Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 63


__ADS_3

Di kedai ayam goreng,


"Duduklah dulu, paman. Aku akan pergi memesan terlebih dahulu." kata Albert mempersilakan.


"Baiklah." kata Laurence menarik salah satu kursi.


Setelah memesan beberapa potong ayam goreng beserta makanan pendampingnya Albert pun kembali ke meja dimana Laurence menunggu.


"Maaf, lama paman. Ini, aku membelikan paman jus sirsak yang baik untuk kesehatan paman." kata Albert menyodorkan segelas jus sirsak kemudian duduk berhadapan dengan Laurence.


"Terima kasih. Nak, bolehkah aku bertanya?"


"Silakan, paman ingin menanyakan apa?"


"Kenapa kau menutupi hal penting dari paman?"


"Hal penting?" tanya Albert tak mengerti.


"Iya, harusnya paman marah dan kecewa padamu. Tapi paman yakin kau pasti memiliki alasan mengapa menutupi hal ini dari paman." kata Laurence menatap nanar Albert.


"Maaf, paman. Aku sungguh tidak mengerti yang paman maksud."

__ADS_1


"Sena, Sena Laurenchia putriku. Sejak awal kau tahu keberadaannya bukan? Tapi mengapa kau tidak memberitahuku?" tanya Laurence dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Paman sudah tahu?" tanya Albert kemudian menghela nafasnya.


"Ya, aku tadi melihat kalian di taman. Kalian tampak akrab." jawab Laurence.


"Maafkan aku, paman. Aku memang bersalah karena tidak jujur padamu. Tapi percayalah, aku sedang berusaha untuk memperbaiki keadaan sebelum nantinya kalian bertemu. Sena sudah menceritakan masa lalunya, mengenai paman dan juga kematian tante. Aku fikir Sena mungkin belum bisa untuk bertatap muka secara langsung dengan paman." kata Albert menjelaskan.


"Jadi, dia sudah menceritakan semuanya padamu? Aku memang tidak layak menjadi ayahnya." kata Laurence menunduk penuh penyesalan.


"Jangan berbicara seperti itu, paman. Semua orang memiliki salah di masa lalu. Tapi semua orang memiliki masa depan untuk memperbaikinya." kata Albert meraih tangan Laurence di atas meja.


"Sejak kapan kau bertemu dengan Sena?" tanya Laurence menguatkan hatinya.


"Ceritakanlah, nak." pinta Laurence.


"Sebelumnya, aku sungguh minta maaf paman. Aku bertemu putrimu di Jepang saat aku sedang dalam perjalanan bisnis. Karena ada sesuatu hal akhirnya aku membawanya kembali ke negara X bersamaku. Saudara yang kuceritakan sedang di rawat disini tempo hari adalah Sena. Calon istriku yang kusebutkan juga adalah Sena." kata Albert memulai ceritanya.


"Kalian akan menikah?" tanya Laurence yang tampak kaget.


"Iya, paman. Kami bahkan sudah memiliki seorang putra. Mungkin tadi di taman paman melihat ada anak laki-laki di antara kami. Dialah putra kami. Namanya Alnorld Laurence Nero. Dia baru saja sampai di Amerika 3 hari yang lalu." kata Albert sedikit menunduk karena merasa tidak enak.

__ADS_1


"Apa? Kalian tidak hanya akan menikah, tapi juga sudah memiliki putra sebesar itu?" tanya Laurence memegang kepalanya tampak tak percaya.


"Maafkan aku, paman. Itu salahku." kata Albert menunduk.


"Sudahlah, aku pun sedikit merasa gembira karena ternyata Sena bersama dengan pria yang baik bahkan aku pun terharu karena ternyata aku sudah menjadi seorang kakek. Bisakah kau bantu aku menemuinya, nak?" kata Laurence mencoba menghibur Albert yang tampak merasa bersalah di depannya.


"Untuk menemui Sena mungkin masih butuh waktu, paman. Tapi aku bisa mempertemukanmu dengan Alnorld." kata Albert tersenyum.


"Baiklah, itu cukup bagus. Oh iya, aku bahkan lupa bertanya. Apa yang terjadi pada Sena? Kenapa dia di rawat disini?" tanya Laurence khawatir.


"Sekitar tiga bulan yang lalu Sena mengalami kecelakaan, kakinya mengalami kelumpuhan. Dan aku membawanya kesini untuk melakukan treatment agar dia bisa kembali berjalan." kata Albert menjelaskan.


"Ya Tuhan, malang sekali nasib putriku. Aku sungguh ayah yang tidak berguna. Nak, paman mohon, bantulah paman untuk bisa bertemu dengannya. Paman akan berlutut di depannya untuk meminta pengampunan darinya." kata Laurence memohon.


"Paman, kumohon jangan seperti ini. Aku pasti akan membantu paman. Percayalah, suatu saat kalian pasti akan bisa duduk bersama layaknya ayah dan anak." kata Albert.


"Terima kasih, nak."


"Sama-sama, paman. Oh iya, paman. Sepertinya aku tidak bisa lebih lama disini. Alnorld pasti sudah mulai merajuk menunggu ayam gorengnya."


"Oh baiklah. Pergilah nak, jangan biarkan cucuku kelaparan."

__ADS_1


"Aku akan segera menghubungi, paman. Tolong jaga kesehatan, paman. Aku permisi." pamit Albert kemudian meninggalkan Laurence yang masih diam mencerna obrolannya bersama Albert yang membuatnya kaget dan bahagia sekaligus.


__ADS_2