
Setelah acara makan selesai,
"Saya sudah membaca sekilas proposal yang anda ajukan, Tuan Wilbert." kata Albert mengawali perbincangan.
"Oh, bisakah kita tidak membicarakan pekerjaan? Aku mengundangmu makan malam bukan untuk urusan pekerjaan." kata Wilbert.
"Oh, kalau begitu ada sesuatu yang lainkah?" tanya Albert sedikit bingung.
"Itu, emm..........." kata Wilbert terhenti.
Tiba-tiba dan tanpa aba-aba Keyla berdiri dari duduknya.
"Saya adalah penggemar berat anda Tuan Albert. Saya sudah mengikuti beberapa seminar bisnis anda bahkan saya mengoleksi beberapa majalah yang pernah mewawancarai anda." saut Keyla menyela dengan suara tinggi membuat semua orang di meja itu kaget.
"O oh, baiklah. Terima kasih." kata Albert yang tampak kaget dengan sikap Keyla saat baru saja datang.
"Oleh karena itu saya berharap bisa melakukan magang di perusahaan anda. Tolong ijinkan saya dan mohon tempatkan saya di QL Group pusat yang ada di negara X." pinta Keyla memohon.
"Bukankah negara X terlalu jauh kalau hanya sekedar untuk magang?" tanya Albert keheranan. Karena selain jauh, sangat aneh bagi Albert karena Keyla bersikukuh ingin magang di perusahaan padahal perusahaan keluarganya pun tergolong perusahaan besar di Negara Jerman.
"Maafkan putri bungsu kami, Albert. Anak muda sekarang memang penuh semangat. Dia begitu mengidolakanmu sampai-sampai ingin magang di QL group dan menolak untuk masuk ke perusahaan keluarganya sendiri." kata Wilbert seolah-olah memahami apa yang dipikirkan Albert.
"Tidak apa-apa. Disana ada tunangan saya yang akan menjaga saya." kata Keyla menginterupsi.
"Tunangan?" tanya Albert memandang Wilbert.
"Itu, Albert. Putriku Keyla ini baru saja akan bertunangan dengan putra pemilik SUN MALL Group di negaramu. Mungkin kau kenal dengan putra dari pemiliknya yang bernama William Dyger." jawab Wilbert.
"Ya Tuhan, betapa sempit dunia ini." kata Albert dengan ekspresi tak percaya.
"Anda kenal tuanganku, tuan?" tanya Keyla.
"Tidak hanya kenal. Dia adalah sepupu dari pihak ibuku. Kalau boleh tahu sejak kapan pertunangan ini terjalin? Maaf karena saya benar-benar tidak tahu akan hal ini." tanya Albert antusias karena ternyata rekan bisnis yang ada di depannya kelak akan menjadi bagian dari keluarganya.
"Baru sekitar dua bulan yang lalu kami bersepakat untuk saling menjodohkan anak kami. Tuan Dyger dan aku sebenarnya adalah sahabat lama." jawab Wilbert tersenyum.
"Oh, kalau begitu sebentar lagi kita akan menjadi keluarga." kata Albert.
"Wah, tidak kusangka." saut Keyla memasang wajah takjub karena idolanya akan menjadi saudara iparnya.
"Jadi bagaimana dengan magangnya?" tanya Keyla kembali pada topik utama.
"Tentu saja kau boleh magang di QL Group adik ipar. Oh iya, jurusan apa yang kau ambil?" tanya Albert yang kini memakai bahasa yang lebih santai pada Keyla.
"Saya mengambil program Magister Ekonomi Bisnis." jawab Keyla.
"Karina, tolong kau atur posisi magang untuk nona Keyla." perintah Albert pada sekretarisnya.
"Baik, bos." jawab Karina tersenyum ke arah Keyla.
__ADS_1
"Kau bisa menunggu kabar dari sekretarisku nanti, adik ipar." kata Albert.
"Terima kasih." kata Keyla dengan wajah gembiranya.
"Sama-sama."
"Kau sendiri bagaimana, Albert? Apakah sudah memiliki seseorang? Kalau belum aku bisa mengenalkanmu dengan keponakanku. Dia cantik dan elegan." kata Wilbert.
"Terima kasih, tuan. Tapi tidak perlu. Aku sendiri sedang merencanakan pernikahan dengan orang yang kucintai." kata Albert menolak.
"Siapakah wanita beruntung itu?" tanya Wilbert penasaran.
"Hahaha, akulah yang beruntung memilikinya dan putra kami." jawab Albert dengan santai membuat satu keluarga di depannya memandangnya heran karena tidak tahu menahu tentang keberadaan Sena dan Alnorld.
"Putra?" tanya Wilbert ragu-ragu.
"Oh, maaf. Sebenarnya kami memiliki masa lalu yang buruk. Kami memiliki putra dan baru sekarang Tuhan mau mempersatukan kami." kata Albert menjelaskan dengan bahagia. Baginya, tidak ada yang perlu ia tutupi perihal keberadaan Sena dan Alnorld. Karena baginya kedua insan itu adalah hal berharga yang ada di hidupnya.
"Akan ku tunggu undangan darimu, Albert." kata Wilbert kemudian tersenyum tulus.
"Tentu saja, tuan." kata Albert menimpali.
Hari-hari pun berganti, tidak terasa sudah empat hari Sena melakukan semua hal sendirian. Biasanya, apapun yang dilakukan oleh Sena selalu ada Albert di sampingnya. Sena begitu merindukan Albert, kehadiran Albert yang hampir empat bulan menemani Sena selama masa treatment membuat wanita itu menjadi terbiasa. Dan sialnya, di saat rindunya menggebu Albert tidak sekalipun menghubunginya.
"Awas saja kalau kau kembali. Aku akan memberimu pelajaran." gerutu Sena sembari berjalan menyusuri koridor. Sena tidak menyadari bila sedari tadi, ada sepasang mata yang terus menatapnya.
ceklek,
"Hemm, sudah dapat." jawab Sena singkat.
"Sebenarnya kau tak perlu repot mencarinya sendiri. Papi bisa menyuruh anak buah papi untuk mencarikannya untukmu."
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang ingin banyak bergerak."
"Albert belum menghubungimu?" tanya Laurence menebak.
"Biarkan saja. Biarkan dia terus disana dan tidak usah kembali. Aku benci padanya." jawab Sena ketus.
Laurence hanya tersenyum kecil mendengar celotehan sebal putrinya. Sena terus menggerutu merutuki dan mengutuk Albert dengan geram. Sampai tak sengaja pandangannya tertuju pada sebuah balon yang tersangkut di pot bunga yang berada di balkon kamar rawat Laurence. Sena pun berjalan keluar hendak membebaskan balon yang tersangkut. Baru saja tangannya terulur, tiba-tiba pupuhan balon bergerombol naik ke atas membuat Sena kaget sekaligus takjub dengan yang ia lihat.
"I LOVE YOU S.L." ucap Sena membaca pelan sebuah kata yang terdapat di salah satu balon dan mengernyitkan dahinya.
"S.L. Sena Laurenchia? itu aku." gumam Sena kemudian melihat ke bawah balkon. Dan yang ia dapati adalah seorang pria tampan yang selama empat hari ini membuatnya kesal.
"SENA LAURENCHIA, I LOVE YOU!!!" teriak Albert sembari membentuk tanda hati dengan kedua tangannya di atas kepala. Sena pun terkekeh geli dengan kelakuan ayah satu anak itu kemudian dengan cueknya masuk kembali ke dalam kamar.
"Kau senang, heh?" goda Laurence yang melihat Sena tersenyum cerah.
"Berhenti mengejekku, pi."
__ADS_1
Tak lama kemudian,
ceklek,
"Kenapa kau masuk tanpa membalas pernyataan cintaku?" tanya Albert begitu sampai di kamar rawat Laurence dengan nafas terputus-putus karena berlari.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalimu." tanya Sena dengan memasang wajah seolah-olah tidak mengenali Albert. Albert yang geram pun berjalan cepat ke arah Sena dan menangkup pipi Sena dengan kedua tangannya.
"Kau mau bermain-main denganku?" kata Albert hendak mencium bibir Sena.
"Albert." cegah Sena sembari menunjuk sang papi yang asyik menonton keduanya.
"Paman, kumohon." kata Albert dengan wajah memelas.
"Baiklah, lakukan dengan cepat." kata Laurence kemudian menutup wajahnya dengan buku yang ada di tangannya dan dengan cepat Albert mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Sena.
cup
"I miss you."
"Miss you too."
#############
Pelakor? Mana pelakor?
Duh, author jadi seneng sekaligus gemes sama komentarnya readers.
hehehe
😂😂😂
Salah nebak ya?
Cie salah nebak.
Keyla itu gadis polos lho, gadis polos yang jatuh cinta pada William pada pandangan pertama.
Kenapa author menghadirkan Keyla?
Biar nanti kalau pas William muncul di novel ini lagi, nasibnya gak jadi ngenes-ngenes amat gitu lhoh.
Dah ya, jangan salah paham.
I love you, readers...
Jangan lupa VOTE novel ini, biar author lebih semangat nulisnya.
See you, next chapter.
__ADS_1