
Dengan di bantu oleh security apartement, Aurelie membawa koper Antonio ke unitnya. Sebelumnya ia sudah meminta tolong supir taksi untuk mengantarkan barang-barangnya ke rumah dan hanya mengambil satu stel baju ganti untuknya.
Aurelie tahu jika ia lancang telah masuk ke tempat tinggal Antonio tanpa ijin. Tapi bagaimanapun menurutnya apa yang ia lakukan ini adalah yang terbaik. Masalah jika Antonio marah akan ia pikirkan nanti.
Ia membuka barang belanjaannya, dan saat ini ia berniat untuk membuat sup kacang merah dengan daging sapi. Karena kata ibunya, kedua bahan makanan itu cukup baik untuk di konsumsi sehabis mendonorkan darah.
Tak butuh waktu lama bagi Aurelie untuk memasaknya. Beruntung ia membeli termos sup saat di supermarket. Karena benar saja, apartemen laki-laki ini tidak memiliki banyak peralatan dapur yang bisa dipakai.
Setelah mandi, berganti pakaian dan menyiapkan baju ganti untuk Albert dan juga supnya. Aurelie pun kembali ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit,
tok
tok
tok
Aurelie membuka pintu ruangan dengan pelan, dilihatnya pak Presdir sedang duduk di sisi ranjang memegang tangan Ny. Stevanie. Sedangkan Albert tertidur di atas sofa.
"Permisi, pak." sapa Aurelie pada pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Kau?"
"Saya Aurelie, asisten pak Antonio. Saya kemari mengantarkan baju ganti dan makanan. Anda pasti juga belum makan, jadi sebelum kesini saya mampir ke restoran."
"Oh, terima kasih. Saya akan membawa makanannya ke meja, pak."
Aurelie meletakkan barang bawaannya di atas meja. Dan dengan pelan membangunkan Antonio.
"Pak, bangun. Anda harus ganti baju dan makan."
Dengan beberapa kali tepukan dari Aurelie di lengannya, Antonio pun terbangun. Dengan sungkan ia mendudukkan dirinya dan menatap Aurelie yang sudah di depannya.
__ADS_1
Aurelie tersenyum, kemudian memberikan tas berisi baju ganti untuk Antonio.
"Mandi dan ganti bajulah. Setelah itu makan, aku sudah membuatkan sesuatu yang sehat untukmu." kata Aurelie pelan agar tidak di dengar oleh pak Presdir.
Antonio menuruti perintah Aurelie dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah melihat Antonio masuk ke dalam kamar mandi, Aurelie merapikan sofa dan meja kemudian menyiapkan makan siang yang ia bawa untuk pak Presdir dan juga Antonio.
Aurelie berjalan menghampiri pak Presdir lagi, dan mempersilakannya untuk makan.
"Pak, makanan sudah siap. Silakan anda makan terlebih dahulu. Anda juga harus menjaga kesehatan agar bisa menjaga nyonya."
"Baiklah," pak Presdir pun beranjak dan pindah ke sofa yang di depannya sudah tersaji beberapa menu makanan yang Aurelie bawa.
Pintu ruangan terbuka, menampakkan seorang suster dengan sebuah baskom dan waslap. Aurelie menerima itu dan membawanya ke atas nakas dekat ranjang pesakitan Ny. Stevanie.
"Ah, tadi aku meminta itu untuk mengelap wajah dan tangan istriku."
"Boleh saya yang melakukannya?"
"Emmm,"
Antonio keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Ia turut duduk di sofa menemani sang ayah.
"Asistenmu cukup cekatan." kata pak Presdir sambil menunjuk Aurelie dengan dagunya.
"Untuk hal itu, dia yang terbaik."
Antonio menatap makanan di depannya dan mengambil sebuah termos sup yang masih tertutup.
"Ini apa?" tanya Antonio.
"Oh, itu sup kacang merah. Anda baru saja mendonorkan darah. Dan saya dengar, kalau makanan itu baik untuk dikonsumsi setelah mendonorkan darah." jawab Aurelie tersenyum.
"Jadi dia memasak ini sendiri untukku," kata Antonio dalam hati. Ia tersenyum membuka termos itu dan mulai mencicipinya.
__ADS_1
Pak Presdir memperhatikan raut muka putranya yang terlihat bahagia, dan mulai mengingat perkataan istrinya tempo hari. Tentang Antonio yang sedang menyukai asistennya. Dan kini, ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana putranya menyukai asistennya yang bernama Aurelie.
Setelah makan, pak Presdir mengajak Antonio untuk berjalan-jalan di taman untuk mencari udara segar. Ia meminta Aurelie untuk menjaga istrinya sebelum pergi, dan dengan senang hati ia pun mengiyakan.
Di taman, pasangan ayah dan anak itu tidak ada yang berbicara. Mereka hanya berjalan beriringan sambil melihat beberapa pasien yang turut mencari udara segar di taman bersama keluarganya.
Pak Presdir berhenti berjalan membuat Antonio juga ikut berhenti. Dan dengan tiba-tiba pak Presdir memeluk putranya dengan erat.
"Apapun yang kau pilih dan yang ingin kau lakukan, papa akan mendukungnya. Kau tahu kan seberapa besar papa menyayangimu? Walau papa bukan ayah kandungmu, kau tidak boleh meragukan kasih sayang papa. Kau putra papa satu-satunya. Papa, mama dan kakak perempuanmu semua menyayangimu. Maafkan papa untu kesalahan yang dulu."
"Pa, maafkan aku juga yang tidak berguna ini. Aku juga sangat menyayangi kalian. Terima kasih karena sudah datang dan membawaku. Orangtuaku pasti akan sangat berterima kasih karena kalian sudah menyayangiku dan menganggapmu sebagai keluarga kalian."
Sore itu, menjadi sebuah cerita baru untuk pasangan ayah dan anak itu. Mereka yang saling acuh walau saling menyayangi. Kini dengan terbuka mengemukakan kasih sayang masing-masing. Kebahagiaan, menghampiri mereka.
.
.
.
.
.
.
.
KALAU ADA YANG BERTANYA-TANYA LAGI, TENTANG ANTONIO PUNYA KAKAK PEREMPUAN? JAWABANNYA PUNYA ! PERNAH AUTHOR BAHAS DI CHAPTER BERAPA GITULAH. KAKAK PEREMPUAN ANTONIO ADALAH ANAK KANDUNG PAPA MAMANYA. JADI KALAU DARI SILSILAH, PAPA MAMA ANTONIO SEBENARNYA ADALAH PAMAN DAN BIBI ANTONIO JADI KAKAK PEREMPUAN ANTONIO ITU SEPUPUNYA.
DISINI SUDAH JELAS KAN, SEMUANYA?
BESOK, AUTHOR BAKAL CERITAIN KENAPA ORTU ANTONIO MENINGGAL.
BYE-BYE, SEGINI DULU UPNYA YAA.
__ADS_1
SEE YOU.
😘😘😘