
Seperti yang sudah dijanjikan, setelah tiga hari Albert kembali ke Amerika untuk menemani pujaan hatinya, Sena.
Hari-hari berikutnya di lalui dengan treatment dan juga jalan-jalan di taman seperti biasa. Dan sore ini sekali lagi Albert membawa Sena berjalan-jalan di sudut rumah sakit yang berbeda seperti biasanya.
"Aku tidak tahu kalau ada tempat sebagus ini disini." kata Sena sembari menikmati pemandangan di depannya.
"Aku juga baru tahu kemarin, kupikir kau akan bosan bila ku ajak jalan-jalan ke taman samping seperti biasa."
"Terima kasih."
"Kembali kasih, sayang." kata Albert kemudian mengecup kening Sena.
cup
"Al?"
"Ya?"
"Kupikir ucapanmu dulu ada benarnya."
"Ucapan yang mana?"
"Tentang memaafkan dan melupakan rasa kecewaku terhadap papi. Aku pikir benar juga, bila aku ingin benar-benar merasakan kebahagiaan aku harus melepaskan rasa kecewaku dan belajar untuk memaafkannya. Lagi pula, sudah hampir delapan tahun. Aku pun tidak tahu apa yang sudah di lalui papiku selama ini. Jadi aku akan mencoba memaafkannya. Ku harap ia akan bahagia dan baik-baik saja dimana pun berada."
"Dia pasti baik-baik saja. Sayang, andai suatu saat Tuhan menakdirkan untuk mempertemukan kalian. Apa yang akan kau lakukan?"
"Selagi dia sudah berubah dan menyesali kesalahannya di masa lalu, mungkin aku mau memulai semuanya dari awal. Setidaknya, seburuk apapun dia, dia tetap ayahku bukan?"
"Kau sungguh bijak, sayang. Aku sangat beruntung memilikimu." kata Albert mencium pipi Sena.
"Hahah, jangan cium pipiku. Lihatlah ini, ini membuatku geli. Aku tidak tahan." kata Sena mengelus kumis dan jenggot serta jambang Albert yang mulai tumbuh memanjang.
"Kau mau membantuku bercukur? Aku tidak tahan kalau tidak boleh menciummu."
"Dasar mesum."
"Hei, ini belum ada apa-apanya. Tunggulah kau menjadi istriku, maka kau akan tahu seperti apa mesumku."
__ADS_1
"Hahahaha"
Dua minggu kemudian,
"Bagus sekali nona Sena. Dengan begini saya sudah bisa menghentikan treatmentnya. Dan anda bisa memulainya sendiri di rumah."
"Benarkah dokter?"
"Ya, tentu saja."
"Apakah benar tidak apa-apa bila treatmentnya di cukupkan sampai sini saja, dok?"
"Tidak apa-apa, Tuan. Perkembangan nona Sena memang cepat dan signifikan. Saya yakin dalam waktu dua minggu sampai satu bulan lagi Nona Sena akan bisa berlari seperti sedia kala."
"Jadi, kapan saya boleh pulang dokter?"
"Lusa anda boleh keluar dari rumah sakit nona."
"Terima kasih, dokter."
Saat perjalanan kembali ke kamar Sena dengan semangat mengoceh menyebutkan apa saja yang ingin ia lakukan setelah kembali ke Negara X. Sedangkan Albert hanya bisa tersenyum mendengarkan ocehan Sena.
"Sayang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
"Kau akan tahu nanti. Ayo kita ke taman."
Albert pun membawa Sena ke taman. Ntah apa yang terjadi, setelah Albert mengatakan seseorang ingin bertemu dengannya. Sena menjadi diam seribu bahasa.
"Itu dia, seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Sena menatap punggung seorang pria paruh baya yang membelakanginya. Tanpa aba-aba cairan bening lolos begitu saja dari matanya.
"P papi?" panggil Sena dengan menutup mulutnya tak percaya.
Mendengar seseorang memanggilnya dengan panggilan yang akrab membuat pria paruh baya itu berdiri dari duduknya dan menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Sena, sayang." kata Laurence kemudian berjalan menghampiri Sena.
"Sena, maafkan papi. Maafkan segala dosa papi padamu dan mamimu. Kau boleh menghukum papi untuk melampiaskan kekecewaanmu, asalkan kau bisa memaafkan papi." sambung Laurence berlutut di depan Sena yang duduk di kursi roda.
"Papi, tolong jangan seperti ini. Berdirilah."
Kini Sena dan Laurence duduk berdua di kursi taman. Sedangkan Albert, dia meninggalkan keduanya agar dapat lebih leluasa berbicara.
"Sena, maafkan papi."
"Aku sudah memaafkan papi."
"Percayalah, saat itu papi tidak punya pilihan lain untuk mempertahankan perusahaan. Orang itu menjebak papi, sehingga mau tidak mau papi harus menurutinya untuk kembali ke dunia gelap itu. Bertahun-tahun papi sembunyikan hal itu dari kalian. Namun pada akhirnya mamimu tahu, dan meminta papi untuk berhenti. Papi ingin berhenti, tapi tidak semudah itu. Orang-orang itu mengancam papi akan mencelakaimu dan mamimu. Papi tak punya pilihan lain. Sampai akhirnya, mamimu......." kata Laurence tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya karena air bening yang lolos dari mata tuanya.
"Aku sudah memaafkan papi." kata Sena menghapus air mata di pipi Laurence.
"Benarkah?"
"Iya. Sekarang, apakah papi masih bekerja dengan mereka?" tanya Sena menyelidik.
"Tidak, seseorang menolong papi. Sehingga papi bisa dengan tenang meninggalkan dunia gelap itu."
"Syukurlah."
"Eeeegggh." Laurence tiba-tiba mencengkram dadanya yang terasa sakit.
"Papi, papi kenapa?"
"aaaaarrrggh" gerang Laurence tak mampu lagi menahan rasa sakitnya.
"Toloooong, suster tolong papiku. Aaalll, Albeerrt. Tolong." teriak Sena dengan panik.
Albert yang mendengar teriakan Sena pun segera berlari menghampiri.
"Paman, paman Laurence?" Albert berusaha mengecek kesadaran Laurence
"Suster cepat." teriak Sena dengan tangisan yang sudah pecah.
__ADS_1