semuanya akan berjalan dengan lancar." kata Dave menenangkan.
"Hari ini aku akan berperan sebagai sahabatmu, jadi Al semangatlah." kata Evan memberikan semangat.
"Apakah Al ada di dalam?" tanya Jesica dari pintu kamar.
__ADS_1
"Silakan tante, sepertinya calon pengantin prianya butuh dukungan dari anda." kata Dave kemudian pamit bersama dengan Evan untuk keluar dari kamar untuk mempersilakan Jesica dan Albert berbicara empat mata.
"Hah, akhirnya kau menikah juga." kata Jesica sembari merapikan tuxedo yang dipakai Albert.
"Apakah mom bahagia, aku menikah?" tanya Albert menggoda Jesica.
"Tentu saja, mom bahagia. Dan kau tahu, mom akan lebih bahagia kalau kau segera memberikan mom cucu lagi. Adik Alnorld." kata Jesica balik menggoda.
"Mom, I love you." ucap Albert meneluk Jesica erat.
"I love you too." balas Jesica.
"Hah, aku jadi ingin menangis. Sudah ayo, kita turun. Yang lain sudah menunggu di bawah. Kita harus segera berangkat ke tempat acara." ajak Jesica.
"Baiklah, ayo."
Albert dan Jesica menuruni tangga beriringan. Di bawah sudah menunggu keluarga dan beberapa kerabat dekat keluarga Nero.
"Daddy." panggil Alnorld kemudian berlari ke pelukan Albert.
"Aku bahagia, karena akhirnya aku akan memiliki orangtua yang lengkap." kata Alnorld dalam pelukan Albert.
"Maafkan daddy karena terlambat mengetahui keberadaanmu. Daddy sangat mencintaimu, son." kata Albert lirih di telinga Alnorld.
"Aku juga, semoga daddy dan mommy bahagia." kata Alnorld tulus.
Setelah semuanya sampai, acara pemberkatanpun segera di laksanakan. Laurence menggenggam erat tangan Sena mengantarkannya ke Altar tempat dimana Albert menunggu. Laurence tidak bisa menutupi rasa harunya, hingga beberapa kali tangan tuanya harus mengelap buliran air di pelupuk matanya. Albert yang menunggu di ujung Altar tak henti-hentinya memuji kecantikan sang calon istri. Senyuman terus mengembang seolah hari ini adalah hari yang paling membahagiakan di hidupnya.
Setelah sampai di Altar, Laurence pun menyerahkan tangan Sena kepada Albert. Kemudian acara pemberkatan pernikahan pun di mulai.
Suasana khidmat terasa di tempat pemberkatan berlangsung. Beberapa tamu undangan tak henti-hentinya saling berbisik mengagumi kecantikan dan ketampanan kedua mempelai. Sungguh mereka merasa bahwa Albert dan Sena memang diciptakan untuk satu sama lain.
.
.
.
__ADS_1
.
.