Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 65


__ADS_3

"Daddy, kenapa tidak bawa kakek bersama kita saja untuk menjenguk mommy?" tanya Alnorld saat sudah di dalam mobil.


"Belum saatnya, son. Oh iya, kau tidak boleh bilang pada mommy jika tadi kau bertemu dengan kakek. Oke?" kata Albert.


"Kenapa tidak boleh bilang?" tanya Alnorld keheranan.


"Itu, karena kita akan menjadikannya kejutan. Ya, kejutan. Jadi nanti kalau sudah waktunya kita akan mempertemukan mommy dengan kakek di tempat yang spesial." jawab Albert menjelaskan.


"Wah, ide bagus daddy." kata Alnorld riang.


"Jadi, kau mau ikut membantu son?" tanya Albert melirik ke arah putranya.


"Tentu saja." kata Alnorld.


Sesampainya di kamar Sena.


Ceklek,


"Hei, kalian kemana saja. Kenapa meninggalkanku begitu lama?" tanya Sena begitu Albert daj Alnorld kembali.


"Mommy ini seperti anak kecil saja. Daddy hanya mengajakku makan dan berjalan-jalan di mall." jawab Alnorld sebal karena Sena yang bertanya tiba-tiba dengan suara tinggi.


"Kau tidak membawakan apa-apa untukku?" tanya Sena melihat ke arah Albert.


"Aku membawakan sesuatu untukmu. Dan aku yakin, kau pasti suka." kata Albert menghampiri Sena dengan sebuah bungkusan.


"Waaaaah, ini kan makanan kesukaanku? Dari mana kau tahu kalau aku sangat menyukai hidangan ini? Aku sudah lama tidak memakannya." Kata Sena begitu membuka bungkusan yang di bawa Albert.


"Ayahmu yang memberi tahuku." kata Albert dalam hati.


"Tunggu sebentar, biar ku pindahkan ke piring terlebih dahulu." kata Albert mencegah Sena yang sudah siap menyantap hidangan yang dibawanya langsung dari kotak pembungkus.


"Tidak usah, aku akan makan seperti ini. Kalau kau pindahkan kepiring maka rasanya akan berubah." kata Sena.


"Mana ada yang seperti itu? terserah kau sajalah, asal kau senang. Habiskanlah." kata Albert mengelus kepala Sena.


Seminggu kemudian,


"Aku akan merindukan, mommy." kata Alnorld memeluk Sena.


"Mommy juga, sayang." kata Sena mengelus punggung putra tersayangnya.


"Mommy harus lekas pulih, oke?" kata Alnorld begitu melepaskan pelukannya.


"Oke, mommy akan berusaha untuk pulih secepatnya dan pulang ke Negara X untuk memelukmu. I love you."


"I love you."


"Sayang, aku akan mengantar Alnorld pulang dan setelahnya akan ke kantor mengecek pekerjaan. Setelah itu aku akan langsung kembali. Tiga hari lagi aku akan kembali. Jaga dirimu baik-baik, ya." kata Albert mendekati Sena dan mengecup keningnya.


cup


"Kau tidak perlu khawatir. Ada banyak suster disini yang bisa membantuku. Sampaikan salamku untuk mom dan dad." kata Sena tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu, kami berangkat dulu." kata Albert pamit.

__ADS_1


"Bye mommy." pamit Alnorld dengan melambaikan tangan dan Sena pun membalas lambaian tangan putranya itu.


Perjalanan ke bandara sangatlah lancar, sehingga masih ada waktu bagi Albert dan Alnorld untuk menunggu seseorang sebelum memasuki pesawat yang akan membawa mereka pulang ke Negara X.


"Itu kakek." kata Albert menunjuk Laurence yang berjalan ke arahnya dengan diikuti asistennya.


"Kakeeeek" kata Alnorld berhambur memeluk sang kakek.


"Cucu kakek sudah mau pulang ya?" tanya Laurence basa basi.


"Iya, sebenarnya aku masih ingin disini. Tapi. daddy dan mommy tidak mengijinkanku untuk membolos barang seharipun." jawab Alnorld mengerucutkan bibirnya.


"Benar kata daddy dan mommymu. Kau harus rajin belajar dan tidak boleh membolos. Kakek ada sesuatu untukmu." kata Laurence memberikan semua kotak hadiah kepada Alnorld.


"Apa ini kakek?" tanya Alnorld begitu menerima hadiahnya.


"Bukalah setelah kau naik ke pesawat." kata kakek.


"Baiklah, terima kasih kakek." kata Alnorld kemudian memeluk kembali sang kakek.


"Sama-sama sayang." jawab Laurence kemudian melepaskan pelukannya.


Albert berjalan mendekati Laurence.


"Paman, tunggulah sebentar lagi. Aku akan berusaha membuat Sena menghilangkan rasa bencinya, dan mempertemukan kalian secepat mungkin." kata Albert.


"Baiklah, terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan untuk kami. Sekarang, masuklah ke pesawat." kata Laurence tersenyum menepuk bahu Albert


"Iya, paman. Kami pamit dulu."


"Sampai jumpa lagi, cucuku."


---------"--------


Jam menunjukkan pukul sembilan pagi saat Albert dan Alnorld sampai di mansion keluarga Nero.


"Omaaaaaa" teriak Alnorld begitu memasuki mansion.


"Waaaaah, cucu oma sudah pulang." teriak Jesica yang langsung menghampiri sang cucu.


"Mom," sapa Albert.


"Bagaimana kabarmu, Al?" tanya Jessica.


"Baik. Dad ada dimana?" tanya Albert.


"Dad mu ada di ruang kerjanya." jawab Jessica singkat.


"Baiklah, kalau begitu aku kesana dulu ya." kata Albert kemudian meninggalkan Jessica bersama Alnorld.


"Alnorld, cucu tampan oma. Oma sangat merindukanmu. Oh iya, kau harus menceritakan banyak hal pada oma. Apa saja yang kalian lakukan selama disana." kata Jesica yang mengajak Alnorld duduk di ruang keluarga.


"Aku melakukan banyak hal, oma. Oh iya, lihat apa yang kupunya." kata Alnorld menunjukkan sebuah VR Game keluaran terbaru.


"Wah bagus sekali. Daddy membelikanmu ini?" tanya Jessica.

__ADS_1


"No. Kakek yang membelikannya." jawab Alnorld senang.


"Kakek?" tanya Jessica penasaran.


"Kakek Laurence, ayahnya mommy." jawab Alnorld.


"Kau bertemu dengan kakekmu disana?" tanya Jessica memastikan.


"Iya, oma. Kakek sangat baik padaku." jawab Alnorld tersenyum bahagia.


"Benarkah?" tanya Jessica yang ikut tersenyum.


"Ya, seperti oma dan opa." jawab Alnorld membuat Jessica bahagia.


"Bagaimana keadaan mommy?" tanya Jessica.


"Mommy sudah bisa berjalan walau baru beberapa langkah. Kata paman dokter, kalau mommy tetap semangat dan berusaha mungkin dua minggu lagi mommy sudah akan bisa pulang."


"Syukurlah. Oh iya, cucu oma lapar tidak?"


"Lapar oma."


"Kalau begitu, ayo kita makan. Oma sudah menyiapkan banyak makanan lezat untukmu. Kau ke meja makan dulu ya, biar oma memanggil opa dan daddymy untuk makan bersama."


"Baik, oma."


Di ruang kerja Jeremy.


"Bagaimana keadaan Sena?"


"Baik, dad. Kalau kata dokter, mungkin dua sampai tiga minggu lagi Sena sudah bisa menghentikan treatmentnya."


"Syukurlah."


"Bagaimana keadaan perusahaan?"


"Kenapa? Kau meragukan dad mu yang sudah tua ini?" tanya Jeremy menatap tajam Albert.


"Bukan begitu, kan aku hanya bertanya." jawab Albert tertawa kecil.


"Baik-baik saja, tidak mungkin juga aku menghancurkan QL Group dalam waktu 3 bulan kan. Dan juga ada Evan yang membantuku. Jadi kau jangan khawatir." jawab Jeremy.


"Baiklah, tentu saja Tuan Besar Nero memiliki kemampuan untuk menjalankan QL Group. Hehehe." kata Albert memuji sang ayah.


ceklek,


"Hei, kalian. Ayo turun dan makan bersama. Cucuku sudah menunggu." ajak Jesica begitu membuka pintu ruang kerja Jeremy.


"Baiklah, ayo turun. Aku juga sudah sangat merindukan bocah kecil itu." kata Jeremy merangkul pundak sang putra yang sama tinggi dengannya.


"Kau tidak merindukanku, dad?" tanya Albert meilirik.


"Semenjak kau besar dan jadi menyebalkan aku sudah tidak pernah merindukanmu. Untung kau memberiku cucu yang mirip denganmu, jadi aku bisa merasakan bagaimana rasanya merindukan seseorang lagi." jawab Jeremy tersenyum nakal.


"Dad? Kau tega sekali." kata Albert memasang wajah pasrah.

__ADS_1


"Hahahaha." jeremy pun tertawa keras mendengar jawaban sang putra.


__ADS_2