Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 139 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Setelah menyelesaikan salah satu dokumen di mejanya, Antonio bergegas keluar dari kantornya untuk menemui Presdir yang tidak lain adalah ayahnya.


Tanpa perlu mengetuk pintu, asisten Presdir sudah sigap membukakan pintu untuknya.


"Kau sudah datang? Duduklah dulu. Ayah akan menyelesaikan yang satu ini. Ruly, suruh orang untuk mengantarkan kopi kesini."


"Baik Presdir, kalau begitu saya permisi."


Antonio menunggu sang ayah dengan memainkan game di handphonenya. Bermain game adalah salah satu cara untuk seorang Antonio memecah rasa bosan. Tidak lama kemudian sekretaris ayahnya masuk dengan dua cangkir kopi dan meletakkannya di depan Antonio.


Begitu menyelesaikan pekerjaannya, sang ayah pun beranjak dari kursi kerjanya dan duduk di sofa dekat Antonio.


"Ada apa ayah menyuruhku kemari?" tanya Antonio kemudian menyesap kopi di tangannya.


"Ayah ingin pensiun."


Jawaban sang ayah membuat Antonio hampir tersedak dibuatnya.


"Untuk apa pensiun? Ayah masih bugar dan sehat."


"Ayah ingin beristirahat dan menemani ibumu di Paris. Kau fikir enak jauh dari istri? Kau tidak akan mengerti karena kau masih bujangan, nak."


"Alasan yang konyol. Ayah tidak boleh pensiun karena aku belum ingin menggantikan ayah."


"Tidak bisa, ayah sudah menjadwalkan rapat pemegang saham untuk mengajukan pensiun dan mengangkatmu sebagai Presdir."


"AYAH!!!"


"Oh iya, umurmu sudah dewasa. Apakah kau tidak ingin menikah? Ayah bisa mengenalkanmu dengan anak perempuan teman-teman ayah."


Antonio tidak mau lagi menjawab pertanyaan sang ayah. Ia langsung beranjak dan pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


"Hah, anak itu. Lagi-lagi marah dengan ayahnya yang sudah tua ini."


Antonio berjalan cepat kembali ke ruangannya, hentakan kakinya terdengar sangat kuat seolah emosi yang ia rasakan kini sangat membebaninya.


"Suka seenaknya mengambil keputusan sendiri. Coba kita lihat, aku akan membuatnya tidak bisa pensiun sampai sisa umurnya." gerutu Antonio.


Antonio menyandarkan kepalanya sejenak di kursi kebesarannya kemudian mengambil nafas panjang. Setelah merasa emosinya surut, ia pun kembali memeriksa dokumen yang masih menumpuk di atas mejanya.


***


Tak terasa jam pulang kerja sudah di depan mata. Aurelie sudah menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Dan kini ia sedang bersiap untuk menemui Antonio.


"Tumben kau berdandan saat pulang kerja, Aurelie. Apakah mau bertemu seseorang?" kata Bu Julie menggoda.


"Ah, tidak. B bukan begitu. Aku hanya memoles sedikit lipstik agar tidak terlihat pucat. Karena ibuku sudah pulang ke rumah, aku takut ia akan khawatir jika melihatku pucat sepulang kerja." kata Aurelie berbohong.


Vino menatap Aurelie dengan pandangan tak suka. Ia sangat tahu gerak gerik seseorang yang berbohong. Dan ia sangat yakin bila sekarang ini Aurelie tengah berbohong.


"Siapa yang mau dia temui?" tanya Vino dalam hati.


***


Antonio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran XX tempat dimana ia membuat janji temu dengan Aurelie.


Antonio sampai terlebih dahulu di restoran XX, ia memilih meja yang jauh dari keramaian agar ia dan Aurelie bisa berbicara dengan lebih santai. Sejujurnya, ia hanya tidak ingin gadis kecil itu merasa tidak nyaman bila duduk di keramaian.


Aurelie berlari dari halte menuju restoran XX, ia salah menghitung waktu. Ia lupa jika di jam-jam ini jalanan akan penuh dan bis pun akan sangat ramai dengan para pekerja yang pulang. Berkali-kali ia melihat jam di tangannya. Ia semakin cemas karena jam sudah menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit. Ia terlambat, dan ia merasa sangat buruk sekali saat ini karena ia yang mengajak Antonio bertemu lebih dulu.


Aurelie mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum memasuki restoran. Dengan sedikit tidak percaya diri ia pun melangkahkan kakinya ke dalam.


"Ada yang bisa saya bantu, nona?"

__ADS_1


"Tolong, meja atas nama Tuan Antonio Lefrand."


"Baik, sebelah sini. Silakan ikuti saya." seorang waiters mengantarkan Aurelie ke meja dimana Antonio sudah memesannya.


Aurelie tampak kagum dengan interior restoran yang baru pertama kali ia masuki ini. Semuanya tampak mewah, bahkan seragam yang dikenakan para pegawainya pun tampak berkelas.


"Silakan, nona. Itu meja tuan Antonio."


"Terima kasih,"


Aurelie menghampiri Antonio dengan langkah lambat. Ia sedang berusaha memikirkan kalimat yang cocok untuk meminta maaf pada Antonio atas keterlambatannya.


"Tuan, maaf saya terlambat." kata Aurelie menunduk.


"Duduklah," perintah Antonio.


Setelah Aurelie duduk, Antonio segera memberi isyarat pada salah seorang pelayan bahwa ia siap untuk memesan.


Si pelayan pun segera datang dan menyerahkan buku menu pada Antonio dan Aurelie. Aurelie menerima buku menu itu dengan ragu-ragu. Ia membuka dan melihat rentetan menu tanpa disertai harganya. Aurelie menelan ludah, tanpa melihat harganya ia sudah yakin bahwa makanan di restoran semewah ini tidak mungkin kurang dari 50 dollar Singapura. Untuk mencari aman ia pun berencana untuk memesan segelas minuman saja.


"Itu, saya mau honey lemon tea." kata Aurelie dengan suara pelan.


"Kau tidak memesan makanan?" tanya Antonio begitu melihat gelagat Aurelie.


"Tidak, tuan. Saya masih merasa kenyang."


Kkrrruuuuukkk


Suara perut Aurelie berbunyi begitu ia berkata kenyang. Membuat pelayan yang masih disana berusaha menahan tawanya.


"Berikan kami dua porsi sirloin steak dengan masroom sauce dan dua honey lemon tea." kata Antonio yang langsung di catat oleh si pelayan.

__ADS_1


"T tapi, saya tidak......"


"Sudah, aku yang akan membayarnya karena aku yang memesan."


__ADS_2